Kerawanan Pemilu di Jogja Tertinggi Kedua se-Nasional, Polda Siapkan Pasukan
Indeks Kerawanan Pemilu (IKP) DIY menjadi yang tertinggi kedua dari seluruh provinsi di Indonesia. Polda DIY pun melakukan antisipasi keamanan dengan menyiagakan pasukan.
Suasana antrean saat menunggu giliran membuat EKTP di kantor Dinas kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Bantul, Kamis (24/8/2016). (JIBI/Irwan A. Syambudi)
EKTP Bantul diserbu warga
Harianjogja.com, BANTUL- Sejak sepekan terakhir kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Bantul tak pernah sepi pengunjung. Warga terus berdatangan untuk merekap data diri guna membuat E-KTP.
Hawa pengap langsung menyeruak ketika memasuki ruangan, alat penyejuk udara yang tengah bekerja tak lagi mampu menyejukkan ruang pelayanan Disdukcapil.
Tak ayal satu buah blower kemudian dihidupkan di pojok kanan ruangan tepat di samping para petugas, yang sedang melakukan perekaman retina mata. Disana tersedia masing-masing dua alat perekam sidik jari dan retina mata yang digunakan bergantian oleh ratusan warga yang akan membuat EKTP.
Kamis (25/8/2016), terlihat semua petugas loket sedang melayani warga yang ingin melakukan perekaman data diri. Puluhan kursi tunggu yang terdapat di depan loket tak menyisakan lagi ruang kosong, bahkan beberapa duduk berhimpitan menunggu giliran.
Tak kalah dengan yang di dalam ruangan, beberapa kursi tunggu yang berada di teras kantor juga tak lagi menyisakan tempat untuk duduk menunggu giliran. Hingga beberapa orang kemudian mencari tempat teduh duduk di bawah pohon tepat di depan kantor Disdukcapil.
Pemandangan tersebut jamak terlihat sejak belum dibukanya pelayanan Disdukcapil pada pukul 08.00 WIB. Beberapa warga rela datang dari pukul 07.0 WIB untuk mendapatkan antrian terdepan. Salah satunya adalah seorang warga bernama Eka Anggoro yang mendatangi kantor Disdukcapil berserta istri dan anaknya.
Ini adalah kali kedua Eka mendatangi Disdukcapil. Pada Rabu (24/8/2016) hari sebelumnya ia harus pulang dengan tangan hampa karena kuota pelayanan sudah penuh.
“Kemarin saya datang pukul 10.00 WIB tapi sampai sini antrianya sudah penuh hanya dibatasi sampai 105,” kata pria berbadan tegap ini.
Bersambung halaman 2
Eka nampak duduk bawah pohon, ia bersama istrinya mengendong bayi yang baru genap berumur satu bulan. Di tangan Eka nampak dua carik kertas bertuliskan angka 105 dan 104. Kertas yang ia bawa merupakan nomor antrian untuk mendapatkan pelayanan.
Ia bersama istrinya diharuskan oleh pihak Desa membuat EKTP terlebih dahulu, guna membuat akta kelahiran anak keduanya. Karena ia tinggal di Desa Tirtonirmolo, awalnya ia mendatangi Kantor Kecamatan Kasihan guna membuat E-KTP. Namun pihak kecamatan menyuruhnya untuk langsung ke Disdukcapil karena alat yang dimiliki kecamatan tidak memadai.
Tak jauh beda, Abdurrachman, warga Dusun Mandingan, Desa Ringinharjo, Kecamatan Bantul, mengaku kecewa dengan pelayanan yang ada, pasalnya dia sudah dua hari datang ke Disdukcapil untuk membuat EKTP. Namun selama dua hari pelayanannya sering trouble, sehingga memaksa dirinya mengantre cukup lama.
"Sebenarnya kalau antri tidak masalah, tapi ini masalahnya ada di pelayanan yang kurang memuaskan," jelas remaja yang baru saja memenuhi syarat mendapatkan E-KTP ini.
Abdurrachman bercerita jika dirinya pada Senin (22/8/2016) telah mendatangi kantor Disdukcapil pukul 10.00 WIB. Mulanya tak ada masalah, namun sekitar pukul 13.00 terjadi trouble jaringan, sehingga dirinya memutuskan untuk balik ke kediamannya.
"Terus hari ini [23/8/2016] saya balik lagi ke sini pukul 08.30 WIB. Sebenarnya saya dapat nomor [antrian] urut dua, tapi karena jaringannya masih trouble, sampai sekarang [pukul 10.30] KTP saya belum diurus," tambahnya.
Saat ditemui di ruanganya, Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Bantul Fenty Yusdayanti juga prihatin melihat warga yang mengantri berjam-jam. Terutama saat jaringan bermasalah pada Senin sore dan Selasa pagi.”Sekarang sudah bisa dan tidak ada maslah lagi,” ujarnya pada Kamis (25/8/2016).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Indeks Kerawanan Pemilu (IKP) DIY menjadi yang tertinggi kedua dari seluruh provinsi di Indonesia. Polda DIY pun melakukan antisipasi keamanan dengan menyiagakan pasukan.
Konsultan keuangan Elvi Diana meminta OJK memperketat screening dan edukasi publik guna mencegah maraknya investasi ilegal.
Imigrasi YIA menggagalkan keberangkatan tiga pria diduga calon haji non-prosedural menuju Singapura melalui Bandara YIA.
Kapolda Metro Jaya Asep Edi Suheri resmi naik pangkat menjadi Komjen. Kapolri menyebut kebijakan itu tindak lanjut arahan Presiden Prabowo.
Harga cabai rawit merah di Gunungkidul kembali naik hingga Rp80.000 per kilogram dipicu meningkatnya permintaan jelang rasulan.
Puncak haji 2026 segera dimulai. Simak jadwal Armuzna, tahapan wukuf di Arafah, dan tips persiapan jemaah haji.