Skandal Orang Hilang di Pulau Jeju Picu Kekhawatiran Wisatawan
Skandal dugaan pemalsuan laporan orang hilang di Jeju memicu kekhawatiran wisatawan setelah empat orang ditemukan meninggal dalam tiga hari.
Bisnis/Dwi Prasetya SOSIALISASI BAHASA ISYARAT Warga belajar Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) dibantu relawan dari Gerakan Untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) di Car Free Day Bundaran Hotel Indonesia Jakarta, Minggu (13/4). Kegiatan tersebut merupakan bagian dalam rangka memberikan informasi kepada masyarakat tentang bahasa isyarat yang digunakan bagi para penyandang disabilitas untuk memudahkan dalam berkomunikasi.
Pelayanan disabilitas mengalami kendala di lapangan.
Harianjogja.com, SLEMAN - Satuan Lalu Lintas Polres Sleman meloloskan 37 orang penyandang disabilitas dalam ujian untuk mendapatkan Surat Izin Mengemudi (SIM) D selama 2015. Kemampuan bahasa isyarat, menjadi kendala bagi petugas yang melayani ujian SIM untuk pemohon tuna rungu. (Baca Juga :http://jogja.solopos.com/baca/2015/09/30/perda-disabilitas-kepolisian-siap-fasilitasi-difabel-647337"> PERDA DISABILITAS : Kepolisian Siap Fasilitasi Difabel)
Kanit Regident Satlantas Polres Sleman Ipda Margono mengakui pihaknya terkendala komunikasi dalam memberikan pelayanan SIM D bagi tuna rungu. Hingga saat ini belum ada rencana untuk menambah personel yang menguasai bahasa isyarat. Karena itu bagi tuna rungu direkomendasikan untuk membawa pendamping atau keluarga atau pihak yayasan yang dapat menjadi penerjemah dalam ujian tes SIM D. Pelayanan bagi tuna rungu sebelumnya juga telah diberikan dengan bantuan pendamping.
"Kendalanya memang terutama di tuna rungu, karena harus menggunakan bahasa isyarat," terangnya, Jumat (2/10/2015).
Selain tuna rungu, banyak difabel dalam melakukan ujian SIM, selain didampingi petugas kepolisian, juga didampingi oleh pemandu dari pihak yayasan. Hal itu untuk mengantisipasi kemungkinan terkendala dalam berkomunikasi maupun akses lainnya. "Dari sekian banyak pemohon tidak ada yang komplain berkaitan dengan fasilitas penyelenggaraan ujian SIM D," tegasnya.
Berdasarkan data Januari hingga Mei 2015 pihaknya telah menerbitkan 37 lembar SIM D bagi penyandang disabilitas. Angka itu merupakan saringan dari ratusan pemohon yang mengikuti ujian. Mereka harus melalui prosedur umum seperti ujian SIM pada umumnya. Petugas akan menerbitkkan SIM D bagi pemohon yang dinyatakan lulus dalam ujian. "Sampai bulan Mei kemarin ada sekitar 37 yang lulus ujian SIM untuk penyandang disabilitas. Misal seperti Januari kami menerbitkan 11 SIM," ungkapnya.
Ia menambahkan sebagian besar penyandang disabilitas antusias dalam mengikuti ujian SIM. Dalam ujian praktek memakai motor roda tiga. Kemudian syarat yang membedakan lainnya adalah bagi pemohon difabel harus memakai surat keterangan kesehatan dari Rumah Sakit Khusus.
Pihaknya akan terus meningkatkan pelayanan bagi pemohon SIM D. Terutama berkaitan dengan fasilitas untuk memudahkan dan memberi kenyamanan bagi penyandang disabilitas.
"Rencananya kami akan buat ruang khusus untuk loket dan ujian bagi penyandang disabilitas," kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Skandal dugaan pemalsuan laporan orang hilang di Jeju memicu kekhawatiran wisatawan setelah empat orang ditemukan meninggal dalam tiga hari.
Rusia dan RI masih berdiskusi soal bandar antariksa Biak. Dubes Rusia menegaskan belum ada perjanjian dan membantah isu pangkalan militer.
Kejari Kulonprogo menggandeng BPKP DIY mempercepat penghitungan kerugian negara dalam dugaan korupsi BUMD PT SAK.
Simak 10 cara menjaga fungsi dan kesehatan ginjal, mulai dari pola makan, olahraga, hidrasi, hingga menjaga kualitas tidur.
DPRD DIY mematangkan Perda penanggulangan bencana baru untuk memperkuat pencegahan, mitigasi, peringatan dini, dan ketangguhan masyarakat.
Banjir bandang Nepal dan Tibet menewaskan lebih dari 165 orang dan membuat hampir 1.500 orang hilang, termasuk ratusan warga asing.