KULINER JOGJA : Tampil ala Penjara, Sajikan Menu Peranakan

Bernadheta Dian Saraswati
Bernadheta Dian Saraswati Sabtu, 07 Mei 2016 20:20 WIB
KULINER JOGJA : Tampil ala Penjara, Sajikan Menu Peranakan

Salah satu menu baru Bong Kopitown bernama Tumpeng Manado Ayam. (Bernadheta Dian Saraswati/JIBI/Harian Jogja)

Kuliner Jogja kini semakin beragam.

Harianjogja.com, JOGJA-Bong Kopitown merupakan salah satu restoran unik yang ada di kasawan Sagan Kidul Jogja. Konsep interior yang ditampilkan menyerupai penjara tahanan. Pramusajinya pun mengenakan pakaian motif garis yang lekat dengan pakaian narapidana.

Meski namanya Kopitown tetapi restoran yang lahir sejak tiga tahun lalu di Jogja ini bukanlah sebuah coffee shop. Justru makanan yang disajikan mengangkat menu-menu peranakan seperti Ubud Crispy Duck with Nasi Uduk, Singkawang rojak, dan tiga menu terbarunya Tumpeng Manado Ikan, Tumpeng Manado Ayam, dan Tumpeng Bali.

Founder Bong Kopitown Bong Candra mengatakan, ia sengaja tidak mengangkat menu-menu western.
“Menu western itu seperti hanya ada untuk hari spesial seperti ulang tahun. Kalau menu peranakan bisa sewaktu-waktu. Konsep makanan daily bisa makan di Kopitown kapan pun,” kata dia saat melaunching tiga menu barunya di Bong Kopitown, Senin (2/5/2016).

Menanggapi industri restoran yang naik turun, ia menyiptakan restoran untuk jangka panjang. “Kami tidak ingin menyiptakan restoran hanya untuk tren tapi lebih pada jangka panjang dan tidak tren sesaat,” kata dia. Menurutnya menu peranakan yang ia sajikan itu mengakomodir lidah masyarakat Indonesia yang membutuhkan makanan nusantara secara harian.

Konsep penjara yang ia hadirkan sendiri bertujuan mendekatkan penjara pada masyarakat. Ia ingin anggapan menyeramkan tentang penjara hilang. Ia ingin membuka stigma bahwa penjara itu menyenangkan melalui menu yang disajikan serta layanan para pramusaji yang ramah.

Konsep penjara ini muncul dari sebuah cerita fiksi di Hongkong tahun 1967. Saat itu, tutur Bong, ada dua sahabat bernama Bong dan Kim. Mereka harus berpisah karena Kim harus mendekam di penjara akibat kesalahan yang tidak dilakukannya.

Sebagai sahabat yang setia, Bong memutuskan menemani Kim dengan menjadi koki di dapur penjara tersebut. Masakannya yang sangat enak membuat nara pidana yang seharusnya sudah lepas masa tahanan justru menginginkan untuk diperpanjang. Mereka merasa ketagihan dengan menu yang disajikan Bong. Pemerintah pun akhirnya menutup penjara itu dan membuka restoran.

Di Jogja, Bong menempatkan jeruji-jeruji besi dalam restorannya. Ia ingin menyulap restorannya menjadi sebuah sel tahanan. Alat penyajinya pun terbuat dari bahan alumunium layaknya piring dan gelas yang dipakai sipir untuk memberi makan para narapidana.

Bong Kopitown memiliki cabang di enam tempat. Pertama di Kelapa Gading Jakarta, Jogja, Sudirman Jakarta, Bekasi, Karawaci, dan Alam Sutra.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online