Jembatan Kretek Dua Bakal Diimbangi Pengembangan Wisata
JIBI/Desi Suryanto Sejumlah kios pada Pasar Seni dan Kerajinan Kulonprogo di jalan Wates, Sentolo, Kulonprogo, DI. Yogyakarta tidak buka dan mangkrak seperti terlihat pada Rabu (17/04/2013). Sepinya tingkat kunjungan wisatwan maupun warga yang hendak berbelaja kerajinan membuat kebanyakan kios menutup tempat usahanya, hanya terdapat sekitar empat kios saja yang buka setiap harinya. Para pemilik usaha ditempat tersebut berharap pemerintah memperbanyak promosi pusat seni dan kerajinan itu.
Pasar seni dan kerajinan di Sentolo Kulonprogo kini hanya dihuni tiga
Harianjogja.com, KULONPROGO- Kondisi Pasar Seni dan Kerajinan Kulonprogo memprihatinkan. Hanya terdapat tiga pedagang yang bertahan rutin membuka tokonya dengan kondisi penjualan tak menentu.
Pasar seni dan kerajinan Kulonprogo sepi pengunjung dan juga minim pedagang. Pasar yang telah dibuka sejak 2013 lalu itu kini hanya menyisakan tiga pedagang yang rutin membuka kiosnya. Kios-kios tersebut antar lain kios tas serat alam, kios kerajinan batik, dan rumah makan.
Harry Pratiknyo, salah satu pemiliki kios tas serat alam di pasar tersebut menyatakan bahwa sudah setahun terakhir para pedagang satu-satu mulai menutup kiosnya di sana. Pihak pemerintah juga tak pernah ada yang tampak meninjau keberadaan kios tersebut.
Ia menuturkan bahwa sebenarnya ada beberapa yang berusaha bertahan namun tak kuat karena terus merugi. “Kan biaya operasionalnya jalan terus, tidak ada pemasukan tapi malah rugi,”ujarnya pada Senin (8/2/2016).
Ia sendiri masih bertahan karena pemasukan utamanya terletak pada orderan produknya yang rutin datang dari pedagang di Malioboro dan Bali. Kiosnya sendiri lebih difungsikan sebagai tempat pengerjaan akhir produknya dibandingkan sebagai tempat penjualan.
Harry menyebutkan bahwa jarang sekali ada pembeli yang datang ke kiosnya untuk membeli barang dagangannya. Letak pasar milik pemerintah yang terletak di sisi jalan utama masuk Kulonprogo itu juga tak membantu, ia menuturkan bahwa jarang sekali ada bis pariwisata yang masuk ke pasar tersebut.
Ia juga menyebutkan bahwa banyaknya kios yang tutup menjadikan pasar tersebut seakan mati suri. Terlebih lagi, beberapa kios yang berada di bagian depan pasar kemudian berganti menjadi bengkel dan toko onderdil motor. Padahal, di bagian yang sama juga terdapat kios kerajinan tas dan produk batik. “Jadinya malah tidak jelas,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Katarak kini banyak menyerang usia muda. Faktor diabetes dan paparan UV jadi penyebab utama, kenali gejala sejak dini.
Garebeg Besar 2026 di Keraton Jogja digelar tanpa kirab prajurit. Prosesi tetap sakral meski format disederhanakan.
Jadwal KRL Jogja–Solo terbaru 2026 lengkap dari Tugu ke Palur. Tarif Rp8.000, perjalanan cepat, praktis, dan hemat.
DPRD Bantul dukung penataan guru honorer jadi PPPK. Pemkab setop rekrutmen honorer baru hingga 2026.
Jadwal KRL Solo–Jogja terbaru 2026 lengkap dari Palur ke Tugu. Tarif Rp8.000, perjalanan cepat dan efisien.