Peserta Ako Amoy Jalani Tes Urine

Bernadheta Dian Saraswati
Bernadheta Dian Saraswati Jum'at, 25 Maret 2016 16:20 WIB
Peserta Ako Amoy Jalani Tes Urine

Peserta Ako Amoy Indonesia 2016 mengikuti tes urine di The Sahid Rich Jogja Hotel, Kamis (24/3/2016). (Bernadheta Dian Saraswati/JIBI/Harian Jogja)

Peserta Ako Amoy menjalani tes urine deteksi narkoba

Harianjogja.com, SLEMAN-Sebanyak 90 peserta kompetisi Ako Amoy Indonesia 2016 mengikuti tes urine, Kamis (24/3/2016). Tes urine sebagai salah satu tahap penyisihan peserta menuju pemenang Ako Amoy Indonesia 2016.

Kompetisi Ako Amoy Indonesia merupakan ajang pemilihan putra-putri Tionghoa keturunan sub suku Hakka. Mereka yang terpilih akan mewakili Indonesia untuk maju dalam pemilihan Ako Amoy tingkat dunia di Tiongkok, September mendatang.

Kasubag Umum Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Jogja Adiyanti Catur Prasojo mengatakan, tes urine dilakukan sejak pukul 06.00 WIB. Sebelum memulai aktivitas karantina, para peserta menyerahkan urine mereka kepada petugas.

Urine tersebut kemudian diobservasi untuk mengetahui apakah yang bersangkutan terindikasi penyalahgunaan obat terlarang atau tidak. “Tidak hanya narkotika murni tapi zat-zat yang sudah terkandung dalam metamfetamen atau benso morfin,” kata Catur ditemui di The Sahid Rich Jogja Hotel, Kamis.

Menurutnya jika ditemukan peserta yang terindikasi obat terlarang maka BNN segera melakukan assessment dan bisa sampai pada tahap rehabilitasi.

Ketua Panitia Bidang Pembekalan Ako Amoy Indonesia 2016 Lies Jenny menyampaikan, peserta yang positif mengonsumsi obat-obat terlarang secara langsung akan didiskualifikasi atau dieliminasi dari kompetisi. “Syarat utama peserta harus bersih dari narkoba. Kalau ada terindikasi, langsung dieliminasi,” ungkapnya.

Tes urine tersebut sebagai salah satu proses untuk menjaring Ako Amoy Indonesia 2016 yang humanis, spiritual, dan intelektual. “Tiga kriteria itu yang ingin kami temukan dari pemenangnya nanti,” kata Jenny.

Beberapa kegiatan dilakukan selama masa karantina. Untuk kegiatan yang berhubungan dengan humanity, peserta diajak berkunjung ke Yayasan Sayap Ibu Cacat Ganda di Kalasan, Sleman. Kegiatan spiritual dengan pembinaan sikap dan mental. Sementara kegiatan intelektual dengan pembekalan jurnalistik, tabble maner, dan juga penyuluhan dari BNN.

Jenny mengatakan, mayoritas peserta masih duduk di bangku kuliah. Peserta Ako [pria] berusia 18-25 tahun sementara Amoy [wanita] berusia 17-25 tahun. Mereka akan mengikuti malam grand final pada Minggu (27/3/2016) mendatang.

“Mereka yang terpilih nanti akan mengemban tugas layaknya putri Indonesia yakni mengemban kegiatan sosial, jadi inspirasi banyak orang, dan membawa nama Hakka untuk kegiatan apapun,” ujar dia.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online