PERTANIAN KULONPROGO : Kemarau Kurangi Produktivitas Tanaman Semangka
Petani memanen semangka yang dibudidayakan di Dusun I, Desa Bugel, Kecamatan Panjatan, Kulonprogo, Kamis (22/10/2015). (JIBI/Harian Jogja/Rima Sekarani I.N.)
Pertanian Kulonprogo untuk tanaman semangka produksinya turun.
Harianjogja.com, KULONPROGO-Musim kemarau panjang dinilai mempengaruhi produktivitas tanaman semangka di sekitar Desa Bugel, Kecamatan Panjatan, Kulonprogo. Hasil panen diperkirakan turun hingga 30 persen.
Krisnanti, petani semangka di Dusun II, Bugel, mengaku biasanya mampu memanen hingga 10 ton dari lahan seluas setengah hektare. Namun, kali ini mungkin hanya sekitar tujuh ton. Menurut dia, tanaman semangkanya kekurangan air. Akibatnya, ukuran buah menjadi lebih kecil. “Seharusnya bulan-bulan begini sudah ada hujan tapi kan belum,” kata Krisnanti saat panen semangka, Kamis (22/10/2015).
Menurut Krisnanti, semangka memang berkembang baik di tanah yang tidak terlalu basah. Meski demikian, tanah yang terlalu kering juga kurang tepat. Tanaman semangka tetap butuh disiram secara berkala. Hujan dengan intensitas yang rendah juga bisa membantu.
Krisnanti lalu memaparkan, dia berusaha mengakali kekurangan air dengan membuat sistem infus di sekitar tanaman semangka. “Airnya ditahan pakai plastik,” ujar dia.
Krisnanti dan suaminya sudah belasan tahun membudidayakan semangka. Satu tahun bisa panen dua kali. Dia menjual buah tropis itu seharga Rp1.800 hingga Rp2.000 per kilogram. Biasanya, tengkulak akan menjualnya kembali ke Bandung dan Jakarta. “Semangka kuning lebih mahal Rp200 per kilogram dibanding semangka merah,” tutur perempuan berusia 40 tahun it
Petani lainnya, Muhamad Nasuha mengungkapkan baru akan panen semangka pada pekan depan. Warga Dusun I itu mengaku mematok harga Rp1.700 per kilogram bagi pedagang lokal. Bagi pedagang luar daerah, harganya mencapai Rp2.000. “Ini harusnya masih bisa lebih besar lagi,” kata Nasuha
Sementara itu, Agus, salah satu pembeli asal Purworejo, Jawa Tengah mengungkapkan, semangka dari petani dipisahkan menjadi dua kategori, yaitu kualitas A dan B. Kualitas A dibeli dengan harga standar Rp1.800 hingga 2.000 per kilogram, sedangkan harga kualitas B hanya separuhnya.
Selain wilayah Kulonprogo, Agus juga membeli semangka dari petani di Purworejo. Semangka-semangka itu kemudian dibawa ke pasar induk di sejumlah kota besar, seperti Jakarta dan Bandung. “Semangka merah atau kuning sama-sama laris dan banyak permintaan,” ucap Agus.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Share