LOMBA BURUNG BERKICAU : Daripada Lepas Balon, Lebih Baik Lepas Burung

Senin, 19 Oktober 2015 03:20 WIB
LOMBA BURUNG BERKICAU : Daripada Lepas Balon, Lebih Baik Lepas Burung

Anggota komunitas Solo Cenary Mania (SCM) menggelar pameran burung kicauan jenis Kenari di arena Solo Car Free Day (CFD), Jl. Slamet Riyadi, Solo, Jawa Tengah, Minggu (5/4/2015). Pameran tersebut digelar untuk mengenalkan lebih dalam burung kenari kepada warga Solo. (Ivanovich Aldino/JIBI/Solopos)

Lomba burung berkicau digelar di Jogja

Harianjogja.com, JOGJA-Walikota Jogja Haryadi Suyuti meminta pelepasan balon dalam seremonial diganti dengan pelepasan burung. Permintaan ini bertujuan untuk menjaga keseimbangan ekosistem.

Kendati demikian, ia tidak menampik banyak instansi dan lembaga swasta yang belum mengetahui hal tersebut sehingga pada praktiknya pelepasan balon masih dilakukan dalam seremonial.

“Seperti tadi pagi, ada event yang masih melepaskan balon, mungkin karena belum tahu, saya harap di kemudian hari tidak ada pelepasan balon lagi,” ujarnya saat ditemui pada lomba burung berkicau Walikota Cup di halaman Balaikota Jogja, Minggu (18/10/2015).

Diungkapkannya, imbauan ini bukan berarti ingin mematikan usaha pedagang balon melainkan menempatkan hal sesuai dengan fungsinya. Ia menuturkan, balon tetap digunakan pada event tertentu, misal ulang tahun.

Menurutnya, pelestarian burung perlu dilestarikan bukan hanya untuk penyeimbang lingkungan, melainkan sebagai bentuk klangenan. Dari sisi ekonomis, kata dia, burung juga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui transaksi jual beli penggemar hewan tersebut.

Haryadi mencontohkan, kegiatan lomba burung berkicau yang diadakan dapat menjadi ajang silaturahmi dan mendukung perkembangan burung di masyarakat.

Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Pertanian (Disperindagkoptan) Jogja Suyana menuturkan dalam pelepasan burung untuk seremonial tidak dianjurkan menggunakan burung merpati.

“Merpati tidak bisa survive di alam bebas, jadi lebih baik burung-burung kecil biasa selain merpati,” kata Suyana.

Sekretaris Panitia Lomba Burung Berkicau Nugroho menyebutkan peserta lomba mencapai lebih dari 150 orang yang mendafatarkan burung-burung miliknya.

Dijabarkannya, kegiatan yang baru pertama kali digelar Pemkot ini dibagi dalam tiga kategori, yakni Kelas Walikota dengan tiket Rp100.000, Kelas Pamong Praja harga tiket Rp80.000 dan Kelas Rakyat harga tiket Rp50.000.

“Hadiah yang diperebutkan di tiap kelas pun bervariasi, misalnya untuk Kelas Walikota, juara I Rp 1,2 juta berikut tropi setinggi satu mete dan Kelas Pamong Praja Rp 900.000, dan Kelas Rakyat Rp 600.000,” ucapnya.

Burung yang dilombakan, kata dia, meliputi, kenari, kacer, pleci, murai batu, love bird, dan sebagainya.

Terkait mekanisme lomba, Nugroho memberlakukan sistem non teriak. Artinya, tidak boleh ada suara sama sekali dari pemilik burung. “Pemilik yang bersuara akan kena teguran,” ujarnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online