Top 7 News Harianjogja.com Rabu 13 September 2023
Selamat pagi, semangat menjalani hari. Izin kirim kabar dari Bumi Mataram Ngayogyakarta Hadiningrat, heritage-nya Indonesia, rumahnya start up.
Ilustrasi layanan BPJS (JIBI/Dok)
BPJS Kesehatan di RSUD Sleman mengalami penurunan jumlah pasien.
Harianjogja.com, SLEMAN-Jumlah pasien BPJS Kesehatan di RSUD Sleman semakin menurun. Hal ini disebabkan sistem rujukan berjenjang BPJS yang sudah mulai efektif berjalan.
Direktur RSUD Sleman Joko Hastaryo mengungkapkan perbedaan kunjungan pasien BPJS tahun ini dengan tahun lalu. Tahun 2014, kunjungan pasien mencapai 125.000 pasien. Melebihi angka yang ditargetkan RSUD sebanyak 95.000.
"Tahun ini kunjungan hariannya sekitar 200 hingga 300 pasien," kata dia, Kamis (30/7/2015).
Jika dikalkulasikan, perkiraan kunjungan 2015 hanya 108.000 pasien BPJS, menurun dari tahun sebelumnya sebanyak 125.000.
Sebelum ada sistem rujukan berjenjang, banyak pasien yang langsung memeriksakan diri ke RSUD. Pasien diperbolehkan berobat tanpa harus ke puskesmas terlebih dulu. Namun saat ini, pengguna BPJS harus berobat ke puskesmas sebelum ke RSUD.
"Dulu aturan dalam BPJS belum ketat. Sekarang persalinan kalau normal harus ditangani di puskesmas saja," lanjut Joko.
Pihaknya menjelaskan, klaim BPJS Kesehatan RSUD Sleman setiap bulannya mencapai tiga sampai Rp3,5 miliar. Pada saat padat pengunjung, klaim yang dicairkan oleh RSUD Sleman bisa mencapai Rp4 miliar. Kebanyakan pasien BPJS berobat untuk penyakit diabetes dan hipertensi. "Diabetes dan hipertensi hampir sama. Sama-sama di angka 15 persen tapi lebih besar diabetes sedikit," kata dia.
Namun sejak adanya BPJS Kesehatan, masyarakat yang merasa memiliki benjolan dalam anggota tubuhnya banyak yang memanfaatkan BPJS Kesehatan untuk memeriksakan.
Salah satu peserta BPJS Kesehatan yang tinggal di Kalasan Atiek, 30, mengungkapkan bahwa ia memang jarang berobat ke RSUD Morangan. Selain karena lokasinya jauh, pemeriksaan juga sudah dapat dicover oleh puskesmas dekat tempat tinggalnya, yakni Puskesmas Kalasan. Hal itu sesuai dengan rujukan pertama keluarga dalam BPJS. "Karena faskesnya juga ke situ [Puskesmas Kalasan]," katanya.
Ia kerap menggunakan layanan BPJS Kesehatan untuk memeriksakan gigi, memeriksakan anaknya di poliklinik anak dan telinga hitung tenggorokan (THT).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Selamat pagi, semangat menjalani hari. Izin kirim kabar dari Bumi Mataram Ngayogyakarta Hadiningrat, heritage-nya Indonesia, rumahnya start up.
Polresta Sleman kembali membuka peluang restorative justice dalam kasus Shinta Komala terkait dugaan penggelapan iPhone 14.
Kasus kekerasan seksual santri di Lombok Tengah mengungkap penggunaan aplikasi khusus gay oleh tersangka berinisial YMA.
Transformasi ekonomi DIY dinilai tak bisa dipisahkan dari budaya lokal yang menjadi fondasi pengembangan ekonomi kreatif Yogyakarta.
Satpol PP Solo meminta pedagang olahan daging anjing beralih usaha sesuai Perda Tertib Pangan Kota Solo 2025.
Lima WNI dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0 dilaporkan ditahan Israel di perairan Siprus.