Kamu Lulusan SMA/SMK dan Ingin Kerja di Dunia Penerbangan? Ada Info Menarik nih!
Saat ini Super Air Jet sedang memberikan peluang menarik untukmu untuk bergabung menjadi Super Crew di dunia penerbangan.
Sejumlah wisatawan mengunjungi Monumen Perjuangan Taruna di Dusun Plataran, Desa Selomartani, Kecamatan Kalasan, belum lama ini. (JIBI/Harian Jogja/Bernadheta Dian Saraswati)
Wisata Sleman berupa Menumen Plataran memiliki potensi dikembangkan secara luas.
Harianjogja.com, SLEMAN-Monumen Perjuangan Taruna atau yang lebih dikenal dengan Monumen Plataran seakan belum banyak dikenal masyarakat Jogja, khususnya Sleman. Padahal menurut aparat setempat, monumen ini memiliki potensi besar untuk ditetapkan sebagai destinasi wisata.
Camat Kalasan Samsul Bahri mengatakan, monumen yang berlokasi di di Dusun Plataran, Desa Selomartani, Kecamatan Kalasan itu menyimpan sejarah perjuangan kemerdekaan. Di situ taruna militer gugur tertembak tentara Belanda saat masa perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Namun meski sudah berpuluh tahun berdiri, monumen ini seakan tidak mendapat perhatian masyarakat. Hanya warga setempat saja yang memanfaatkannya sebagai ruang berkumpul. Seperti belum lama ini dilaksanakan upacara Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI) di kawasan monumen tersebut.
Samsul mengatakan, jika monumen ini berdiri sendiri akan kesulitan untuk diangkat menjadi destinasi wisata. Perlu diintegrasikan dengan objek lain. "Rencananya di daerah situ akan dibangun embung supaya nanti bersinergi antara monumen dengan embung. Prosesnya sudah diajukan ke Pemkab [Pemerintah Kabupaten] Sleman," jelas Samsul, belum lama ini.
Jika perlu, lanjutnya, dapat diintegrasikan dengan objek wisata di Kecamatan Kalasan. Seperti Candi Sambisari, Candi Kalasan, Candi Sari, dan Candi Kedulan.
Selama ini keberadaan Monumen Plataran memang belum mendapat perhatian khusus dari Pemkab Sleman. Salah satu warga, Nurih Huda, mengapresiasi rencana Camat Kalasan yang akan mensinergikan Monumen Plataran dengan objek wisata lain. "Bagus karena bisa mengangkat perekonomian masyarakatnya," kata dia.
Sementara itu Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sleman AA Ayu Laksmi Dewi juga mengungkapkan hal yang sama. Monumen Plataran tak bisa berdiri sendiri namun harus terintegrasi dengan objek wisata lain. Tidak hanya objek wisata yang sudah dikenal tapi juga dengan potensi desa dan masyarakat setempat. "Hanya monumen saja kurang menarik. Perlu diintegrasikan dengan potensi lain di sekitarnya," tegasnya.
Masyarakat di Desa Selomartani pada umumnya dan Dusun Plataran pada khususnya harus bisa mendukung dengan memunculkan potensinya yang khas agar terbentuk konsep pariwisata berbasis pemberdayaan masyarakat.
Untuk menjadi objek wisata tidak hanya membutuhkan bangunan fisik. Diperlukan nilai sejarah, keindahan lokasi sekitar monumen, dan nilai daerah sekitar sebagai daya tarik wisatawan. "Kita akan cek lagi apakah [Monumen] Plataran sudah memenuhi itu belum," tandasnya. Menurutnya semua objek wisata harus memenuhi kriteria tersebut agar semakin menambah nilai wisata.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Saat ini Super Air Jet sedang memberikan peluang menarik untukmu untuk bergabung menjadi Super Crew di dunia penerbangan.
BYD Atto 3 generasi ketiga resmi meluncur dengan RWD, cas 5 menit hingga 70 persen, dan jarak tempuh sampai 630 km.
Pemerintah memastikan pemulangan sembilan WNI relawan Gaza usai dibebaskan dari penahanan Israel dan tiba di Turkiye.
Alex Marquez resmi absen di MotoGP Italia dan Hungaria 2026 usai mengalami cedera patah tulang selangka dan vertebra saat balapan di Catalunya.
Cristiano Ronaldo membawa Al Nassr juara Liga Arab Saudi usai mencetak dua gol saat menang 4-1 atas Damac.
Sultan HB X ingin RTH eks Parkir ABA Jogja jadi taman bunga nyaman, bukan hutan kota. Penataan dimulai dengan anggaran 2026.