Jembatan Kretek Dua Bakal Diimbangi Pengembangan Wisata
Salah satu anggota Forkom UMKM Ngampilan sedang mempromosikan bakpia hasil produksinya pada pengunjung Pasar Malam Perayaan Sekaten (PMPS) 2015 di alun-alun utara, Jogja pada Kamis (10/12/2015). (Sekar Langit Nariswari/JIBI/Harian Jogja)
Sekaten Jogja memiliki beragam stan yang menyediakan kebutuhan pengunjung.
Harianjogja.com, JOGJA- Kecamatan Ngambilan promosikan aneka kerajinan di Pasar Malam Perayaan Sekaten (PMPS) 2015.
Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Kecamatan Ngampilan membuka stan kerajinan dan olahan pangan di PMPS 2015. Stan yang bersisian dengan berbagai stan UMKM binaan Dinas Perindustriaan Perdagangan Koperasi dan Pertanian (Disperindagkoptan) Kota Jogja ini menjual dan memamerkan produk berupa bakpia, bros, beragam produk rajutan, daster, batik, dan bunga plasik.
“Umumnya produk-produk ini sudah punya langganan, maka di Sekaten ini fokusnya untuk promosi,” ujar Setiawati Kuncoro, Wakil Ketua Forkom UMKM Kecamatan Ngampilan di stannya, alun-alun utara (altar), Jogja pada Harianjogja.com, Kamis (10/12/2015).
Meski lebih mengutamakan momen Sekaten sebagai ajang promosi, omzet penjualan dari stan yang terdiri dari warga dua kelurahan ini cukup tinggi. Produk yang paling laku dijual antara lain bunga pajangan yang merupakan produk daur ulang dari botol-botol plastik dan daster. Daster merupakan produk yang paling banyak diburu karena harga terjangkau dan berkualitas. Tiap daster dihargai Rp40.000-Rp50.000 tergantung ukurannya.
“Ibu-ibu yang pada beli daster, ini kan lebih murah daripada di toko-toko,” ujar Kuncoro.
Selain itu, bakpia juga menjadi produk yang paling diminati pengunjung. Kecamatan Ngampilan menyediakan beberapa bakpia yang bisa dicicipi para pengunjung stan dengan harapan akan menarik keingginan pengunjung untuk membeli produk olahan makanan khas Jogja tersebut. Dibanding produk lainnya yang lebih diminati oleh kalangan ibu-ibu, bakpia menjadi produk Ngampilan yang diandalkan untuk meraih pembeli dari berbagai usia.
Kecamatan Ngampilan juga memiliki kerajinan unggulan berupa produk rajut yang dibuat menjadi tas, sepatu, dompet, dll. Bahkan produk rajut ini sudah memiliki merk tersendiri yakni Notosuro. Harga sepatu rajut sendiri dibandrol sekitar Rp175.000-Rp200.000 per pasang, sedangkan tas rajut dihargai Rp75.000-Rp.150.000 sesuai model. Kuncoro juga menguraikan jika produk-produk kerajinan dari kecamatannya banyak dibeli oleh pedagang untukkemudian dipasok ke pasar ataupun swalayan.
“Banyak yang pesan tapi tanpa label karena ingin mereka kasih label sendiri,” ujar Kuncoro.
Meski produk-produk kerajinannya sudah memiliki pasar tersendiri, kini Forkom UMKM Kecamatan Ngampilan sedang berusaha mengadakan pameran di hotel-hotel di Jogja.
“Sekarang kan hotel banyak, mudahan bisa menampung potensi wilayah seperti kami,” ujar Kuncoro.
Sebelumnya, produk-produk ini juga sudah tampil dalam pameran di Surabaya, di kantor-kantor pemerintahan Jogja, dan pusat perbelanjaan modern di Jogja. Selain itu, komunitas ini juga memiliki stand di XT Square yang merupakan pemberian dari pemerintah Kota Jogja. Stan yang dijaga oleh anggota forumnya bergantian secara sukarela ini buka selama pelaksanaan PMPS 2015 pada pukul 15.00-21.00 WIB.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkab Kulon Progo berkomitmen selalu proaktif dalam penyelesaian terkait kepentingan masyarakat tersebut dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-kehatian
Alex Rins mengaku syok melihat kecelakaan horor Alex Marquez di MotoGP Catalunya 2026 hingga jantungnya seperti berhenti berdetak.
Jennifer Coppen dan Justin Hubner mengumumkan rencana pernikahan di Bali pada Juni 2026 dengan tiga konsep adat berbeda.
Ketimpangan antara jumlah advokat profesional dan masyarakat pencari keadilan di Indonesia masih menjadi isu sistem peradilan.
Kemkomdigi mengkaji aturan wajib nomor HP untuk registrasi akun media sosial guna memperkuat keamanan dan akuntabilitas ruang digital.