Di Bantul, 4 Jenis Barang Ini Dipantau
<p><em>Dinas Perdagangan Kabupaten Bantul, melakukan pemantauan stok kebutuhan pokok dengan fokus pada empat komoditas</em></p>
Pengrajin melakukan proses akhir pewarnaan mebel rotan di pusat penjualan rotan di Jakarta, Kamis (6/11). Pemerintah menargetkan nilai ekspor mebel kayu dan rotan olahan mencapai US$ 5 miliar dalam lima tahun mendatang. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa
UMKM DIY dipersiapkan menghadapi persaingan global.
Harianjogja.com, JOGJA -- Direktur Utama Lembaga Layanan Pemasaran Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Kementerian Koperasi dan UKM Ahmad Zabadi berharap pertumbuhan pengusaha berbasis pendidikan tinggi terus meningkat untuk memperkuat daya saing produksi nasional.
"Saat ini sebagian besar UKM kita masih berpendidikan SD hingga SMP," kata Ahmad Zabadi dalam Forum Sidang Pleno II Muktamar Nasyiatul Aisyiyah XIII di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), seperti dikutip dari Antara, Sabtu (27/8/2016).
Menurut Zabadi, masih rendahnya tingkat pendidikan juga berpengaruh pada kemampuan berdabtasi pelaku UKM menghadapi persaingan pasar. Berbagai sarana pemasaran bernasis teknologi informasi (IT) menurut dia juga menjadi salah satu tantangan awal di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) ini.
Sadar dengan tantangan itu, menurut dia, Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop UKM) melalui lembaga layanan UKM "SMESCO" memfasilitasi universitas mengembangkan wirausaha baru.
"Kami mencoba menguatkan lahirnya pengusaha baru berbasis pendidikan tinggi. Hanya dengan cara itu kita bisa memperkuat daya saing produk nasional," kata dia.
Ia menyebutkan hingga saat ini jumlah penguasaha mikro kecil dengan rata-rata pendidikan SD hingga SMP mencapai 57,9 juta orang atau mencapai 8,7 persen dengan kontribusi 57 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Sementara pelaku usaha besar hanya 0,01 persen dengan kontribusi 43 persen terhadap PDB.
Memasuki pasar bebas ASEAN, pelaku UKM harus berhadap-hadapan dengan pelaku usaha dari negara lain yang berpendidikan lebih tinggi.
Ia mengatakan di tingkat dunia dalam hal kekuatan daya saing, Indonesia menempati urutan 34. Sedangkan di tingkat ASEAN, Indonesia di peringkat ketiga di bawah Singapura, Malaysia, dan Thailand.
"Saat ini Thailand telah menyiapkan 100 ribu UKM-nya supaya fasih berbahasa Indonesia dan membuka lembaga bahasa Indonesia, agar penetrasi pasar Thailad efektif memasuki pasar Indonesia," kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
<p><em>Dinas Perdagangan Kabupaten Bantul, melakukan pemantauan stok kebutuhan pokok dengan fokus pada empat komoditas</em></p>
Cek jadwal KRL Jogja–Solo Jumat 22 Mei 2026. Berangkat hampir tiap jam dengan tarif Rp8.000, praktis dan hemat.
Ratusan anak muda gelar konser di Titik Nol Jogja, suarakan perlawanan dan solidaritas di tengah isu kriminalisasi aktivis.
PAD pariwisata Sleman terus naik, tapi pertumbuhannya melambat. Ini penyebab dan data lengkapnya.
Penyalahgunaan obat-obatan tertentu di Jogja meningkat dan mengancam generasi muda. BPOM ungkap dampak serius hingga risiko kematian.
Buku Kampus Pergerakan diluncurkan saat 28 tahun Reformasi, mengulas sejarah panjang perjuangan mahasiswa sejak 1986.