Tertib Arsip Persempit Celah Penyimpangan Anggaran
Pengelolaan arsip yang tertib dan autentik dinilai menjadi salah satu langkah penting untuk mempersempit celah penyimpangan anggaran di lingkungan pemerintahan
Ilustrasi tersangka pelaku tindak kejahatan. (JIBI/Harian Jogja/Reuters)
Kasus narkoba Jogja terungkap dengan ditangkapnya 12 orang tersangka dalam kurun waktu satu bulan. Salah satu tersangka adalah aktivis mapala
Harianjogja.com, JOGJA-Satuan Khusus Pemberantasan Narkoba Polresta Jogja menangkap 12 tersangka penyalahgunaan narkoba selama 4 April-3 Mei, lalu. Dari 12 tersangka, tiga tersangka di antaranya adalah mahasiswa perguruan tinggi swasta di Jogja.
Para tersangka masing-masing berinisial BD, 32; RD, 19; FN, 21; SA, 31; SA, 31, MN, 29; BW, 25; YU, 30, AA, 27; HD, 24; DS, 27; dan AW, 41.
"Semua tersangka yang kami tangkap terdiri dari empat kelompok penyalahgunaan narkotika jenis sabu-sabu dan ganja," kata Kepala Satuan Reserse Narkoba Polresta Jogja, Komisaris Polisi Topo Subroto dalam keterangannya kepada wartawan di Markas Polresta Jogja, Senin (11/5/2015).
Topo mengungkapkan, tersangka pertama yang ditangkap berinisial BD, 32, warga Magelang, Jawa Tengah. BD ditangkap pada Sabtu (4/4/2015) dini hari lalu, sekitar pukul 00.30 WIB di Jalan Magelang, Mlati, Sleman. Dari tangan tersangka polisi menemukan satu bungkus plastik isi sabu-sabu seberat 0,8 gram.
Menurut Topo, dari hasil pemeriksaan, BD sudah meletakkan sabu-sabu sesuai pesanan di 11 lokasi di wilayah Magelang. Untuk mengelabuhi polisi, sabu-sabu dimasukkan dalam bungkus plastik, kemudian di bungkus kembali dengan semen sebesar telur ayam.
BD mendapatkan sabu-sabu dari seseorang (masih dalam pengejaran polisi) di wilayah Kartasuro. "Setiap mengantarkan sabu-sabu ke alamat sesuai yang dipesan BD mendapatkan upah Rp30-50 ribu," papar Topo.
Topo melanjutkan, pada Rabu (6/4/2015) malam, polisi menangkap RD, 19, mahasiswa yang indekos di wilayah Depok, Sleman. Dari RD polisi menyita barang bukti ganja 12, 6 gram.
Dua hari kemudian, polisi kembali menangkap lima tersangka yang masih dalam satu kelompok peredaran ganja, yakni SA, MN, AA, VN, dan YU. Penangkapan itu dilakukan di rumah SA di wilayah Banguntapan, Bantul. Mereka memperoleh ganja dengan cara patungan. Dari kelima tersangka, polisi menyita ganja 6,4 gram berikut enam pohon ganja yang ditanam di dalam rumah SA.
Sementara FN ditangkap saat belanja di Indomaret di wilayah Ngabean, Ngampilan, Jogja, Rabu (15/4/2015), berikut barang bukti ganja 0,2 gram. Dari keterangan FN pula, polisi menangkap DS, AW, dan HD di wilayah Kotagede Jogja pada 3 Mei lalu, dengan barang bukti 93,4 gram ganja.
Kasi Humas Polresta Jogja AKP Partuti Wijayanti menyatakan, untuk tiga mahasiswa yang ditangkap merupakan mahasiswa perguruan tinggi swasta di Jogja, satu di antaranya adalah aktivis pecinta alam (Mapala).
Partuti menegaskan, Satuan Tugas Khusus Pemberantasan Narkoba terus berupaya melacak jaringan peredaran narkoba di Jogja melalui keterangan tersangka dan berbagai informasi dari masyarakat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pengelolaan arsip yang tertib dan autentik dinilai menjadi salah satu langkah penting untuk mempersempit celah penyimpangan anggaran di lingkungan pemerintahan
Kemenhub memproses 35 izin khusus pesawat registrasi asing untuk mendukung pemadaman karhutla dengan tetap mengutamakan keselamatan penerbangan.
Gempa M4,0 kembali mengguncang NTT pada 23 Agustus 2026. BNPB mencatat 53.971 rumah rusak akibat rangkaian gempa sejak 15 Agustus.
BMKG mendeteksi 696 hotspot di Kalsel pada 23 Agustus 2026. Sebanyak 29 titik masuk kategori tinggi dan risiko karhutla didominasi indikator tinggi.
Bantul memiliki indeks risiko bencana 96,02 dengan kelas sedang. Risiko gempa bumi tercatat tinggi berdasarkan IRBI 2025.
Studi 1.350 pengemudi di Inggris mengungkap fitur mobil yang jarang digunakan. Bluetooth justru menjadi teknologi yang paling sering dipakai.