KASUS LEPTOSPIROSIS BANTUL : 2015, Ada 8 Pasien, 1 Orang Tewas

Bhekti Suryani
Bhekti Suryani Jum'at, 13 Februari 2015 19:20 WIB
KASUS LEPTOSPIROSIS BANTUL : 2015, Ada 8 Pasien, 1 Orang Tewas

Ilustrasi (JIBI/Harian Jogja/Reuters)

Kasus leptospirosis Bantul mengakibatkan delapan orang sakit dan satu orang meninggal.

Harianjogja.com, BANTUL- Penyakit leptospirosis hingga saat ini masih mengancam. Satu warga Bantul diduga telah tewas akibat penyakit yang disebabkan oleh kencing tikus itu.

Kepala Seksi (Kasi) Surveilance Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul Widayati mengatakan sepanjang Januari hingga pertengahan Februari ini tercatat sebanyak delapan kasus leptospirosis. Satu pasien diantaranya meninggal dunia, diduga karena terjangkit bakteri leptospira yang ada di air kencing tikus. Pasien tersebut merupakan warga Kecamatan Sewon, Bantul.

"Satu orang itu masih dugaan dia meninggal karena leptospirosis. Masih menunggu hasil audit untuk membuktikan dugaan itu," terang Widayati, Kamis (12/2/2015).

Ancaman leptospirosis semakin besar bertepatan dengan musim hujan saat ini. Sebab air kencing tikus yang mengandung bakteri leptospira akan mudah menyebar karena terbawa genangan air. Luka yang terbuka pada bagian tubuh manusia menjadi area paling riskan terpapar bakteri leptospira.

Catatan media ini, leptospirosis telah menyebabkan enam korban meninggal dunia pada tahun lalu. Dari total 74 kasus yang ditemukan sepanjang Januari hingga November 2014. Kasus kematian akibat leptospirosis juga ditemukan pada 2012 sebanyak satu korban jiwa dari total 48 kejadian. Sedangkan pada 2013 tercatat sebanyak 74 kejadian dengan kematian nihil.

Terpisah, Humas Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Panembahan Senopati Bantul Pambudi mengatakan, sepanjang Januari hingga Februari ini, ada enam pasien leptospirosis yang dirawat di RSUD. "Diantaranya warga Sewon, Pandak dan Sedayu," ujarnya.

Kendati demikian ia memastikan seluruh pasien dapat sembuh tanpa ada yang meninggal dunia. Pasien dengan gejala leptospirosis biasanya mengalami demam tinggi dan mata kekuningan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Artikel Penulis