Wisata Meningkat, Konservasi Hulu Gajah Wong Perlu Diperkuat

Andreas Yuda Pramono
Andreas Yuda Pramono Senin, 31 Agustus 2026 23:27 WIB
Wisata Meningkat, Konservasi Hulu Gajah Wong Perlu Diperkuat

Sejumlah perwakilan kelompok masyarakat sedang mengikuti Forum Masyarakat Peduli Konservasi di The Cengkrama, Padukuhan Kaliurang Timur, Hargobinangun, Pakem, Sleman, Senin (31/8/2026). Harian Jogja/ Andreas Yuda Pramono.

Harianjogja.com, SLEMAN—Perkembangan pariwisata dan pembangunan di kawasan hulu Sub Daerah Aliran Sungai (Sub DAS) Gajah Wong, Sleman, dinilai perlu diikuti dengan pengelolaan lingkungan yang lebih serius. Aktivitas wisata yang meningkat serta pembangunan berbagai sarana berpotensi menekan kawasan resapan, kualitas air, hingga keberlangsungan mata air jika tidak memperhatikan daya dukung lingkungan.

Persoalan tersebut menjadi salah satu perhatian dalam Forum Masyarakat Peduli Konservasi yang digelar Yayasan Javlec Indonesia bersama Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY di The Cengkrama, Padukuhan Kaliurang Timur, Hargobinangun, Pakem, Sleman, Senin (31/8/2026).

Forum yang mendapat dukungan melalui program CSR PT Sarihusada Generasi Mahardhika tersebut membahas berbagai tantangan konservasi di kawasan hulu, termasuk dampak perkembangan wisata dan pembangunan terhadap fungsi ekologis wilayah.

Perwakilan DLHK DIY, Sri Mundayati, mengatakan aktivitas wisata maupun pembangunan di kawasan hulu harus memperhatikan kemampuan lingkungan dalam menerima beban aktivitas manusia. Menurutnya, peningkatan jumlah wisatawan perlu diimbangi dengan pengelolaan sampah, air, dan lahan agar tidak menimbulkan tekanan terhadap lingkungan.

"Alangkah baiknya, ketika ada sarana wisata dengan tiket, pengunjung diedukasi untuk membawa pulang sampahnya dan tidak merusak tanaman," kata Mundayati dalam pemaparannya di The Cengkrama, Senin.

Menurutnya, persoalan lingkungan di kawasan hulu tidak hanya berkaitan dengan sampah. Pembangunan yang menyebabkan pemadatan tanah juga dapat mengurangi luas maupun fungsi kawasan resapan air.

Berkurangnya kemampuan tanah dalam menyerap air hujan dapat berdampak terhadap ketersediaan air, termasuk keberlangsungan mata air yang menjadi sumber kebutuhan masyarakat.

"Ketika hulu rusak, hujan langsung jatuh ke permukaan, menyebabkan erosi, longsor, dan air menjadi keruh. Di hilir, masyarakat akan kekurangan air saat kemarau," ujarnya.

Tutupan Vegetasi Jadi Kunci

Sri menjelaskan keberadaan vegetasi menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kawasan hulu. Tutupan tanaman membantu tanah menyerap air sekaligus mengurangi aliran permukaan yang dapat memicu erosi.

Sebaliknya, hilangnya tutupan vegetasi membuat permukaan tanah semakin terbuka. Kondisi tersebut meningkatkan potensi terjadinya erosi, longsor, hingga banjir ketika hujan dengan intensitas tinggi terjadi.

Tekanan terhadap lingkungan hulu juga dapat berasal dari penurunan kualitas air. Sampah, limbah rumah tangga, hingga penggunaan bahan kimia secara berlebihan berpotensi mencemari sumber air dan mengganggu ekosistem sungai.

Karena itu, pengembangan kawasan wisata perlu memperhatikan tidak hanya aspek ekonomi, tetapi juga dampaknya terhadap fungsi ekologis. Pengelola wisata maupun pengunjung memiliki peran dalam menjaga kawasan agar aktivitas pariwisata tidak justru mempercepat degradasi lingkungan.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Yayasan Javlec Indonesia, Hari Cahyono, mengatakan kawasan hulu mempunyai posisi strategis dalam menjaga keberlanjutan sumber daya air dan keseimbangan ekosistem.

Menurutnya, masyarakat perlu memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai berbagai ancaman yang dapat muncul seiring dengan berkembangnya pariwisata, kegiatan ekonomi, dan pembangunan di kawasan hulu.

"Forum Masyarakat Peduli Konservasi ini menjadi ruang untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat terhadap ancaman, dampak, dan strategi berkelanjutan pada pengelolaan wisata, ekonomi, dan pembangunan," kata Hari.

Konservasi Hulu Gajah Wong

Hari mengatakan berbagai upaya konservasi telah dilakukan di kawasan hulu Sub DAS Gajah Wong, terutama di Padukuhan Kaliurang Timur dan Kaliurang Barat.

Kegiatan tersebut antara lain pembangunan sumur resapan, pembuatan biopori, penampungan air hujan, rorak, serta penanaman vegetasi. Berbagai upaya itu diarahkan untuk menjaga kemampuan kawasan dalam menyerap dan menyimpan air sekaligus mempertahankan kondisi lingkungan.

Menurutnya, konservasi tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah maupun lembaga tertentu. Masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di kawasan hulu perlu terlibat secara aktif karena dampak kerusakan lingkungan pada akhirnya dapat dirasakan hingga wilayah hilir.

Hari berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kawasan hulu semakin meningkat. Dengan demikian, perkembangan sektor wisata dan pembangunan tetap dapat berlangsung tanpa mengorbankan fungsi ekologis kawasan.

Di sisi lain, DLHK DIY memberikan apresiasi terhadap pemerintah kelurahan setempat yang telah memberikan perhatian terhadap pengelolaan sampah. Upaya tersebut dinilai menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas lingkungan di kawasan hulu.

Namun, pengelolaan sampah tetap perlu diperkuat karena aktivitas wisata di kawasan hulu terus berkembang. Semakin banyak aktivitas dan kunjungan, semakin besar pula potensi timbulan sampah yang harus ditangani.

Pengelolaan kawasan hulu Sub DAS Gajah Wong pada akhirnya membutuhkan keseimbangan antara kepentingan ekonomi, pariwisata, pembangunan, dan konservasi. Pemanfaatan kawasan yang tidak memperhatikan daya dukung lingkungan berisiko menimbulkan persoalan jangka panjang, terutama terkait air, tanah, dan ekosistem.

Dengan penguatan konservasi dan keterlibatan masyarakat, kawasan hulu diharapkan tetap mampu menjalankan fungsi ekologisnya sekaligus memberikan ruang bagi aktivitas wisata dan ekonomi yang berkelanjutan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online