DEMAM BERDARAH JOGJA : 7 Nyawa Melayang. KLB Tak Dikeluarkan, Mengapa?

Sunartono
Sunartono Sabtu, 10 September 2016 07:20 WIB
DEMAM BERDARAH JOGJA : 7 Nyawa Melayang. KLB Tak Dikeluarkan, Mengapa?

JIBI/Desi Suryanto Petugas Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta melakukan pengasapan nyamuk yang bersarang di lingkungan perumahan penduduk di Kampung Gendeng Cantel, Muja-muju, Umbulharjo, Yogyakarta, Senin (23/12/2013). Pengasapan itu berupaya mengurangi populasi nyamuk yang membawa dan menularkan beragam penyakit seperti, demam berdarah, malaria, filariasis, encepalitis dan chikungunya. Selama sebulan terakhir ini sedikitnya sudah 21 warga Gendeng Cantel terserang chikungunya.

Demam berdarah Jogja, ada tujuh orang meninggal.

Harianjogja.com, JOGJA -- Penyakit demam berdarah dengue telah merenggut tujuh nyawa di Kota Jogja hingga awal September tahun ini. Masyarakat diimbau untuk waspada dan meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat.

Terkait tingginya jumlah pasien yang meninggal dibanding tahun lalu, Walikota Jogja, Haryadi Suyuti  mengaku enggan mengeluarkan status kejadian luar biasa (KLB). Karena, menurut dia, KLB menimbulkan kepanikan kepada masyarakat.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Jogja, Fita Yulia Kisworini mengatakan, status KLB atau tidak, antisipasi demam berdarah harus seperti KLB. Pihaknya sudah mengeluarkan dua kali surat edaran yang ditujukan kepada camat dan puskesmas di semua kecamatan.

"Dibutuhkan peran serta masyarakat untuk menjaga perilaku hidup bersih dan sehat," kata dia.

Fita mengatakan upaya mengantisipasi merebaknya demam berdrah sejauh ini sudah dilakukan melalui sosialisasi, pemberantasan sarang nyamuk, pemantauan setiap saat ke puskesmas-puskesmas, sampai kerjasama pelepasan nyamuk aedes aegepty ber-wolbachia di wilayah Tegalrejo dan Wirobrajan.

Sebelumnya Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Kota Jogja, Yudiria Amelia mengatakan tahun ini bahkan sudah semua kelurahan di Jogja endemis demam berdarah. Padahal tahun lalu masih ada dua kelurahan nol persen demem berdarah.

Menurutnya, tren peningkatan demam berdarah biasanya, kata Yudiria terjadi pada September-Desember. Ia mengimbau masyarakat untuk menjadi pemantau jentik di keluarganya masing-masing. Selain itu juga, mendeteksi dini ke puskesmas.
Jangan menunggu demam berhari-hari.

Pihaknya telah menyediakan alat pendeteksi dini di semua puskesmas. "Kebanyakan kasus demam berdarah yang mengakibatkan kematian karena terlambat dibwa ke puskesmas," puskesmas," dia, Mei lalu.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online