FASILITAS DIFABEL : Penyandang Disabilitas Belum Dapatkan Pendidikan yang Memadai

Sekar Langit Nariswari
Sekar Langit Nariswari Kamis, 07 April 2016 15:55 WIB
FASILITAS DIFABEL : Penyandang Disabilitas Belum Dapatkan Pendidikan yang Memadai

Salah satu penerjemah bahasa isyarat mengalihbahasakan materi seminar yang dipaparkan pemateri kepada penyandang disabilitas tuan rungu di Dinsosnakertrans Kulonprogo, Rabu (6/4/2016). (Sekar Langit Nariswari/JIBI/Harian Jogja)

Fasilitas difabel untuk bidang pendidikan belum sepenuhnya terpenuhi

Harianjogja.com, KULONPROGO- Wahyu Adi Nugroho, Kepala Dukuh Senden, Desa Sidorejo, Kecamatan Lendah yang merupakan salah satu desa inklusi menjelaskan bahwa masih banyak penyandang disabilitas yang belum memiliki pendidikan yang memadai.

Hal ini dikhawatirkan akan menjadi penghambat penyerapan penyandang disabilitas sebagai tenaga kerja khususnya di sektor formal dalam megaproyek Kulonprogo. “Pendidikannya kadang hanya SMP, jikapun lulus universitas atau SMA biasanya dari ekonomi menengah ke atas,” ujarnya, Rabu (7/4/2016).

Ia memaparkan bahwa kurangnya kemampuan pendidikan ini disebabkan karena rendahnya kesadaran keluarga akan kesetaraan bagi penyandang disabilitas. Bahkan, ada sejumlah penyandang disabilitas yang tak terdaftar dalam Nomor Induk Kependudukan (NIK).

Pasalnya keluarga merasa malu sehingga tak mendaftarkan anggota keluarganya yang menyandang disabilitas. Selain itu, ia menyebutkan bahwa mobilitas bagi penyandang disabilitas juga masih sulit. Hal ini menjadikan semakin sulit bagi penyandang disabilitas untuk berinteraksi dengan masyarakat luas serta mendapatkan kesempatan kerja.

Sebagian besar penyandang disabilitas memang bekerja di sektor-sektor informal seperti pertanian, pertenakan, dan usaha kuliner rumahan.

Untung Riyanto, warga Dusun Sumoroto, Desa Sidoharjo, Kecamatan Samigaluh menjelaskan bahwa ia selama ini masih merasakan kendala dalam hal ekonomi. Pria penderita low vision yang setiap harinya berprofesi sebagai buruh pertanian dan peternakan ini menyatakan ingin bisa ikut direkrut dalam lapangan pekerjaan yang tercipta karena adanya mega proyek di Kulonprogo.

“Pekerjaannya jadi lebih jelas, ekonominya lebih enak,” ujarnya. Ia sendiri mengharapkan bahwa perekrutan tenaga kerja penyandang disabilitas bisa dilakukan lebih dari 1%.

Deretan sepeda motor tertata rapi dibrumah Maryadi. Direlokasinya parkir trotoar timur Maliobiro memberi rezeki bagi penyedia penitipan motor di gang-gang sepanjang Malioboro.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online