PRODUKSI BERAS BANTUL : Petani Pilih Tanam Palawija, Krisis Beras Mengancam Warga

Bernadheta Dian Saraswati
Bernadheta Dian Saraswati Rabu, 20 Januari 2016 02:20 WIB
PRODUKSI BERAS BANTUL : Petani Pilih Tanam Palawija, Krisis Beras Mengancam Warga

Lahan padi tadah hujan yang baru ditanam di Desa Mangunan, Dlingo mulai mengering dan ditanami rumput liar karena minimnya curah hujan. Gambar diambil, Sabtu (16/1/2016). (Bhekti Suryani/JIBI/Harian Jogja)

Produksi beras Bantul terancam berkurang tahun ini karena sebagian petani memilih menanam palawija di musim hujan ini

Harianjogja.com, BANTUL- Krisis beras mengancam Kabupaten Bantul. Petani beralih menanam palawija ketimbang padi kendati masih dalam periode musim hujan.

Lahan padi di sejumlah wilayah di Bantul kini menyusut. Penyusutan lahan terutama terjadi di wilayah yang memiliki lahan tadah hujan. Di Desa Mangunan, Dlingo, tercatat sekitar 40 hektare lahan tadah hujan kini terpaksa ditanami palawija.

Padahal normalnya, pada musim hujan seperti sekarang puluhan hektare lahan itu ditanami padi. “Sekarang ditanamai kacang-kacangan dan jagung petani enggak berani menanam padi,” ungkap Kepala Desa Mangunan, Dlingo, Poniyat, Senin (18/1/2016).

Pasalnya kata Poniyat, curah hujan saat ini sangat rendah dibanding musim hujan sebelumnya. Padahal tanaman padi membutuhkan banyak air. Petani khawatir gagal panen lantaran nekat menanam padi saat pasokan air minim.

Dari pada lahan menganggur, para petani akhirnya memilih menanam palawija di musim hujan. Kondisi ini berpotensi menganggu ketahanan pangan. Berkurangnya tanaman padi dapat menimbulkan krisis beras di kemudian hari.

“Untungnya petani di sini, menanam padi itu kebanyakan untuk ditabung buat makan tidak untuk dijual. Tapi sekarang enggak ada lagi padi hanya palawija,” papar dia.

Sementara itu di Desa Dlingo, Kecamatan Dlingo krisis beras juga membayangi warga. Kepala Desa Dlingo Bahrun Wardoyo mengatakan, para petani kini dibayangi gagal panen. “Petani itu tetap menanam padi, cuma sekarang kondisi padinya kritis berpotensi gagal panen,” ujar Bahrun Wardoyo.

Bahrun mencatat ada sekitar sepuluh hektare lahan padi kini dalam kondisi kritis dan terancam gagal panen. Tersebar di tiga dusun yaitu Dusun Dlingo, Koripan dan Pakis. Umur padi tersebut baru 40 hari namun kekurangan air hingga akhirnya mengering. Fenomena alam El Nino yang menyebabkan rendahnya curah hujan ditengarai berdampak buruk pada sektor pertanian saat ini.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Bantul Partogi Dame Pakpahan mengklaim, pemerintah tetap optimistis produksi padi di Bantul tidak akan terganggu kendati curah hujan di Bantul rendah.

“Karena di Sleman atau wilayah utara masih sering hujan. Artinya kalau di utara hujan maka sungai-sungai kita di Bantul masih akan teraliri air untuk keperluan irigasi,” terang Partogi belum lama ini.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online