Premium dengan Jeriken Dilarang, Pengecer BBM Bisa Tambah Untung, Ini Alasannya
JIBI/SOLOPOS/ Sunaryo Haryo Bayu BENSIN ECERAN - Seorang pedagang bensin eceran di Jl Adi Sucipto Solo menunggu pembeli, Senin (2/4). Para pedangang bensin eceran sempat menghadapi ketidakpastian harga saat harga BBM tidak jadi mengalami kenaikan
Premium dengan jeriken dilarang di SPBU
Harianjogja.com, JOGJA-Larangan pembelian premium menggunakan jeriken dirasa menguntungkan pengecer. Pasalnya, keuntungan yang diperoleh bisa semakin besar jika pengecer beralih menjual pertalite atau pertamax.
Budi, salah satu pengecer di daerah Ngemplak, Sleman mengatakan, saat harga premium di SPBU Rp6.550 per liter, ia menjual eceran dengan harga Rp7.000 per liter dan hanya mendapat keuntungan Rp450 per liter. Sementara saat ini harga pertalite di SPBU Rp6.900 per liter.
"Tidak mungkin kan kita jual [pertalite] hanya Rp7.000. Paling tidak jualnya Rp7.500 jadi untung Rp600. Otomatis untung lebih besar," kata dia, Minggu (7/8/2016).
Pihaknya mengaku tidak keberatan dengan kebijakan yang diambil Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) ini, asal pasokan untuk pertalite dan pertamax dipastikan aman.
Jangan sampai karena kebijakan baru ini membuat pertamax dan pertalite makin langka karena konsumsinya meningkat. "Stok harus aman," pintanya.
Terkait hal tersebut, Ketua Hiswana Migas DIY, Siswanto menjamin pasokan untuk pertalite dan pertamax dijamin aman. "Pertamina juga menjamin pasokan pertalite bisa dipasok dari Rewulu yang dulunya dari Boyolali. Ini dilakukan seiring meningkatnya permintaan pertalite," kata Siswanto.
Secara umum pihaknya memastikan bahwa pengecer tidak keberatan dengan disetopnya pembelian premium menggunakan jeriken ini. Seperti ditemuinya saat memantau SPBU di Godean Minggu pagi, ia bertemu dengan seorang pengecer yang mulai beralih pada pertalite.
"Ada ibu bawa dua jeriken dan ngisi pertalite. Waktu saya tanya mboten napa-napa asal saged mlampah [tidak apa-apa ganti pertalite asalkan usahanya tetap jalan]," kata Siswanto.
Dengan kebijakan ini, pengecer dinilainya justru bisa mendapat keuntungan yang maksimal, baik keuntungan secara nominal maupun secara kualitas. Secara nominal, keuntungan lebih besar dibandingkan menjual premium eceran dan keuntungan lainnya pengecer bisa menyediakan bahan-bakar yang kualitasnya lebih baik dibandingkan premium.
"Pengecer cerdas juga karena mereka bisa mendapatkan barang yang lebih baik sementara harga tidak terpaut banyak [antara premium dan pertalite]," imbuhnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Share