El Nino Sangat Kuat, DIY Berpotensi Kekeringan hingga Desember

Andreas Yuda Pramono
Andreas Yuda Pramono Jum'at, 28 Agustus 2026 14:57 WIB
El Nino Sangat Kuat, DIY Berpotensi Kekeringan hingga Desember

Ilustrasi kekeringan - Foto dibuat oleh AI/StockCake

Harianjogja.com, SLEMAN— Masyarakat DIY diminta mewaspadai potensi kekeringan yang masih akan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut kondisi El Nino saat ini berada dalam kategori sangat kuat sehingga musim kemarau di DIY diprediksi lebih kering dan berlangsung lebih lama dari biasanya.

Berdasarkan pembaruan kondisi iklim BMKG per 20 Agustus 2026, sejumlah wilayah DIY bahkan sudah masuk dalam peringatan dini kekeringan meteorologis. Kota Jogja, Kulonprogo, Bantul, dan Gunungkidul berstatus Awas, sementara Sleman berada pada status Siaga.

Kekeringan meteorologis merupakan kondisi ketika sebuah wilayah mengalami hujan yang sangat sedikit atau bahkan tidak hujan dalam waktu lama. Status Awas menunjukkan kondisi yang lebih serius dibandingkan Siaga.

BMKG menetapkan status Awas, antara lain, ketika sebuah wilayah tidak mengalami hujan setidaknya selama 61 hari dan diperkirakan masih memiliki peluang hujan yang rendah.

Kepala Stasiun Klimatologi DIY, Mamenun, mengatakan kondisi tersebut perlu diantisipasi pemerintah daerah, instansi terkait, dan masyarakat. Hal itu karena musim kemarau tahun ini diprediksi lebih kering dibandingkan kondisi normal.

“Musim kemarau tahun ini diprediksi lebih kering dibandingkan kondisi klimatologis normal,” kata Mamenun, Jumat (28/8/2026).

Hujan DIY Masih Minim hingga November

Ancaman kekeringan masih perlu diperhatikan karena BMKG memprediksi curah hujan di DIY berada pada level rendah dalam tiga bulan ke depan.

Pada September dan Oktober 2026, curah hujan diperkirakan hanya sekitar 0-20 milimeter per bulan. Memasuki November 2026, curah hujan diprediksi mulai meningkat, tetapi masih berada pada kisaran 0-100 milimeter per bulan.

Seluruh wilayah DIY diprediksi mengalami kondisi hujan di bawah normal pada periode tersebut.

Dalam periode yang lebih dekat, yakni dasarian III Agustus hingga dasarian II September 2026, curah hujan diperkirakan hanya sekitar 0-10 milimeter dalam sepuluh hari.

Istilah dasarian digunakan BMKG untuk membagi satu bulan menjadi tiga periode. Dasarian I berlangsung pada tanggal 1-10, dasarian II pada 11-20, sedangkan dasarian III berlangsung pada 21 hingga akhir bulan.

Puncak Kemarau DIY Terjadi pada Agustus

BMKG memperkirakan puncak musim kemarau di seluruh wilayah DIY terjadi pada Agustus 2026. Dari delapan zona musim di DIY, sebanyak tujuh wilayah atau sekitar 87,5% diprediksi mengalami curah hujan di bawah normal.

Durasi musim kemarau di DIY diperkirakan berlangsung selama 16-21 dasarian. Sebagian besar wilayah diprediksi mengalami musim kemarau selama 19-21 dasarian.

Adapun musim kemarau di DIY diperkirakan mulai berakhir pada awal hingga pertengahan November 2026.

Kondisi tersebut membuat potensi kekeringan perlu menjadi perhatian hingga musim kemarau berakhir. Terlebih, kondisi iklim yang terjadi saat ini juga dipengaruhi El Nino yang berada dalam kategori sangat kuat.

El Nino Berpeluang Bertahan hingga Desember

BMKG mencatat angin di wilayah Indonesia bagian selatan khatulistiwa bertiup dari arah timur. Kondisi tersebut menunjukkan Monsun Australia sedang aktif.

Pada saat yang sama, El Nino berada dalam kategori sangat kuat dan berpeluang bertahan hingga Desember 2026. Kondisi tersebut berpotensi membuat hujan semakin jarang sekaligus memperpanjang musim kemarau di DIY.

BMKG memperkirakan El Nino dapat meningkatkan risiko kekeringan sejak Juli hingga Desember 2026. Dampaknya antara lain berkurangnya ketersediaan air bersih serta meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.

Karena itu, BMKG meminta masyarakat dan pemerintah daerah menggunakan air secara lebih hemat serta menyesuaikan aktivitas dengan kondisi kekeringan di masing-masing wilayah.

Sektor pertanian juga diminta menyesuaikan pola tanam untuk mengurangi risiko gagal panen, terutama di wilayah yang rawan kekeringan.

Prakiraan Awal 2027 Belum Tersedia

Sementara itu, Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Yogyakarta, Romadi, mengatakan BMKG belum memiliki prakiraan cuaca untuk awal 2027.

“Kami mengeluarkan prakiraan cuaca per tiga bulan,” kata Romadi dihubungi, Jumat.

Meski prakiraan untuk awal 2027 belum tersedia, potensi hujan dalam satu hingga dua bulan ke depan di DIY masih diperkirakan rendah.

Kondisi tersebut sejalan dengan prakiraan Stasiun Klimatologi DIY yang memperkirakan curah hujan di berbagai wilayah DIY masih berada di bawah kondisi normal.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online