20 Tahun Gempa Jogja, Sekolah di Sesar Opak Diperkuat Hadapi Bencana
Kemenko PMK dan TWC perkuat 10 sekolah di Sesar Opak lewat program SPAB. Momentum 20 tahun Gempa Jogja dorong budaya sadar bencana.
Peringatan Hari Jadi Sleman ke-110 ditutup dengan pelepasan burung Jalak Kebo oleh Bupati Sleman Harda Kiswaya bersama jajaran Forkopimda sebagai simbol harapan dan keberlanjutan kehidupan, Sabtu (23/5/2026) di Lapangan Degung. Ist/pemkabsleman
Harianjogja.com, SLEMAN — Peringatan Hari Jadi ke-110 Kabupaten Sleman berlangsung khidmat sekaligus meriah di Lapangan Denggung, Sabtu (23/5/2026). Momen ini tidak sekadar seremoni tahunan, tetapi menjadi refleksi mendalam bagi perjalanan daerah menuju masa depan yang lebih berkelanjutan.
Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, hadir langsung dan bertindak sebagai Panghageng Upacara. Dalam amanatnya, Sultan menegaskan bahwa peringatan hari jadi harus dimaknai lebih dari sekadar perayaan usia.
"Hari jadi ini harus menjadi saat untuk mulat sarira: melihat kembali apa yang telah dijalani, meneguhkan apa yang harus diperbaiki, dan melangkah bersama menuju Sleman yang semakin ayom, ayem, sejahtera, lestari, dan bermartabat," ujar Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Rangkaian acara diawali dengan prosesi napak tilas Bedhol Projo yang bergerak dari Pendopo Ambarukmo menuju Pendopo Parasamya Kantor Setda Sleman. Prosesi sakral ini kemudian dilanjutkan dengan kirab pusaka Tombak Kyai Turunsih menuju Lapangan Denggung, yang menjadi pusat peringatan.
Suasana semakin semarak dengan kehadiran Bupati Sleman Harda Kiswaya, Wakil Bupati Danang Maharsa, jajaran DPRD, Forkopimda, serta masyarakat yang memadati lokasi acara. Kehadiran berbagai elemen tersebut menunjukkan kuatnya kebersamaan dalam merayakan hari jadi daerah.
Sultan juga menyoroti tema peringatan tahun ini, “Nggendong Mikul Murih Rahayuning Sleman”, yang sarat makna filosofis. Menurutnya, pembangunan daerah tidak cukup hanya mengejar kemajuan fisik, tetapi juga harus menjaga harmoni batin, nilai kemanusiaan, serta akar budaya lokal.
Ia mengingatkan agar modernisasi tidak menggerus identitas budaya yang telah menjadi kekuatan Sleman selama ini. Oleh karena itu, nilai welas asih, kebersamaan, dan pelestarian tradisi harus terus dijaga.
Selain itu, Sultan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus “gumregah, gumregut, dan sengkud”—bangkit, bergerak penuh semangat, dan bekerja keras dalam membangun daerah.
Peringatan Hari Jadi Sleman ke-110 juga dimeriahkan dengan penampilan tari kolosal yang melibatkan para seniman lokal. Acara ditutup dengan pelepasan burung Jalak Kebo oleh Bupati Sleman bersama jajaran Forkopimda sebagai simbol harapan dan keberlanjutan kehidupan.
Momentum ini menjadi penegas bahwa Sleman tidak hanya bergerak maju secara pembangunan, tetapi juga tetap berakar kuat pada nilai budaya dan kearifan lokal di tengah arus perubahan zaman.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kemenko PMK dan TWC perkuat 10 sekolah di Sesar Opak lewat program SPAB. Momentum 20 tahun Gempa Jogja dorong budaya sadar bencana.
Program MBG serap 1,28 juta tenaga kerja dan libatkan ribuan UMKM. Dampaknya terasa dari dapur hingga sektor pangan nasional.
Persis Solo terdegradasi ke Liga 2 meski menang 3-1. Suporter kecewa, Wali Kota Solo minta tim segera bangkit.
Persib Bandung resmi juara Super League dan cetak hattrick. Bobotoh rayakan kemenangan meriah di Stadion GBLA.
Dua pria ditangkap usai diduga tabrak lari di Solo. Mobil menabrak tiang dan pohon, pelaku sempat diamuk massa.
Lima dosen UPN Jogja disanksi setelah terbukti lakukan pelecehan verbal. Kampus tegaskan komitmen lingkungan bebas kekerasan.