Batu Akik Tak Lagi Jadi Tren, Kerusakan Artefak Sungai Oya Berkurang

Redaksi Solopos
Redaksi Solopos Senin, 12 September 2016 09:20 WIB
Batu Akik Tak Lagi Jadi Tren, Kerusakan Artefak Sungai Oya Berkurang

Pengunjung memilih batu akik di stan Pameran Nusantara Batu Akik dan Batu Mulia di halaman Pendapa Muda Graha, Kantor Pemerintah Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Jumat (7/8/2015). Pameran batu akik dan batu mulia yang digelar selama empat hari tersebut diikuti kolektor dan penjual akik dan batu mulia dari berbagai daerah di Jawa Barat, Jawa Tengah, maupun Jawa Timur. (JIBI/Solopos/Antara/Siswowidodo)

Batu akik yang tak lagi nge-trend membuat kerusakan artefak di Sungai Oya berkurang

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL - Balai Arkeologi Jogja mencermati kerusakan artefak-artefak situs prasejarah di aliran Sungai Oya di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menurun pascatren batu akik beberapa waktu lalu.

"Dalam pengamatan kami, sekarang sebenarnya sudah agak berkurang penyelewenangan berupa perusakan artefak di Sungai Oya dari masyarakat. Tapi sampai sekarang masih ada," kata Peneliti dari Balai Arkeologi Jogja Indah Asikin Nurani di Sleman, Minggu (10/9/2016).

Menurut dia, orang-orang yang masih melakukan perusakan artefak di Sungai Oya hanya tertentu.

"Mereka pura-pura tidak tahu kalau itu sebenarnya suatu artefak. Di Gunungkidul, di Pacitan, Jawa Timur, banyak ditemukan perusakan," katanya.

Ia mengatakan, mereka membuat artefak tersebut dijadikan sebagai batu akik. Kemudian diperjual-belikan. Selain itu juga dipakai untuk pengeras jalan.

"Sentra-sentra pembuatan batu akik itu banyak yang menggunakan artefak," katanya.

Indah mengatakan, sosialisasi sebenarnya sudah dilakukan Balai Arkeologi Jogja, bahkan lintas sektoral seperti bersama Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jogja maupun di Vulkanologi.

"Sosialisasi terus dilakukan kepada masyarakat, termasuk melalui pameran dan ceramah-ceramah," katanya.

Ia mengatakan, secara kuantitas, artefak memang banyak ditemukan di aliran Sungai Oya yang melewati Gunungkidul dan Pacitan. Meski selama ini, di dua daerah tersebut belum juga ada temuan fosil manusia purba.

"Artefak yang ditemukan digunakan pada zaman paleolitikum dan mezolitikum. Selain itu pula banyak juga fosil hewan purba. Artefak maupun fosil ini yang digunakan untuk membuat batu akik maupun pengeras jalan," katanya.

Balai Arkeologi Jogja kembali melakukan survei di aliran Sungai Oya untuk bisa menemukan lebih banyak lagi artefak, terutama yang terkait dengan kehidupan manusia purba. "Survei ke bagian timur ke arah Pacitan, Jawa Timur," katanya, seperti dikutip dari Antara.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online