PERTUMBUHAN EKONOMI : Sektor Wisata Diprediksi Bakal Sumbang 34 %
JIBI/Harian Jogja/Desi Suryanto Sejumlah warga mengsung gunungan sebagai salah satu sesaji untuk dilabuh dalam acara Kirab Budaya di Pantai Goa Cemara, Kelurahan Gadingsari, Kecamatan Sanden, Bantul, DI. Yogyakarta, Rabu (14/10/2015). Labuhan itu digelar oleh pelaku pariwisata Pantai Goa Cemara sebagai bagian dari ungkapan rasa syukur terhadap Tuhan YME atas potensi wisata pantai tersebut dan sebagai rangkaian peringatan 1 Sura dalam penanggalan Jawa.
Pertumbuhan ekonomi di Jogja di sektor pariwisata terkhusus budaya, alam dan minat khusus punya andil besar.
Harianjogja.com, JOGJA-Sektor pariwisata masih menjadi primadona yang mendorong pertumbuhan ekonomi di DIY.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPBI) DIY Arief Budi Santoso mengungkapkan, pariwisata bisa menyumbang hingga 34% kepada Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) DIY. Dampak dari pertumbuhan wisata bisa menyentuh sektor-sektor lain seperti perdagangan dan transportasi. Sementara itu, sumbangsih perhotelan terhadap pertumbuhan ekonomi DIY sebesar 10%.
Ia menjelaskan, kekuatan wisata di DIY yang utama adalah budaya, alam, dan minat khusus. Potensi wisata minat khusus di DIY bisa dikembangkan lagi dengan memanfaatkan sektor unggulan yakni pendidikan. Hal itu bisa diwujudkan dengan menggelar seminar tingkat nasional dan internasional di DIY.
“Selain itu, wisata khusus kesehatan juga bisa dikembangkan dengan menyediakan layanan kesehatan yang baik. DIY harus bisa menjadi daerah tujuan untuk berobat dengan memiliki kualitas pelayanan kesehatan yang sangat baik,” ungkap dia ketika ditemui di Gedung KPBI DIY, Selasa (22/12/2015).
Arief mengungkapkan, potensi yang disimpan cukup besar sehingga potensi ini bisa dikembangkan pada 2016. Pengembangan itu, bisa untuk menyambut dibangunnya bandara di Kulonprogo. Sebuah bandara tidak mungkin berdiri sendiri tanpa ada sektor lain yang menyokong. Kelak, potensi ini juga menjadi kekuatan DIY dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).
“DIY juga menjadi pilihan sebagai daerah tujuan wisata Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) karena lebih murah dibandingkan Bali dan Lombok,” ungkap dia.
Arief mengungkapkan, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi DIY pada 2016 sebesar 4,9% hingga 5,3%. Pertumbuhan ekonomi DIY pada 2015 secara keseluruhan sebesar 4,8% hingga 4,9%. Hal itu dilihat dari pertumbuhan ekonomi dalam tiga triwulan di 2015 yakni sebesar 4,15% pada triwulan I, 4,74% pada triwulan II, dan 5,3% pada triwulan III.
“Prospek ke depan sangat baik terutama didukung pariwisata. Perekonomian DIY diperkirakan tumbuh 4,9 persen hingga 5,3 persen,” ungkap dia.
Untuk inflasi, besarannya diperkirakan 4+-1%. Ia mengungkapkan, kondisi perekonomian di Indonesia cukup kuat. Salah satu buktinya yakni saat The Fed menaikkan suku bunga dari 0,25% menjadi 0,50%. “Ternyata, seharusnya saat Fed Rate naik, ada dana dari negara berkembang yang kembali ke AS. Dampaknya, nilai mata uang di negara berkembang jatuh, tetapi rupiah meningkat,” ujar dia.
Hal itu terjadi karena sudah diantisipasi sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat akan berdampak di negara berkembang. Saat kondisi AS membaik, begitu juga negara berkembang. Dana yang sementara tertanam di negara berkembang, tidak tercabutkan.
Adapun tantangan yang akan dihadapi pada 2016 yakni pertumbuhan ekonomi global yang belum signifikan. Hal itu membuat pertumbuhan ekonomi di Indonesia juga belum bisa maksimal. “Karena pertumbuhan [ekonomi global] lambat, sehingga pertumbuhan [ekonomi Indonesia] lambat. Dulu kita tumbuh enam persen sampai tujuh persen. Sekarang, empat persen dianggapnya jelek,” ujar dia. (
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Share