Kisah Timbul Sopir Becak Jadi Korban Carut Marut Data BPS, Desil 1 Berubah Jadi 9
Desil keluarga warga Kulon Progo naik dari 1 ke 9. BPS DIY menjelaskan cara penentuan desil dan mengapa desil bukan ukuran mutlak kemiskinan.
HarianJogja/Gigih M. Hanafi Wisatawan mengunjungi Kraton Yogyakarta, Senin, (20/7). Kraton serta kawasan Malioboro masih menjadi menjadi tujuan utama saat berwisata baik wisatawan dari dalam kota maupun luar kota saat libur Lebaran.
Wisata Kulonprogo terus dikembangkan, termasuk dengan mengadakan wisata alternatif.
Harianjogja.com, JOGJA -- Dinas Kebudayaan (Disbud) DIY bersama Pussaka Institute akan menyelenggarakan napak tilas petilasan di Kulonprogo pada (13/11/2015) mendatang. Kegiatan ini nantinya akan mengambil tema "Nandur Banyu Paguripan, Ngrabuk Paseduluran".
Direktur Pussaka Institute, Leonardo Budi Setiawan mengatakan napak tilas petilasan di Kulonprogo ini bertujuan untuk mengajarkan kesejahteraan bagi masyarakat sekitarnya. Selain itu untuk menumbuhkan rasa persaudaraan bagi sesama.
“Kegiatan ini menjadi penting dan memiliki sejarah yang panjang di daerah tersebut, terutama hubungannya Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Makanya kami ingin mengangkatnya,” kata Leonardo saat jumpa pers di Pendopo Disbud DIY, Selasa (10/11/2015).
Setidaknya ada seribu pegiat seni akan terlibat dalam Napak Tilas Petilasan Kulonprogo. Beberapa rangkaian acara napak tilas itu, antara lain kirab budaya masing-masing kelompok kesenian, penanaman sembilan pohon beringin putih, pelepasan bibit ikan di bendungan, sarasehan sejarah ekologi budaya DIY, pembagian pohon, kesenian tradisional strek muslim tanjung, jathilan, gejog lesung, soreng menoreh, dan wayang wong.
"Total yang terlibat seribu pegiat seni," lanjutnya.
Ketua Panitia Lucia Dianawuri mengatakan khusus untuk penanaman pohon beringin berjumlah sembilan karena menjadi simbol Hamengkubuwono IX yang telah membangun Bendungan Ancol sebagai bagian dari Selokan Mataram.
Mengapa pohon yang dipilih beringin, karena lambang keteduhan yang mengayomi. Tema ‘Nandur Banyu Panguripan Ngrabuk Paseduluran’ tersebut, kegiatan itu untuk melebur aktivitas budaya masyarakat dan pelestarian lingkungan.
"Harapannya masyarakat akan menjadi tahu aspek ekologi penting dalam kebudayaan. Tidak hanya aspek kesenian, tetapi juga lingkungan dan berdampak pada kesejahteraan bersama," kata Lucia.
Selama ini kecenderungan kesenian kerap hanya sekadar tontonan. Sebab itu, aspek ekologi diangkat dalam kegiatan tersebut agar masyarakat menjadi peduli lingkungan.
Koordinator Pokja Penguatan Kelembagaan Pelestari Warisan Budaya dari Dinas Kebudayaan DIY, Guntur Prabawanto, mengatakan kegiatan ini sangta didukung Disbud DIY. Kegiatan ini mengajak masyarakat melestarikan budaya sekaligus peduli dan menyelaraskannya dengan lingkungan.
"Sebagai gerakan bersama dalam bidang seni dan ekologi, ini akhirnya juga dapat memupuk persaudaraan dalam masyarakat," kata Guntur.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Desil keluarga warga Kulon Progo naik dari 1 ke 9. BPS DIY menjelaskan cara penentuan desil dan mengapa desil bukan ukuran mutlak kemiskinan.
Simak jadwal lengkap KA Bandara YIA. Kereta beroperasi sejak dini hari hingga malam untuk mendukung mobilitas penumpang.
Menteri LH Moh Jumhur Hidayat menyebut industri kendaraan listrik berperan penting dalam upaya Indonesia mengejar target net zero emission 2060.
BPJS Ketenagakerjaan menargetkan kepesertaan pekerja informal mencapai 20% pada 2026 melalui strategi 3R dan penguatan literasi jaminan sosial.
Jadwal lengkap KA Prameks Jogja–Kutoarjo dan sebaliknya, berdasarkan data resmi KAI Access.
Cek jadwal KRL Jogja–Solo 29 Agustus 2026 dari Tugu ke Palur. Simak jam keberangkatan lengkap dan imbauan penumpang.