Ketua LPS: Uang Bergerak Cepat, Literasi RI Masih Tertinggal

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Jum'at, 22 Mei 2026 12:27 WIB
Ketua LPS: Uang Bergerak Cepat, Literasi RI Masih Tertinggal

Ketua Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Anggito Abimanyu dalam forum Jogja Financial Festival 2026 di Jogja Expo Center, Jumat (22/5/2026). Abdul Hamied Razak/Harian Jogja

Harianjogja.com, JOGJA — Ketua Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Anggito Abimanyu, menyoroti fenomena paradoks di sektor keuangan nasional: laju teknologi melesat, tetapi literasi masyarakat justru tertinggal.

Dalam forum Jogja Financial Festival 2026 di Jogja Expo Center, ia menegaskan bahwa Indonesia tengah memasuki fase baru, di mana kecepatan transaksi digital tidak diimbangi pemahaman risiko oleh masyarakat.

“Artificial intelligence mulai menggantikan banyak model bisnis lama. Transaksi digital berlangsung dalam hitungan detik, dan produk investasi semakin beragam. Namun daya tahan literasi masyarakat belum tumbuh secepat perkembangan industrinya,” ujarnya, Jumat (22/5/2026).

Paradoks Digital: Cepat Bertransaksi, Lambat Memahami Risiko

Anggito mengungkapkan, fenomena ini terlihat jelas di kalangan generasi muda. Akses terhadap investasi kini semakin mudah, tetapi belum diiringi kemampuan menyusun perencanaan keuangan yang matang.

Lonjakan transaksi digital juga tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas pengelolaan keuangan. Banyak rekening justru menjadi pasif, sementara risiko lain seperti pinjaman online ilegal, judi digital, hingga investasi bodong terus bermunculan.

“Kita tidak boleh membiarkan teknologi tumbuh lebih cepat daripada etika, literasi, dan tanggung jawab finansial bangsa,” tegasnya.

Bonus Demografi, Peluang Sekaligus Tantangan

Di balik kekhawatiran tersebut, Anggito melihat peluang besar dari bonus demografi Indonesia. Lebih dari 190 juta penduduk usia produktif menjadi modal utama pertumbuhan ekonomi nasional.

Generasi muda dinilai sebagai kelompok paling adaptif terhadap teknologi dan inovasi. Tren investasi pun terus meningkat, mulai dari saham, obligasi ritel, hingga aset digital.

Namun ia mengingatkan, tanpa fondasi literasi yang kuat, euforia ini berpotensi berubah menjadi spekulasi.

“Edukasi harus berjalan lebih cepat daripada euforia pasar,” katanya.

JFF 2026: Literasi Keuangan Dibuat Lebih Dekat

Jogja Financial Festival 2026 tidak hanya menjadi ajang pameran industri, tetapi juga ruang kolaborasi lintas sektor. Regulator, industri, pemerintah daerah, kampus, hingga komunitas kreatif dilibatkan untuk mendorong literasi keuangan yang lebih inklusif.

Target lebih dari 10.000 peserta menunjukkan tingginya antusiasme publik. Pendekatan literasi pun diubah—tidak lagi eksklusif, tetapi dikemas melalui kegiatan kreatif yang dekat dengan masyarakat.

Salah satu agenda yang menyedot perhatian adalah “Jogja City D-Run” yang melintasi kawasan Universitas Gadjah Mada dan pusat kota. Lebih dari 5.000 peserta ambil bagian, sekaligus berkontribusi pada program beasiswa dari dana yang terkumpul.

Kolaborasi Industri Keuangan Nasional

Festival ini mendapat dukungan luas dari berbagai institusi keuangan nasional, mulai dari perbankan hingga BUMN dan sektor swasta. Keterlibatan ini menegaskan bahwa literasi keuangan bukan hanya tanggung jawab regulator, melainkan seluruh ekosistem.

Sinergi tersebut diharapkan mampu mempercepat peningkatan pemahaman masyarakat terhadap produk keuangan sekaligus risiko yang menyertainya.

Menutup pernyataannya, Anggito menegaskan pentingnya membangun generasi yang tidak hanya melek digital, tetapi juga cerdas secara finansial.

Jogja Financial Festival 2026 diharapkan menjadi titik awal gerakan nasional dalam memperkuat ketahanan finansial masyarakat di tengah derasnya arus digitalisasi.

“Ini bukan sekadar festival ekonomi. Ini adalah ruang untuk membangun ketahanan finansial, memahami risiko, memanfaatkan teknologi, dan menciptakan masa depan yang lebih baik,” tandasnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online