BPJS KESEHATAN : Omzet Perusahaan Farmasi Turun Demi Masyarakat

Selasa, 19 Januari 2016 08:20 WIB
BPJS KESEHATAN : Omzet Perusahaan Farmasi Turun Demi Masyarakat

JIBI/Solopos/Maulana Surya Tuti, 37 menunjukkan kartu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan di ruang tunggu kantor Askes, Purwosari, Laweyan, Solo, Senin (6/1). Selain peserta pengalihan dari Askes, Jamkesmas, TNI/PoIri dan Jamsostek, masyarakat dapat mendaftar menjadi peserta BPJS Kesehatan yang beroperasi pada 1 Januari 2014.

BPJS Kesehatan mempengaruhi bisnis apotik.

Harianjogja.com, SLEMAN – Ketua Ikatan Apoteker Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (IAI DIY), Wimbuh Dumadi mengatakan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan memang diharapkan dapat menekan biaya pengobatan. Salah satunya memang merekomendasikan obat generik.

“Imbasnya memang akhirnya pada penurunan pendapatan pada perusahaan farmasi. Namun ini demi keterjangkauan obat yang digunakan masyarakat,” kata Wimbuh, Senin (18/1/2016)

Kepala Badan POM, Roy Alexander Sparringa mengatakan obat generik banyak digunakan sebagai alternatif mahalnya harga obat. Tingginya harga obat, salah satunya diakibatkan oleh bahan baku obat yang masih bergantung pada impor.

“Lebih dari 96% bahan baku diimpor, sehingga harganya pun sangat bergantung pada harga dolar. Padahal, bahan baku obat yang diimpor pun ada yang tidak memenuhi standar pharma grade,” ujar Roy.

Sedangkan Presiden Direktur PT Dexa Medica, Ferry Soetikno mengatakan salah satu solusi permasalahan ini adalah dengan memproduksi sendiri bahan baku obat dengan memanfaatkan bahan lokal.

“Saat ini sudah ada cikal bakal produksi bahan baku obat dengan ekstrak bahan alam. Pengusaha pun mendesak pemerintah untuk menggenjot produksi bahan baku lokal ini,” kata Ferry. (Joko Nugroho/*)

Pasar farmasi Indonesia tahun 2016 diperkirakan tumbuh 11,8% dengan total nilai sebesar US$ 4,6 Miliar dengan konsumsi per kapita US$ 19. Namun bagi industri farmasi, pertumbuhan hanya dinikmati  oleh perusahaan farmasi besar, sedangkan perusahaan domestik dengan skala menengah ke bawah menghadapi kesulitan pemasaran produknya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online