MUSDA KNPI : Sejumlah Organisasi Tolak Hasil Musda KNPI Sleman

Kamis, 04 Agustus 2016 14:20 WIB
MUSDA KNPI : Sejumlah Organisasi Tolak Hasil Musda KNPI Sleman

Ilustrasi demonstrasi (JIBI/Solopos/Antara/Ariawan Abhe)

Musda KNPI Sleman mendapatkan masalah dari sejumlah organisasi kepemudaan

Harianjogja.com, SLEMAN— Pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Sleman yang digelar Minggu (31/7/2016) lalu di Aula Bappeda Sleman dinilai bermasalah. Sejumlah Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) menolak dan tidak mengakui hasil Musda tersebut.

Ketua OKP Fokus Maker Ihwan Setiawan mengatakan, sejumlah OKP yang menolak hasil Musda tergabung dalam OKP Kekaryaan. Mereka menolak hasil Musda karena ada proses kecurangan yang terjadi selama Musda berlangsung.

“Proses pemilihan ketua KNPI Sleman selama Musda kami nilai cacat hukum dan cacat prosedur,” ungkapnya kepada wartawan, Rabu (3/8/2016).

Dia menyebut, sejak awal pelaksanaan Musda beberapa kali diwarnai ketegangan dan peredebatan antar organisasi kepemudaan. Bahkan ketua dan sekretaris yang tergabung dalam OKP Kekaryaan meliputi OKP Baladika Karya, Fokus Maker, Wirakarya, AMPG, AMPI dan AMMDI, melakukan walkout dari jalannya sidang. “Kami walkout karena jalannya Musda sejak awal sudah diwarnai kecurangan,” ujarnya.

Salah satu bentuk kecurangan yang dinilai terkait persyaratan untuk dapat dicalonkan sebagai ketua. Sang calon, katanya, harus mendapat rekomendasi dari tiga pengurus kecamatan (PK), KNPI Sleman, dan enam OKP yang memiliki jalur nasional.

“Kami menilai syarat ini sangat tidak adil, karena akses ke pengurus kecamatan ditutup tutupi, dan hanya satu calon saja yang punya akses,” kata Ihwan.

Sementara, dalam verifikasi syarat pencalonan ketua pun dinilai terjadi kecurangan. Saat itu, muncul tiga kandidat calon ketua yaitu, Ihwan Setiawan ( Fokus Maker), Anton Nugroho (PDPM) dan Sukron Arief Muttaqien (incumbent).

Setelah diverifikasi, dinyatakan hanya dua kandidat yang mampu melengkapi persyaratan administratif, yaitu Ihwan Setiawan dan Sukron Arief Muttaqien. Sedangkan satu calon lagi yakni Ihwan dinyatakan tidak memenuhi syarat.

“Kami menemukan bukti, incumbent melanggar salah satu pasal persyaratan. Yakni, terlambat mengembalikan formulir pendaftaran yang seharusnya dikembalikan paling lambat 30 Juli 2016. Mestinya incumbent tidak lolos,” ujarnya.

Namun dalam sidang, pelanggaran tersebut diperbolehkan lantaran incumbent menyatakan pendaftaran melalui SMS atau yang lain. “Ini bagi kami tidak bisa dibenarkan. Pendaftaran kan dengan mengembalikan formulir, mosok dengan SMS,” kata Ihwan.

Ketua OKP Baladika Karya, Akung Tri Pamungkas menambahkan, pelaksanaan Musda KNPI ini dihadiri oleh 21 OKP dan empat pengurus Kecamatan KNPI ditambah sejumlah peserta peninjau. Menurut Akung, pelaksanaan Musda sejak awal dihujani interupsi sejak pembahasan peserta Musda dipandang melenceng. “Salah satunya adanya rangkap jabatan Ketua KNPI Sleman yang juga menjadi pengurus KNPI DIY,” tuturnya.

Pihaknya mendesak seluruh pemangku kepentingan termasuk Disdikpora agar tidak melantik Ketua terpilih hasil Musda KNPI 2016 Sukron Arief Muttaqien dan menghentikan seluruh bantuan dana operasional bagi KNPI Sleman periode 2016 – 2019. “Ini karena banyak ditemukan penyimpangan. Kami mempertanyakan keabsahan hasil Musda KNPI Sleman,” tandas Akung.

Terpisah, Ketua Panitia Musda KNPI Sleman Dono Permono mengatakan, OKP yang walkout hanya satu dari OKP gabungan yang bernaung di KNPI Sleman. Menurutnya, mayoritas dari 37 OKP yang bernaung dalam KNPI dan mengikuti Musda. “Tidak ada yang salah dalam Musda. Bagi saya, satu gabungan OKP yang menolak tidak masalah. Sebab seluruh proses hingga hasil akhirnya disepakati oleh mayoritas peserta Musda,” ujar Dono saat dikonfirmasi.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online