Sentra Kulit Manding Bantul Sepi Pembeli, Perajin Terdesak Toko Online

Yosef Leon
Yosef Leon Kamis, 15 Oktober 2026 22:47 WIB
Sentra Kulit Manding Bantul Sepi Pembeli, Perajin Terdesak Toko Online

Pekerja tengah merapikan barang di kawasan pertokoan kerajinan kulit Manding, Sabdodadi, Bantul, Kamis (15/10/2026). Sejumlah toko di kawasan itu sepi dan terpaksa tutup akibat lesu pembeli. / Harian Jogja-Yosef Leon

Harianjogja.com, BANTUL — Sejumlah toko di sentra kerajinan kulit Manding, Sabdodadi, Bantul, menghadapi penurunan jumlah pembeli. Persaingan dengan toko daring yang menawarkan harga lebih murah hingga keluhan konsumen mengenai kualitas dan asal produk menjadi tantangan bagi pelaku usaha di kawasan tersebut.

Pantauan di deretan pertokoan Jalan Dr. Wahidin Sudiro Husodo, Manding, Kamis (15/10/2026), menunjukkan sejumlah toko tutup. Hanya beberapa toko yang masih beroperasi. Di antara toko yang buka, pekerja tampak merapikan dan membersihkan produk yang berdebu.

Ratih, pekerja di salah satu toko kerajinan kulit Manding, mengatakan jumlah pembeli yang datang belakangan ini relatif sedikit. Konsumen yang berbelanja secara langsung umumnya merupakan wisatawan.

"Ya paling pembelinya hanya satu dua, rata-rata juga wisatawan," ungkapnya, Kamis.

Menurut Ratih, pelaku usaha di Manding tidak hanya menghadapi persaingan dari produk kerajinan daerah lain yang masuk ke pasar Yogyakarta, tetapi juga dari toko daring yang menawarkan harga lebih rendah disertai berbagai promosi.

Untuk mempertahankan usaha, sejumlah toko berupaya mendatangkan pembeli melalui kerja sama dengan agen perjalanan wisata. Dengan cara itu, wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta diharapkan singgah di Manding untuk berbelanja.

"Kalau nggak begitu ya sudah lama kami mungkin gulung tikar," ujarnya.

Kualitas Produk Ikut Jadi Sorotan

Kepala Bidang Perindustrian Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian, dan Perdagangan (DKUKMPP) Bantul, Tunik Wusri Arliani, menilai sepinya pembeli di sentra kulit Manding tidak disebabkan satu faktor saja.

Selain persaingan penjualan secara daring, menurut dia, ada keluhan pengunjung mengenai bahan dan asal produk yang dijual di kawasan tersebut.

"Ada yang bilang di sana produknya tidak lagi kulit tapi vinil. Kemudian ada juga yang mengeluh soal produk di sana tidak lagi asli Manding tapi dari Cibaduyut," kata Tunik.

Keluhan tersebut menjadi salah satu persoalan yang perlu diperhatikan pelaku usaha untuk menjaga kepercayaan konsumen. Kejelasan bahan yang digunakan dan asal produk dapat membantu pembeli memahami barang yang ditawarkan sebelum memutuskan berbelanja.

Namun, keluhan itu tidak serta-merta menunjukkan bahwa seluruh produk di Manding menggunakan bahan vinil atau berasal dari luar daerah. Kondisi setiap toko dan produk perlu dilihat secara terpisah.

Regenerasi Perajin dan Rencana Pameran

Pemkab Bantul, menurut Tunik, telah menyiapkan sejumlah upaya untuk menjaga keberlangsungan kerajinan kulit Manding. Salah satunya melalui pembentukan paguyuban perajin dari kalangan generasi muda untuk mendorong regenerasi pelaku usaha.

Perajin juga dapat memanfaatkan Ndalem Kulit Jogja (NKJ), yang dibentuk Pemerintah Daerah DIY, untuk mendukung peningkatan kualitas produk.

Selain pembinaan, pengenalan produk kepada calon pembeli juga dilakukan dengan mengajak tamu dari luar daerah mengunjungi sentra kerajinan tersebut.

"Kalau ada tamu dari luar daerah sebisa mungkin juga kami ajak ke sana untuk mengenalkan produk Bantul, beberapa dari mereka banyak juga yang belanja," ujar Tunik.

Ke depan, DKUKMPP Bantul berencana melibatkan toko dan perajin Manding dalam pameran berskala nasional. Kegiatan tersebut diharapkan memperluas pengenalan produk kerajinan kulit Bantul kepada pasar yang lebih luas.

Meski demikian, rencana itu belum dapat direalisasikan pada tahun ini karena keterbatasan anggaran.

"Tahun ini karena anggaran terbatas memang sama sekali tidak ada. Semoga tahun depan bisa karena dampak dari pameran ini luar biasa sekali dalam mengenalkan produk," pungkasnya.

Upaya menghidupkan kembali sentra kulit Manding pun membutuhkan waktu. Di tengah persaingan harga, pelaku usaha perlu menjaga kualitas, memperjelas identitas produk, dan mencari cara agar pembeli tetap tertarik datang langsung ke sentra kerajinan tersebut.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online