Rumah Penyimpan Ratusan Botol Miras di Semarang Terbakar
Rumah dua lantai di Mangkang, Semarang, terbakar. Ratusan botol minuman beralkohol yang disimpan untuk memasok karaoke ikut hangus.
JIBI/Solopos/Burhan Aris Nugraha Pekerja menyelesaikan sablon pesanan pembuatan bendera Parpol di Kampung Batik Laweyan, Solo, Selasa (28/1). Menurut pemilik usaha sablon pesanan pembuatan atribut partai seperti bendera dan kaos mengalami penurunan 60% dibanding Pemilu sebelumnya, yang kemungkinan disebabkan banyak yang beralih menggunakan MMT serta para Caleg yang terbatas.
Pilkada 2010, KPU juga dituding sebagai biang tingginya angka golput di Sleman, Bantul, dan Gunungkidul.
Harianjogja.com, JOGJA—Kekhawatiran tingginya angka golongan putih (golput) pada pilkada di tiga kabupaten di DIY yang akan dihelat pada 9 Desember 2015 mencuat. Musababnya, komisi pemilihan umum (KPU) di tiga daerah tersebut dianggap lamban menyosialisasikan pilkada.
Hampir semua pasangan calon (paslon) mengeluhkan cara KPU dalam mengelola pilkada. Yuni Satia Rahayu dan Danang Wicaksana, paslon kepala daerah Sleman, mengatakan sosialisasai oleh KPU mengecewakan.
“Yang dilakukan KPU sangat standar dengan hasil yang kurang memuaskan,” kata Yuni pekan lalu
Menurutnya sosialisasi yang kurang dikhawatirkan mengurangi angka partisipasi pemilih. Yuni ingin KPU menambah alat peraga kampanye (APK) dan meningkatkan sosialisasi di masyarakat. Di Sleman, daftar pemilih sementara (DPS) sebanyak 798.525 pemilih. Sementara, pada pilkada terdahulu, partisipasi pemilih di Sleman hanya 68,5%.
Pasangan Sri Purnomo-Sri Muslimatun juga mengungkapkan kerisauan serupa. Sri Purnomo mengatakan KPU kurang maksimal dalam memasang APK. Menurutnya, alat peraga masih terlalu sedikit.
“Jumlah baliho hanya lima tempat di seluruh wilayah di Sleman. Itu masih terasa kurang,” ujar dia.
Dia juga menyoroti APK yang hilang namun tidak segera diganti. Hal ini merugikan paslon karena APK jadi media sosialisasi. Ia juga meminta KPU semakin memaksimalkan kerja tim atau jaringan.
PPK sebagai perpanjangan tangan KPU di tingkat kecamatan juga menyadari belum maksimalnya sosialisasi yang dilakukan. Ketua PPK Moyudan, Agus Cahyana, berdalih sosialisasi belum maksimal karena jadwal pertemuan di masyarakat berbarengan.
“Kami menyadari, ada sebagian masyarakat yang belum tersentuh informasi [Pilkada] tersebut dan itu menjadi tanggung jawab kami. Saya sebagai Ketua PPK minta maaf hal tersebut terjadi,” kata Agus.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Rumah dua lantai di Mangkang, Semarang, terbakar. Ratusan botol minuman beralkohol yang disimpan untuk memasok karaoke ikut hangus.
Cek jadwal KRL Jogja–Solo dari Tugu ke Palur. Simak jam keberangkatan lengkap dan imbauan penumpang.
Jadwal lengkap KRL Solo–Jogja dari Palur hingga Tugu. Simak jam keberangkatan terbaru dan imbauan KAI.
Vietnam mempertahankan gelar Piala AFF 2026 setelah bermain imbang 2-2 melawan Thailand dan menang agregat 4-2 di final.
APBD Perubahan Kulonprogo 2026 mengalokasikan Rp8 miliar untuk Bank BPD DIY dan Bank Kulonprogo, tetapi dasar hukumnya disorot DPRD.
Bhutan dinobatkan sebagai negara paling tenang di dunia versi Noise-Free Nations Index 2026 dengan skor 89,44. Simak 10 negara paling tenang dan alasannya