PASAR MODAL DIY : Banyak Saham Tidur, Investor Diminta Lebih Jeli

Kusnul Isti Qomah
Kusnul Isti Qomah Rabu, 11 Mei 2016 12:20 WIB
PASAR MODAL DIY : Banyak Saham Tidur, Investor Diminta Lebih Jeli

Pasar modal DIY, BEI mengajak investor lebih cermat.

Harianjogja.com, JOGJA -- Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) DIY meminta masyarakat lebih jeli ketika akan menginvestasikan dananya di pasar modal karena masih banyak saham tidur atau mati suri.

Kepala Kantor Perwakilan BEI DIY Irfan Noor Riza mengungkapkan, kondisi saham dikatakan tidur misalnya karena tidak ada aktivitas perdagangan jual beli, bisa juga karena perusahaan yang merugi sehingga tidak ada peminatnya,

"Harganya bahkan turun terus hingga batas bawah misalnya Rp50," ujar dia, Selasa (10/5/2016).

Ada sekitar 500 perusahaan di Indonesia yang listing di BEI yang tentu saja kondisinya tidak semua bagus. Oleh karena itu, investor diminta lebih hati-hati saat memilih agar uangnya tidak tersangkut di saham tidur.

"Untuk investor di DIY, jumlah investor yang nyangkut di saham tidur jumlahnya sangat kecil," ucap dia.

Irfan menyebutkan, sampai Maret 2016, jumlah investor di DIY tercatat 15.651 investor. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1% atau sekitar 150 investor yang investasinya tersangkut di saham tidur.

Hal itu bisa terjadi karena investor asal pilih perusahaan. Biasanya hal ini terjadi pada investor baru. Para investor biasanya mendapatkan aplikasi dari perusahaan sekuritas yang memungkinkan melihat kinerja perusahaan yang diinginkan. Para investor diharapkan memeriksa dahulu perusahaan yang akan ditanami modal.

"Paling gampang ya pilih perusahaan yang produknya selalu digunakan setiap hari," jelas dia.

Pengetahuan akan pasar modal harus terus dikembangkan seiring investor saham di DIY terus bertumbuh. Pasar DIY dinilai cukup menarik. "Untuk nilai transaksi rata-rata per bulan Rp245 miliar hingga Rp250 miliar. Harapannya semakin banyak masyarakat DIY yang melek investasi," ucap dia.

Ia mengungkapkan, BEI DIY mendukung segala bentuk kegiatan sosialisasi mengenai pasar modal dan reksa dana. Tujuannya, agar literasi masyarakat semakin meningkat setiap harinya. Reksa dana bisa menjadi pilihan bagi masyarakat yang baru pertama kali ke pasar modal karena memiliki risiko yang lebih kecil. Ia juga berharap peminat reksa dana semakin meningkat.

"Tapi, untuk data investor reksa dana, kami tidak bisa mendapatkan data dari pihak perbankan," ucap dia.

Ia menjelaskan, ada dua agen penjual reksa dana yakni perusahaan sekuritas dan perbankan. Data yang didapat dari perusahaan sekuritas, peminat reksa dana di DIY cukup besar. Hal itu ditunjukkan dari permintaan yang tinggi setiap ada produk baru yang diluncurkan baik reguler maupun syariah.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Artikel Penulis