PBB-P2 Sleman Tembus 95%, 5 Kapanewon Lunas Awal
PBB-P2 Sleman mencapai Rp86,34 miliar atau 95% target. Lima kapanewon dan 42 kalurahan telah lunas lebih awal.
Bus Trans Jogja - Harian Jogja/Desi Suryanto
Harianjogja.com, SLEMAN— Pemerintah Daerah (Pemda) DIY menyiapkan kerja sama dengan layanan transportasi daring Grab untuk memperkuat akses masyarakat menuju halte Trans Jogja. Skema tersebut diarahkan untuk menjawab persoalan first mile-last mile, yakni perjalanan dari rumah menuju halte serta perjalanan dari halte menuju tujuan akhir.
Rencana integrasi Trans Jogja dan Grab saat ini masih dalam tahap penyusunan. Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DIY, Chrestina Erni Widyastuti, mengatakan layanan transportasi daring diharapkan dapat menjadi penghubung bagi masyarakat yang kesulitan mencapai halte transportasi publik.
“Harapannya nanti ada first mile, last mile. Saat ini kami baru bekerja sama dengan ojol, yaitu dengan Grab. Kami baru menyusun [rancangan] kerja sama supaya nanti bisa membantu teman-teman semua,” kata Erni dalam acara Urban Social Forum ke-12 di SMA Kolese De Britto, Sabtu (30/8/2026).
Menurut Erni, persoalan akses tersebut menjadi salah satu hal yang perlu dibenahi agar penggunaan transportasi publik di DIY semakin mudah. Keberadaan halte yang tidak selalu berada dalam jarak dekat dari permukiman membuat sebagian masyarakat masih menghadapi kendala sejak awal perjalanan.
Kerja sama Pemda DIY dengan Grab tidak hanya diarahkan pada layanan antar-jemput penumpang. Dishub DIY juga menyiapkan integrasi sistem pembayaran antara transportasi daring dan transportasi publik.
“Memang akan ada integrasi di dalam pembayarannya. Jadi tidak hanya mengantar, tetapi akan ada integrasi dalam pembayaran,” katanya.
Dengan rancangan tersebut, layanan transportasi daring diharapkan tidak berdiri sendiri sebagai moda perjalanan menuju halte. Grab nantinya menjadi bagian dari konektivitas perjalanan masyarakat yang menggunakan Trans Jogja, termasuk pada tahap sebelum dan setelah menggunakan bus.
Persoalan akses halte menjadi penting karena jarak antarhalte di sejumlah lokasi masih lebih dari 500 meter. Menurut Erni, jarak ideal antarhalte berada di kisaran 300 meter.
Kondisi itu tidak berdiri sendiri. Keterbatasan armada dan kondisi jalan turut memengaruhi penyediaan serta jangkauan layanan transportasi publik di DIY.
Selain jarak halte, waktu tunggu bus juga menjadi tantangan. Headway atau jarak waktu kedatangan antarbus yang idealnya sekitar 15 menit masih belum sepenuhnya dapat dipenuhi.
“Keberadaan halte itu sangat menyulitkan ketika jauh dari rumah-rumah kita semua,” ucapnya.
Selain menyiapkan kolaborasi dengan transportasi daring, Dishub DIY mengembangkan pilihan lain untuk memperkuat hubungan antara masyarakat dan transportasi publik. Salah satunya dilakukan melalui penyediaan fasilitas sepeda di sekitar halte.
Konsep tersebut memungkinkan sepeda digunakan sebagai moda penghubung menuju halte. Setelah mencapai halte, masyarakat dapat melanjutkan perjalanan menggunakan transportasi publik.
Pengembangan fasilitas sepeda menjadi salah satu alternatif di tengah persoalan jarak menuju halte. Moda tersebut dapat digunakan untuk menjembatani perjalanan masyarakat yang tidak berada tepat di sekitar titik pemberhentian Trans Jogja.
Namun, penggunaan sepeda sebagai bagian dari sistem transportasi publik juga menghadapi persoalan keamanan di jalan maupun saat sepeda ditinggalkan di halte.
Ketua B2W Chapter Yogyakarta, Noer Cholik, mengatakan pesepeda masih menghadapi tantangan ketika harus berbagi ruang jalan dengan kendaraan bermotor. Arus lalu lintas yang sangat cepat menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko keamanan bagi pesepeda.
Selain keselamatan selama perjalanan, Cholik menyoroti keamanan sepeda ketika diparkir. Menurut dia, pesepeda membutuhkan kepastian bahwa kendaraan mereka tetap aman selama ditinggalkan, termasuk ketika digunakan untuk perjalanan menuju kantor maupun sekolah.
Persoalan tempat parkir sepeda menjadi bagian penting apabila sepeda ingin didorong sebagai moda penghubung menuju transportasi publik. Fasilitas yang tersedia tidak hanya perlu mendukung mobilitas, tetapi juga memberikan rasa aman bagi pengguna.
Cholik menilai Jogja memiliki modal yang mendukung pengembangan budaya bersepeda. Kondisi wilayah dan kedekatan sejumlah pusat aktivitas menjadi faktor yang menurutnya dapat menunjang mobilitas menggunakan sepeda.
“Jogja punya modal kuat menjadi kota yang ramah sepeda. Wilayahnya relatif datar dan jarak antar-kantor, sekolah, atau kampus berada dalam satu kawasan yang berdekatan. Waktu tempuhnya rata-rata hanya 10 hingga 20 menit,” kata Cholik.
Penguatan akses menuju Trans Jogja dengan demikian disiapkan melalui lebih dari satu pendekatan. Pemda DIY menyiapkan kerja sama dengan Grab untuk kebutuhan first mile dan last mile, sementara fasilitas sepeda dikembangkan sebagai alternatif penghubung menuju halte.
Bagi pengguna transportasi publik, persoalan perjalanan tidak hanya berhenti pada ketersediaan bus. Jarak dari rumah ke halte, kondisi jalan, waktu kedatangan bus, hingga keamanan moda penghubung turut menentukan kemudahan masyarakat dalam menggunakan transportasi publik.
Rencana integrasi Pemda DIY dengan Grab masih berada pada tahap penyusunan. Pada saat yang sama, Dishub DIY juga menyiapkan fasilitas sepeda di sekitar halte sebagai bagian dari upaya memperkuat konektivitas transportasi publik di DIY.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
PBB-P2 Sleman mencapai Rp86,34 miliar atau 95% target. Lima kapanewon dan 42 kalurahan telah lunas lebih awal.
Trans Jogja disiapkan terintegrasi dengan Grab untuk mengatasi akses halte dan memperkuat konektivitas first mile-last mile.
Jogja Inspira #01 hadir di Ndalem Poenokawan dengan kolaborasi musik, puisi dan sketsa, memperkuat Jogja sebagai episentrum kreativitas seni.
Korban bencana di Nepal utara mencapai 951 orang. Sekitar 590 warga negara asing dari 39 negara masih dinyatakan hilang.
Restitusi PPN yang belum cair dikhawatirkan mengganggu cash flow industri hingga memicu PHK dan pailit.
Wisata dan pembangunan di hulu Gajah Wong Sleman dinilai perlu memperhatikan daya dukung lingkungan untuk menjaga air dan ekosistem.