SULAM WAYANG : Rumitnya Membuat Sulam Wayang agar "Hidup" dan Memunculkan Ketokohannya

Sekar Langit Nariswari
Sekar Langit Nariswari Kamis, 17 Desember 2015 17:55 WIB
SULAM WAYANG : Rumitnya Membuat Sulam Wayang agar "Hidup" dan Memunculkan Ketokohannya

Ibu-ibu anggota Paguyuban Pecinta Sulam Yogyakarta berkumpul di area terbuka Hotel Mustokoweni, Jl. AM Sangaji, Jogja untuk berlatih sulam pada Rabu (2/12/2015). (Sekar Langit Nariswari/JIBI/Harian Jogja)

Sulam wayang tidak mudah dibuat, karena rumit untuk bisa memunculkan ketokohannya dan membuatnya "hidup"

Harianjogja.com, JOGJA- Membuat sulam wayang bukan sekedar menyulam. Ada kerumitan untuk menghasilkan sulaman yang "hidup" dan berkarakter.

Para ibu di Jogja berkumpul setiap Rabu di Hotel Mustokoweni, Jl. AM Sangaji, Jogja untuk menyalurkan hobi mereka yakni menyulam. Mereka yang tergabung dalam Paguyuban Pecinta Sulam Yogyakarta (PPSY) ini memfokuskan pada sulam wayang.

Sulam wayang merupakan bentuk baru dari kreasi sulam yang dipadukan dengan kebudayaan khas Jogja. “Ini sulam wayang, level tertinggi dari sulam di paguyuban ini,” jelas Rochani Soeparto, mantan Ketua PPSY, sambil menunjuk sulaman dengan karakter punakawan.

Meski waktu sudah berjalan, sulam wayang tak juga jadi hal yang mudah dikerjakan. Pasalnya butuh kesabaran tinggi untuk mengerjakan jenis kerajinan ini. Belum lagi harus mempertimbangkan ketokohan yang harus dimunculkan dalam sulamannya.

“Sangat penting agar sulamannya hidup dan tidak melenceng dari ketokohannya,” ujar Rochani yang sudah memiliki 30 buah karya sulam wayang ini.

Selain itu, alur sulam juga sangat diperhatikan dalam membuat karya ini. Jika alurnya kacau maka gambarnya akan jelek dan karakteristiknya tak terpenuhi.

Untuk membuat sulam wayang dibutuhkan proses yang tidak instan. Pertama, karakter wayang digambar di atas kertas kemudian dikonsultasikan pada empu wayang agar gambar, detail, dan karakternya tidak melenceng.

“Kami konsultasi pada empu wayang di Bantul, yang biasa mengurusi wayang-wayang di Kraton,” ucap Rochani, ketika ditemui Harian Jogja dalam kegiatan rutin PPSY setiap Rabu di Hotel Mustokoweni Jogja, Rabu (2/12/2015)

Setelah disetujui, gambar wayang tersebut dikalkir untuk kemudian dijadikan pola di atas media sulam. Umumnya, sulam wayang menggunakan kain lurik atau tenun polos sebagai media dasarnya.

Karena proses konsultasi inilah maka karakter, bentuk, dan warna yang digunakan pada sulam wayang ini tidak boleh melenceng dari karakter terkait. “Ada pakemnya, termasuk warnanya,” ujar Rochani.

Karena itulah, ia selalu menggunakan merek dan warna benang yang sama untuk membuat karyanya. Benang tersebut merupakan produksi Jerman yang telah digunakannya sejak usia kanak-kanak.

Wanita berusia 64 tahun ini juga memiliki satu album yang berisi karakter wayang untuk dijadikan pedoman bagi sulam wayang. Selain untuk dirinya pribadi, album tersebut juga biasa dipinjam oleh anggota paguyuban yang lain untuk jadi acuan sulaman mereka.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online