Astrid Dorong Solo Jadi Kota Wisata Sekaligus Pusat Pengetahuan
Wawali Solo Astrid Widayani mendorong Solo menjadi pusat pengetahuan dengan memanfaatkan sejarah, budaya, museum, kampus, dan ruang publik.
Siswa baru bersalaman dengan gurunya di SDN Nogopuro Depok Sleman, Senin (18/7/206). (Sunartono/JIBI/Harian Jogja)
Full day school tidak cocok diterapkan di sekolah pinggiran
Harianjogja.com, SLEMAN- Rencana Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menerapkan Full Day School, ditanggapi pesimistis oleh sekolah-sekolah. Rencana tersebut dinilai tidak efektif, terutama bagi sekolah di wilayah pinggiran.
Guru Kelas VI SDN Rejodani, Sariharjo, Ngaglik, Eko Yulianto mengatakan, banyak persoalan yang akan dihadapi jika kebijakan tersebut diterapkan.
Terutama sekolah yang berada di daerah pinggiran seperti SDN Rejodani tersebut. Selain masalah infrastuktur dan sumber daya manusia, penerapan full day school juga terkendala aspek sosial, budaya bahkan ekonomi masyarakat.
Dari infrastruktur, katanya, sarana dan prasarana sekolah di pinggiran belum memadai. Tidak ada lahan yang memadai untuk menyediakan fasilitas permainan bagi anak-anak. Untuk menambah luas lahan sekolah, juga tidak memungkinkan.
"Kalau mau nambah lahan, harus beli tanah warga. Itupun kalau warga mau menjualnya," kata Eko saat ditemui di kantornya, Selasa (9/8/2016).
Dari aspek sumberdaya manusia, kata Eko, sekolah-sekolah SD di Sleman saat ini justru kekurangan guru. Jika kebijakan itu diterapkan, maka beban guru akan bertambah.
Pasalnya, saat ini saja guru-guru masih disibukkan dengan beban-beban laporan penggunaan dana BOS/BOSDA. Belum lagi guru harus menghadapi persoalan rumah tangga dan menjalani interaksi sosial.
"Kendala lain, sebagai makluk sosial, kalau ada seripahan/lelayu, guru akan menghadapi masalah. Guru juga anak dan keluarga, tidak bisa seharian juga di sekolah," katanya.
Menurut Eko, aspek lain yang harus diperhatikan adalah psikologi anak. Anak yang masih berusia SD, secara psikologis dinilai belum siap jika seharian harus berada di dalam sekolah. Selayaknya, kata Eko, mereka mengenal lingkungannya.
"Selain cepat bosan, anak juga perlu berinteraksi dengan lingkungannya. Banyak hal yang tidak ditemukan di lingkungan sekolah. Itu juga perlu dipertimbangkan," usul Eko.
Untuk itu, Eko berharap sebelum kebijakan tersebut diterapkan, Kementerian membuat sekolah percontohan lebih dulu.
"Kemudian hasilnya disosialisasikan. Kebijakan itu jangan langsung dipukul rata, karena tidak semua sekolah sarana dan prasarananya memadai. Terutama sekolah di pinggiran atau daerah pedalaman," katanya.
Sementara itu Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Sleman juga memilih menunggu realisasi wacana tersebut. "Jika panduan pastinya sudah ada, kami baru bisa mengambil sikap. Saat ini belum bisa banyak komentar dulu" jelas Kepala Bidang (Kabid) Kurikulum dan Kesiswaan (Kursis) Disdikpora Sleman Ery Widaryana.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Wawali Solo Astrid Widayani mendorong Solo menjadi pusat pengetahuan dengan memanfaatkan sejarah, budaya, museum, kampus, dan ruang publik.
Jadwal KRL Jogja-Solo Jumat 16 Oktober 2026 tersedia 15 perjalanan. Simak jadwal lengkap dan tarif KRL Rp8.000.
Ahli waris pekerja padat karya di Sleman menerima santunan JKM Rp74 juta. Capaian UCJ Sleman hingga Oktober 2026 mencapai 36,48%.
Rachel/Febi kalah 16-21, 17-21 dari Treesa/Gayatri pada 16 besar Denmark Open 2026. Indonesia pun kehilangan seluruh wakil di ganda putri.
Malaysia menempati peringkat kelima Digital Nomad Visa Index 2026 dengan skor 82,9. Simak posisi Bali dan daftar 10 destinasi teratas.
Sentra kerajinan kulit Manding, Bantul, sepi pembeli. Perajin menghadapi persaingan toko online dan keluhan konsumen soal kualitas produk.