KAMPUS JOGJA : Terjun Payung PPSMB, Menyatukan Menwa Antar Angkatan UGM
Kampus Jogja UGM memiliki cara baru menyambur maba.
Harianjogja.com, SLEMAN -- Salah satu rangkaian pembukaan Pelatihan Pembelajar Sukses bagi Mahasiswa Baru (PPSMB) Universitas Gadjah Mada (UGM) 2016 adalah atraksi terjun payung yang akan dilakukan oleh Tentara Nasional Indonesia dan Alumni Resimen Mahasiswa (Menwa) UGM. Aksi ini tak akan sekedar menjadi atraksi semarak bagi mahasiswa baru, melainkan ajang perjumpaan dan bertukar rindu antar alumni Menwa UGM.
Sekitar pukul 11.45 WIB pada Minggu (31/7/2016) proses gladi bersih terjun payung untuk membuka rangkaian PPSMB selesai diselenggarakan. Sejumlah atlet dan penerjun payung kemudian beristirahat dan berteduh dari panasnya cahaya matahari yang mulai menyengat kulit.
Selanjutnya, Harianjogja.com menemui salah seorang penerjun payung yang mengenakan baju terusan khas para penerjun berwarna merah. Lelaki yang kediamannya di Kalasan, Sleman itu bernama Tono Junaedi. Ia menuturkan, atraksi terjun payung ini merupakan persembahan dari Keluarga Alumni Menwa Gadjah Mada (Kamenwagama) bekerja sama dengan anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI). Meskipun saat atraksi gladi bersih tadi angin sempat berhembus dengan kecepatan 10 knot, terjun payung tetap berlanjut karena kemudian saat parasut dikembangkan angin bertiup tujuh knot.
"Ada tiga kali drop, satu kali drop penerjun sebanyak 10 orang, dengan gongnya sejumlah penerjun membawa bendera yang bergambarkan identitas UGM, Kagama, Menwa hingga bendera merah putih. Namun untuk besok [hari ini, Senin (1/8/2016)] saat atraksi sesungguhnya, kami memiliki kejutan," ungkap alumni Fakultas Geografi UGM itu.
Sebagai alumni Menwa ia amat senang dapat memberikan partisipasinya dalam atraksi terjun payung, yang akan ditonton oleh sekitar 10.000 Gadjah Mada Muda [sebutan untuk mahasiswa baru UGM] tersebut. Ia melihat dengan adanya terjun payung ini justru kemudian menjadi media yang menyatukan Menwa antara angkatan mulai dari angkatan pertama hingga angkatan 36, saat ini. Sedianya, alumni yang kini dapat saling menyokong untuk kesuksesan atraksi itu, akan membuka lembaran baru bagi Menwa, baik membuka koperasi dan aktivitas sosial lain bersama.
Atlet terjun payung Daerah Istimewa Yogyakarta yang akrab disapa TJ itu menyatakan, sebagai seorang penerjun yang sudah 1.800 kali terjun payung itu ada sesuatu yang berkesan baginya. Bahkan begitu berkesan.
"Sejak kecil saya memiliki cita-cita, saya ingin menggapai cita-cita setinggi langit, dan kini saya mampu mencapainya, dengan penerjun saya bisa setinggi langit," tutur Tono yang pernah menjadi Komandan Kompi Markas, ketika menjadi anggota Menwa UGM.
Sementara itu Ketua Kamenwagama Budi Setyono mengatakan, ada sekitar 30 orang penerjun yang terlibat, berasal dari TNI Angkatan Darat dan Kamenwagama, selain itu nantinya penerjun akan terbang di langit Jogja 'diantar' menggunakan pesawat CN-295 milik TNI Angkatan Udara dari squadron Halim Perdanakusuma.
Semua penerjun telah menjalani tes kesehatan fisik dan menandatangani pernyataan, untuk mengambil tanggung jawab pribadi atas apapun yang terjadi dalam kegiatan penerjunan. Hanya saja Budi berharap, mahasiswa baru dan semua yang menonton atraksi ini tidak berkerumun dekat dengan tanda silang berwarna oranye sebagai tempat mendarat penerjun. Demi keamanan dan kenyamanan bersama.
Lepas dari rangkaian PPSMB, Budi menyatakan memiliki visi yang akan diwujudkan usai terjun payung ini terlaksana. Ia akan membangkitkan kembali UKM Terjun Payung UGM. Ia mengenang, UKM Terjun Payung di kampus biru itu sudah aktif sejak 1976. Meski demikian, pada 2011 ada aktivitas terjun payung yang hanya diikuti oleh dua orang penerjun saja, usai itu, aktivitas UKM Terjun Payung terhenti.
"Kami sebagai Kamenwagama akan mengawali ini, kami akan membangkitkan UKM Terjun Payung ini, namun lewat Menwa, jadi kalau ada mahasiswa baru tertarik mengikuti olahraga terjun payung, bisa masuk dalam organisasi Menwa," kata dia.
Direktur Kemahasiswaan UGM Senawi yang hadir di kesempatan gladi bersih menegaskan, UGM ingin meningkatkan jiwa nasionalisme dalam diri mahasiswa, UGM ingin menghasilkan lulusan yang kompeten, unggul dan melebihi kualitas rata-rata lulusan perguruan tinggi yang ada. Karena lulusan UGM harus siap menjadi pemimpin masa depan, mereka harus memiliki sifat adil, cerdas dan rasa nasionalisme.
"Menwa menjadi salah satu media mendorong tumbuhnya jiwa nasionalisme, kami akan terus mendorong karena seperti kita ketahui minat mahasiswa untuk masuk Menwa tahun ke tahun semakin berkurang," ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Share