Harga Beras Rendah, Petani Bantul Pilih Simpan Hasil Panen
Ibu-ibu anggota Paguyuban Pecinta Sulam Yogyakarta berkumpul di area terbuka Hotel Mustokoweni, Jl. AM Sangaji, Jogja untuk berlatih sulam pada Rabu (2/12/2015). (Sekar Langit Nariswari/JIBI/Harian Jogja)
Sulam wayang di Jogja punya paguyuban yang diikuti para ibu
Harianjogja.com, JOGJA- Sulam wayang tak sekedar soal merajut benang hingga serupa karakter wayang, butuh kesabaran dan dedikasi untuk mewujudkan sulam wayang yang berkarakter.
Sekumpulan ibu-ibu yang tergabung dalam Paguyuban Pecinta Sulam Yogyakarta (PPSY) berkumpul tiap hari Rabu untuk menyalurkan hobi mereka, menyulam. Hobi ini bukan hanya sekedar mengisi waktu, ibu-ibu ini bahkan menyisihkan waktu mereka untuk aktivitas yang sudah mulai berkurang peminatnya ini.
“Ini kegiatan sebatas hobi, bukan untuk professional atau industri,” jelas Larasati Suliantoro, pendiri peguyuban ini sekaligus pemilik Hotel Mustokoweni tempat kegiatan ini berlangsung, ketika ditemui Harian Jogja dalam kegiatan rutin PPSY setiap Rabu di Hotel Mustokoweni Jogja, Rabu (2/12/2015)
Meski beranggotakan 100 orang, namun anggota yang datang ke pertemuan rutin tiap Rabu pagi di Hotel Mustokoweni, Jl. AM Sangaji, Jogja ini berkisar 10-20 orang tiap pertemuan. “Berganti-ganti tiap minggu, karena masing-masing kegiatannya juga sibuk,” ujar Rochani Soeparto, mantan Ketua PPSY.
Kegiatan diadakan di ruang terbuka di area hotel dengan suasana yang santai. Teh dan kue-kue ringan dihidangkan untuk menemani ibu-ibu ini menyulam sembari bercengkerama.
Umumnya, ibu-ibu menyulam berbagai motif dengan dasar kain putih blacu. Namun, seorang ibu terlihat berbeda dengan motif kain dasar kuning dan berukuran lebih besar daripada ibu-ibu lainnya. Bahkan sulaman yang ini menjadi lebih istimewa karena tokoh wayang yang terbentuk di atasnya. “Ini sulam wayang, level tertinggi dari sulam di paguyuban ini,” jelas Rochani sambil menunjuk sulaman dengan karakter punakawan tersebut.
Rochani menjelaskan jika sulam wayang adalah bentuk baru dari kreasi sulam yang dipadukan dengan kebudayaan khas Jogja. Bahkan, PPSY dulu pernah mengadakan lomba sulam wayang pada tahun 1982 silam namun tidak ada pendaftar sama sekali.
“Waktu itu tidak ada yang daftar, jadinya malah panitianya yang ikut jadi peserta,” ucap Rochani.
Hal ini kemudian menginspirasi paguyuban ini untuk menyebarkan sulam dan sulam wayang khusunya pada masyarakat luas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Harga sembako Banyumas jelang Iduladha 2026 masih stabil. Harga sapi dan domba naik, namun stok pangan dipastikan tetap aman.
BMKG DIY memperingatkan potensi El Nino 2026 yang memicu musim kemarau lebih kering dan risiko kekeringan ekstrem mulai Juli hingga Oktober.
Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (SV UGM) menyelenggarakan SV Career Days UGM 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM mulai Kamis (21/5/2026)
Gapasdap mengungkap 7 kapal tenggelam di Gilimanuk diduga akibat truk ODOL. Pelanggaran muatan berlebih kini ancam keselamatan pelayaran.
JMS 2026 mempertemukan ratusan media lokal Jawa Tengah untuk menyusun strategi menghadapi disrupsi digital dan tantangan AI.