HARI PAHLAWAN : Pejuang Sampah di Kali Code

Bernadheta Dian Saraswati
Bernadheta Dian Saraswati Senin, 09 November 2015 06:20 WIB
HARI PAHLAWAN : Pejuang Sampah di Kali Code

Anggota Karya Salemba Empat (KSE) melakukan aksi pungut sampah di Kali Code tepatnya di bawah Jembatan Teknik UGM, MInggu (8/11/2015). (JIBI/Harian Jogja/Bernadheta Dian Saraswati)

Hari pahlawan diperingati dengan menjaga lingkungan.

Harianjogja.com, SLEMAN-Hari Pahlawan yang jatuh setiap 10 November tak hanya diperingati para Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI). Di Kali Code, tepatnya di bawah Jembatan Teknik UGM, peringatan hari pahlawan dimaknai puluhan mahasiswa yang menaruh perhatian terhadap lingkungan. Bukan pahlawan perjuangan yang maju perang namun mereka mengatasnamakan diri pahlawan sampah.

Minggu (8/11/2015) pagi sekitar pukul 07.00 WIB, mahasiswa yang tergabung dalam Karya Salemba Empat (KSE), sebuah paguyuban penerima beasiswa salemba tingkat nasional, turun ke Kali Code untuk memunguti sampah-sampah yang terbawa air. Mereka mengumpulkan sampah, memilah sampah organik dan anorganik kemudian mendaur ulangnya menjadi produk berharga jual.

“Ada bros dari sampah plastik dan pupuk dari sampah organik,” kata penanggung jawab kegiatan Gerakan Pahlawan Sampah (GKS), Desi Rahayu, 21, saat dijumpai di lokasi.

Tak dimungkirinya jika produksi sampah setiap hari selalu tinggi. Budaya membuang sampah pada tempatnya sekaligus memilah juga masih belum membudaya. Masih banyak masyarakat yang membuang sampah di sungai yang sebenarnya berfungsi untuk irigasi.

Seperti yang terlihat di Kali Code, sampah plastik tampak mendominasi. Plastik bungkus makanan tersangkut di bebatuan sehingga ada yang menghambat aliran. Peserta GPS bahkan ada yang menemukan sampah berupa boneka lalu mereka kumpulkan bersama sampah lainnya.

“Kita mulai dari diri kita sendiri, menerapkan seminimal mungkin pembuangan sampah,” kata Desi. Begitu pula dengan hasil daur ulang sampah yang diproduksi. Anggota KSE jadi pioner untuk menggunakan bros atau pernak-pernik lain yang berbahan dasar sampah.

Selain GPS, paguyuban penerima beasiswa ini juga mengajarkan cara pengolahan sampah pada masyarakat di sekitar Jembatan Teknik UGM, khususnya anak-anak. Mereka memberi pelatihan dengan harapan mampu menghasilkan karya yang dapat dijual. Desi mengatakan, jika warga sudah mampu memproduksi dan layak jual, KSE akan membantu pemasaran sampai mancanegara.

Setidaknya, tambah Ketua Komunitas Untuk Jogja (KUJ), Wulan Fatimah Rohman, 21, yang turut berkolaborasi dalam kegiatan itu, produk daur ulang bisa menjadi pemasukan bagi warga di bantaran Kali Code. “Bisa dijual Rp3.000 dengan hanya modal tidak sampai Rp300,” ungkap mahasiswa Fakultas Biologi semester tujuh ini.

Meski demikian, bagi dia yang terpenting adalah bagaimana memanfaatkan sampah yang terbuang di tempat-tempat umum. Jangan sampai sampah merusak pemandangan Jogja yang dikenal sebagai kota pelajar, budaya dan wisata.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online