Rendah Hati, Probosutedjo Suka Bangun Pagar
Pemilik pangkalan elpiji ukuran 12 kg, Irawan menunggu konsumen di kios miliknya di kawasan Kelurahan Wonokarto, Kecamatan Wonogiri, Kamis (11/9/2014). (Bony EW/JIBI/Solopos)
Harga elpiji 12 Kg sudah turun namun pengusaha kuliner di Kulonprogo ada yang belum tahun
Harianjogja.com, KULONPROGO- Pengusaha Kuliner Tak Tahu Harga Elpiji 12 kg turun.
Harga elpiji 12 kg ditetapkan turun sebanyak Rp5.600 per Selasa (5/1/2016) lalu. Namun, penuruna harga tersebut belum dirasakan oleh kalangan pengusaha kuliner di Wates, bahkan beberapa menyatakan belum tahu mengenai penurunan tersebut. “Sudah turun ya? wah saya tidak tahu,” jelas Yuli Astuti, salah satu pengusaha bakery di Wates pada Jumat (8/1/2016).
Ia sendiri mengaku masih membeli elpiji 12 kg dengan harga lama, berkisar Rp148.000 per tabung. “Terakhir beli sekitar dua hari lalu [Rabu ], harganya Rp148.000,” jelas Yuli.
Ia mengaku biasanya membeli elpiji jenis tersebut melalui layanan pengantaran hingga harganya sedikit lebih mahal dari biasanya.
Mengenai tambahan omzet terkait penurunan harga elpiji, Yuli mengaku belum merasakan efeknya. Selain karena penurunnya yang tidak seberapa, ia menyebutkan jika usahanya tidak menghabiskan terlalu banyak elpiji dalam sebulan.
“Sebulan kami hanya pake 3 atau 4 untuk bikin kue, bedanya tidak seberapa,” ujar Yuli. Dengan jumlah bahan bakar tersebut, ia biasanya memproduksi 250 buah kue setiap harinya.
Hal serupa juga dinyatakan oleh Husnah, salah satu pengusaha catering. Meski sudah sempat membeli elpiji 12 kg dengan harga terbaru, menurutnya selisih omzet yang didapatkan tidak seberapa karena harga bahan baku masih tetap sama. “Harga bahan-bahannya masih sama, jadi kalo elpiji cuma turun sedikit yang nggak ngefek,” jelas Husnah.
Husnah sendiri telah membeli elpiji 12 kg dengan harga baru yakni Rp133.500 per tabung. Sebelumnya ia biasa mengeluarkan biaya sebanyak Rp150.000 untuk setiap tabung elpiji 12 kg yang ia gunakan. Berbeda dari beberapa pengguna gas elpiji 12 kg, Husna biasa membeli langsung elpiji jenis itu ke pengecer. “Saya biasa belinya di toko berjejaring itu,” ujar Husna.
Sebelumnya, Kurniawati, pemilik pangkalan gas di daerah Mutihan, Wates menyatakan jika penurunan tarif elpiji 12 kg tak berpengaruh banyak ke masyarakat. Pasalnya, elpiji jenis ini saat ini hanya laku dibeli oleh para pengusaha makanan. “Rumahan kalo bagus juga tetap pake tabung melon, paling pengusaha kuliner yang pake tabung biru,” ujar Kurniawati.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemerintah memangkas anggaran MBG 2026 menjadi Rp268 triliun demi efisiensi program Makan Bergizi Gratis.
DPRD DIY memastikan tidak ada kebijakan pemutusan kerja terhadap tenaga pendidik non-aparatur sipil negara tersebut di Daerah Istimewa Yogyakarta
Prabowo targetkan pembangunan 5.000 desa nelayan lengkap SPBU khusus, cold storage, dan fasilitas es batu hingga 2027.
BNNP DIY mengungkap modus sabu disembunyikan dalam speaker di Bantul. Seorang mahasiswa ditangkap bersama sabu dan tembakau sintetis
HUT ke-18 Harian Jogja, Transformasi dari Perusahaan Media Menuju Perusahaan Komunikasi Diperkuat