Kebakaran TPA Jatibarang Semarang, 22 Warga Batuk dan Sesak Napas
Kebakaran TPA Jatibarang Semarang memasuki hari kelima. Sebanyak 22 warga mengalami batuk dan sesak napas akibat terdampak asap.
Pengelolaan sampah di Gedangsari akan dilakukan secara mandiri
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL-- Warga di Dusun Gedangsari, Desa Baleharjo, Wonosari mulai menghidupkan semangat untuk melakukan pengelolaan sampah secara mandiri. Hal tersebut dilatar belakangi oleh kondisi lingkungan yang mulai tak terkendali terhadap produksi sampah yang semakin banyak.
Ketua RW 05 Dusun Gedangsari, Supiyo mengungkapkan ide program pengelolaan sampah secara mandiri tercetus karena melihat kondisi masyarakat yang kesulitan dalam mengelola sampah.
Selama ini warganya terpaksa membakar sampah ataupun membuangnya ke sungai. Menurutnya hal tersebut telah berada di kondisi yang memprihatinkan karena akan mencemari lingkungan.
“Saya dan beberapa warga sepakat untuk membentuk kelompok untuk mengatasi permasalahan tersebut,” kata dia, Senin (2/5/2016).
Ia mengatakan aksi kesadaran warga tersebut cukup didukung oleh pemerintah, termasuk pemerintah desa dan Kantor pengendalian dampak lingkungan (Kapedal) Gunungkidul.
Ia mengaku telah mensosialisasikan program tersebut dan memohon untuk bantuan finansial. Namun, akunya pemerintah akan memberikan bantuan apabila program tersebut telah terlaksana (praktek) dahulu. Sehingga untuk saat ini, dalam memulainya masih mengandalkan swadaya dari kelompok.
“Semua biaya masih kami tanggung dari swadaya dulu, nanti akan kami perlihatkan bahwa program kelola sampah mandiri ini dapat berjalan dengan baik,” kata dia.
Beberapa sarana pendukung diantaranya yakni gerobak motor roda tiga dengan menggelontorkan biaya Rp8 juta telah dipersiapkan untuk mengambil sampah di rumah-rumah warga.
Selain itu, rumah pengelolaan sampah pun telah dibangun di atas tanah kosong milik salah satu anggota kelompok. Rumah kelola sampah tersebut dibangun secara sederhana menggunakan kayu-kayu bekas dan bambu.
Nantinya rumah pengelolaan tersebut akan berfungsi sebagai tempat pemilahan antara sampah kering dan basah. Sampah kering nantinya dikumpulkan dan berusaha untuk dapat diolah kembali dan dimanfaatkan. Sedangkan sampah basah akan dibuang di Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPAS) Wukirsari, Baleharjo.
Dalam pengelolaan sampah mandiri, anggota kelompok yang terdiri dari sepuluh orang tersebut akan mengambil sampah secara rutin setiap tiga hingga empat kali dalam seminggu.
Selama ini Dinas Pekerjaan Umum (DPU) sebenarnya telah melakukan operasi pengambilan sampah, namun hanya satu hingga dua kali dalam seminggu. Hal tersebut dirasa kurang efektif karena jumlah sampah yang dihasilkan tiap rumah tangga cukup menumpuk. Nantinya setiap rumah tangga akan dikenai biaya Rp6.000 setiap bulannya.
Sementara itu, Kepala Dusun Gedangsari, Tugiyanto mengungkapkan dirinya sangat mengapresiasi inovasi yang dilakukan oleh warga dusunnya tersebut. Dengan begitu, Dusun Gedangsari kini dapat mengelola sampah secara mandiri seperti dusun lain, diantaranya dusun Purwosari dan Rejosari, Baleharjo.
“Jelas mendukung, program yang sangat baik untuk membuat lingkungan lebih bersih lagi,” kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kebakaran TPA Jatibarang Semarang memasuki hari kelima. Sebanyak 22 warga mengalami batuk dan sesak napas akibat terdampak asap.
Kemenhaj memperkuat integrasi data setelah menemukan 597.860 data jemaah bermasalah di tengah antrean haji yang mencapai 5,7 juta orang.
Teddy Indra Wijaya menilai MotoGP Mandalika 2026 menjadi kesempatan bagi pembalap muda Indonesia sekaligus memperkuat citra pariwisata nasional.
Veda Ega Pratama akan start ketujuh di Moto3 GP Indonesia 2026 setelah mencatat waktu 1 menit 37,24 detik pada kualifikasi di Mandalika.
SDN Purwosari memanfaatkan sekitar 600 galon bekas untuk kebun sekolah. Siswa belajar bertani, mengolah limbah, dan mengenal ketahanan pangan.
Sahran Hadziq meraih gelar doktor hukum di FH UII lewat disertasi tentang sistem pemidanaan nasional berbasis kearifan lokal masyarakat adat Bali.