LEBARAN 2016 : Makin Sore, Harga Slongsongan Ketupat Kian Mahal

Sekar Langit Nariswari
Sekar Langit Nariswari Selasa, 05 Juli 2016 15:55 WIB
LEBARAN 2016 : Makin Sore, Harga Slongsongan Ketupat Kian Mahal

Penjual slongsongan ketupat di sekitar Pasar Wates (Sekar Langit Nariswari/JIBI/Harian Jogja)

Lebaran 2016, penjual ketupat terus bermunculan.

Harianjogja.com, KULONPROGO -- Ratusan penganyam ketupat memenuhi trotoar di sekitar Pasar Wates sehari jelang perayaan Lebaran. Para penganyam ini sengaja meninggalkan aktivitasnya sehari-hari guna menuai rezeki dari barang yang sudah menjadi ikon Lebaran ini.

Sejumlah pengayam ketupat duduk di berbagai sudut di sepanjang trotoar sekitar Pasar Wates. Sementara itu, puluhan lainnya juga duduk di dalam Pasar Wates berdesak-desakkan dengan pengunjung yang juga memenuhi pasar induk tersebut. Paiso, salah satu penganyam ketupat asal Pengasih, mengatakan bahwa ini memang menjadi tradisi rutinnya sehari jelang Lebaran.

“Memang pasti setiap tahun di sini,”jelasnya.

Ia biasanya menganyam dan menjual slongsongan ketupat sebanyak 1.500-3.000 buah tiap tahun. Ia membawa janur yang dibutuhkan dan duduk menunggu pembeli sembari menganyam ketupat. Slongsongan ketupat tersebut diberi harga berkisar Rp600-Rp1.000 per buah.

Paiso biasanya menjualnya dalam satu bundel yang berisi 10 buah ketupat. Harga yang diberikan pun tergantung kondisi si pembeli. Ia bersedia memberi harga sedikit murah apabila di pembeli merupakan kenalan atau kerabat. Meski demikian, diakuinya, harga satu bundel ketupat kosong akan semakin mahal jika hari semakin sore.

Ia sendiri sehari-hari bekerja sebagai pegawai di salah satu katering ternama di Wates. Namun, profesi tersebut ditinggalkannya sehari demi menjadi penganyam ketupat karena dirasa lebih menguntungkan. Meski katering tempatnya bekerja menawarkan gaji Rp300.000 per hari jelang Lebaran, namun Paiso menolaknya. Selain omzet yang lebih melimpah, menurutnya menjadi penganyam ketupat sekaligus meberikan kesempatan baginya bertemu kenalan-kenalannya yang merantau.

Sementara itu, Sukijo, salah satu penganyam ketupat asal Nanggulan mengakui bahwa omzet penjualan slongsong ketupat memang sangat menggiurkan. Karena bisa memilik tempat seadanya selama satu hari tersebut, ia nyaris tidak perlu mengeluarkan modal apapun. Apalagi janur yang digunakan diambil dari kebunnya langsung. Otomatis ia hanya membutuhkan keterampilan menganyamnya sembari duduk ditemani putrinya.

Biasanya, Sukijo menyediakan 15 batang janur untuk dianyam dan dijual di setiap perayaan Lebaran. Ia sendiri telah menjadi penganyam ketupat musiman sejak 5 tahun yang lalu.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online