Tim Gabungan Berjibaku Padamkan Api di Bromo
Kementerian Kehutanan terus mengintensifkan operasi terpadu untuk mengendalikan kebakaran hutan yang masih terjadi di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semer
Siswa SD Kanisius Kadirojo membatik kain dalam rangka Hari Olah Raga Nasional, Hari Ozon, dan Hari Aksara, Rabu (9/9/2015). (Harian Jogja-Bernadheta Dian Saraswati)
Hari batik nasional, batik Jogja menghadapi serbuan batik printing dan sulitnya mengurus hak paten.
Harianjogja.com, JOGJA—Batik Jogja mendunia, ditandai dengan meningkatnya ekspor. Namun, tantangan bagi eksistensi batik tidak kecil.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Kecil Menengah (Disperindag UKM) DIY, Kadarmanta Baskoro Aji, mengatakan nilai ekspor batik Jogja melonjak. Pada 2014 lalu, nilai ekspor batik US$6,5 juta atau sekitar Rp95,8 miliar.
“Tahun ini sampai Agustus, meningkat hampir dua kali lipat menjadi US$11,6 juta [setara Rp170,9 miliar],” kata Aji seusai pembukaan Festival Jogja Kota Batik Dunia di Pagelaran Kraton, Jumat (2/10/2015).
Sasaran penjualan batik Jogja ke luar negeri meliputi Jerman, Belanda, Thailand, dan Jepang. Sebagian ekspor batik merupakan pakaian jadi yang diminta langsung dari negara luar. Sebagian lainnya inisiatif UKM membuka pintu ekspor.
Di tengah tekanan dolar Amerika Serikat terhadap rupiah, bisnis batik Jogja tak terpengaruh. Alasannya, kata Aji, perajin batik sudah mulai menggunakan bahan baku lokal seperti pewarna alami. Beberapa pewarna alami yang digunakan meliputi daun indigofera, kayu tegeran, kulit jalawe, kakao, cangkang kelapa sawit, rumput laut, dan soga.
Menurutnya, peningkatan ekspor batik Jogja turut dipengaruhi penetapan DIY menjadi Kota Batik Dunia oleh World Craft Council pada Oktober tahun lalu di Dongyan, Tiongkok.
“Meski di DIY belum terlihat gemanya, tapi di luar negeri, Jogja sudah diketahui sebagai pusat batik,” kata dia.
Upaya menggemakan batik di DIY telah dilakukan melalui pelatihan membatik tiap tahun untuk 400 orang. Batik juga menjadi mata pelajaran muatan lokal di sekolah-sekolah, kegiatan ekstrakurikuler batik, lomba membatik, lomba mendesain motif batik khas Jogja. Motif klasik batik Jogja meliputi wahyu temurun, parang (parang rusa, parangresit), truntum, kawung, sidoluhur, sidomukti, semen. Motif itu paling mudah diketahui karena sering dipakai dalam acara-acara adat. Di luar itu banyak motif lainnya hasil inovasi seperti motif teratai, belalang, Gunung Merapi, Tugu, sampai motif Jogja Istimewa.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kementerian Kehutanan terus mengintensifkan operasi terpadu untuk mengendalikan kebakaran hutan yang masih terjadi di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semer
Rusia dan RI masih berdiskusi soal bandar antariksa Biak. Dubes Rusia menegaskan belum ada perjanjian dan membantah isu pangkalan militer.
Kejari Kulonprogo menggandeng BPKP DIY mempercepat penghitungan kerugian negara dalam dugaan korupsi BUMD PT SAK.
Simak 10 cara menjaga fungsi dan kesehatan ginjal, mulai dari pola makan, olahraga, hidrasi, hingga menjaga kualitas tidur.
DPRD DIY mematangkan Perda penanggulangan bencana baru untuk memperkuat pencegahan, mitigasi, peringatan dini, dan ketangguhan masyarakat.
Banjir bandang Nepal dan Tibet menewaskan lebih dari 165 orang dan membuat hampir 1.500 orang hilang, termasuk ratusan warga asing.