UMKM DIY : Pengusaha Cilik Didorong Berpendidikan Tinggi, Kemenkop & UKM Gandeng Universitas

Redaksi Solopos
Redaksi Solopos Minggu, 28 Agustus 2016 12:20 WIB
UMKM DIY : Pengusaha Cilik Didorong Berpendidikan Tinggi, Kemenkop & UKM Gandeng Universitas

Pengrajin melakukan proses akhir pewarnaan mebel rotan di pusat penjualan rotan di Jakarta, Kamis (6/11). Pemerintah menargetkan nilai ekspor mebel kayu dan rotan olahan mencapai US$ 5 miliar dalam lima tahun mendatang. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa

UMKM DIY dipersiapkan menghadapi persaingan global.

Harianjogja.com, JOGJA -- Direktur Utama Lembaga Layanan Pemasaran Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Kementerian Koperasi dan UKM Ahmad Zabadi berharap pertumbuhan pengusaha berbasis pendidikan tinggi terus meningkat untuk memperkuat daya saing produksi nasional.

"Saat ini sebagian besar UKM kita masih berpendidikan SD hingga SMP," kata Ahmad Zabadi dalam Forum Sidang Pleno II Muktamar Nasyiatul Aisyiyah XIII di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), seperti dikutip dari Antara, Sabtu (27/8/2016).

Menurut Zabadi, masih rendahnya tingkat pendidikan juga berpengaruh pada kemampuan berdabtasi pelaku UKM menghadapi persaingan pasar. Berbagai sarana pemasaran bernasis teknologi informasi (IT) menurut dia juga menjadi salah satu tantangan awal di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) ini.

Sadar dengan tantangan itu, menurut dia, Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop UKM) melalui lembaga layanan UKM "SMESCO" memfasilitasi universitas mengembangkan wirausaha baru.

"Kami mencoba menguatkan lahirnya pengusaha baru berbasis pendidikan tinggi. Hanya dengan cara itu kita bisa memperkuat daya saing produk nasional," kata dia.

Ia menyebutkan hingga saat ini jumlah penguasaha mikro kecil dengan rata-rata pendidikan SD hingga SMP mencapai 57,9 juta orang atau mencapai 8,7 persen dengan kontribusi 57 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Sementara pelaku usaha besar hanya 0,01 persen dengan kontribusi 43 persen terhadap PDB.

Memasuki pasar bebas ASEAN, pelaku UKM harus berhadap-hadapan dengan pelaku usaha dari negara lain yang berpendidikan lebih tinggi.

Ia mengatakan di tingkat dunia dalam hal kekuatan daya saing, Indonesia menempati urutan 34. Sedangkan di tingkat ASEAN, Indonesia di peringkat ketiga di bawah Singapura, Malaysia, dan Thailand.

"Saat ini Thailand telah menyiapkan 100 ribu UKM-nya supaya fasih berbahasa Indonesia dan membuka lembaga bahasa Indonesia, agar penetrasi pasar Thailad efektif memasuki pasar Indonesia," kata dia.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online