SD Muhammadiyah Sapen Pertahankan Gelar, Tarakanita Bumijo Cetak Sejarah di MLSC Jogja
SD Muhammadiyah Sapen kembali juara KU 12 MLSC Jogja. SD Tarakanita Bumijo I mencetak sejarah sebagai juara baru KU 10 dengan top skor 36 gol.
Suasana talkshow rangkaian kegiatan Hari Santri Nasional (HSN) 2016 di Stadion Maguwoharjo, Depok, Rabu (26/10/2016). (Abdul Hamid Razak/JIBI/Harian Jogja)
Hari Santri Nasional menjadi momentum bagi pesantren untuk membangkitkan ekonomi mandiri
Harianjogja.com, SLEMAN- Di sektor ekonomi, keberadaan pesantren sering diperbincangkan dalam forum. Bahkan banyak penelitian yang dilakukan agar pesantren bisa mandiri secara ekonomi.
Meski begitu, kata Ketua Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) Nahdlatul Ulama wilayah DIY Jateng Mandzhur Labib, baik diskusi hingga penelitian itu belum mampu memberikan solusi konkret menjadikan pesantren mandiri secara ekonomi.
"Penguatan dan kemandirian ekonomi pesantren ini perlu dilakukan agar pesantren benar-benar bisa menjadi agen perubahan bagi masyarakat," katanya di sela talkshow optimalisasi peran pesantren menuju kedaulatan pangan, Rabu (26/10/2016).
Kegiatan yang merupakan rangkaian kegiatan Hari Santri Nasional (HSN) tersebut digelar di Stadion Maguwoharjo. RMI sendiri merupakan badan yang mewadahi 23.000 pesantren di Indonesia.
Menurut Mandzhur, untuk menjawab kemandirian ekonomi pesantren, pihaknya membentuk koperasi serba sembako (KSO) sebagai organ inti sektor riil perdagangan. KSO tersebut menjadi penyalur dan penyerapan komoditas pangan murah dan berkualitas.
"KSO sembako murah itu tidak hanya diakses pesantren tetapi juga masyarakat. Masyarakat bisa menjadi anggota dengan beragam keuntungan seperti point reward dan pendampingan," katanya.
Bersambung halaman 2
Sementara itu, pengusaha jamu Sido Muncul Irwan Hidayat mengatakan semangat kaum Nahdiyin untuk membangun kemandirian ekonomi cukup besar. Sayangnya, kata dia, banyak pesantren yang belum menerapkan pengelolaan ekonomi pesantren dengan baik.
"Kondisi tersebut menyebabkan ekonomi pesantren belum sepenuhnya kuat," katanya.
Menurut Irwan, untuk menguatkan kemandirian ekonomi pesantren harus menerapkan pengelolaan usahanya secara bisnis. "Pesantren harus kreatif, inovatif, memperkuat jaringan usaha (network) dan tidak perlu terpaku pada bantuan modal," katanya.
Selama ini, banyak pelaku UKM yang tidak bisa berkembang karena menunggu bantuan modal. Padahal, lanjut dia, perusahaan yang saat ini besar berjakan berkat usahanya sendiri.
"Selain prinsip-prinsip bisnis tadi, membangun kepercayaan konsumen juga ikut membesarkan bisnis yang dibangun. Networking toko-toko pesantren harus diperkuat untuk mewujudkan perekonomian pesantren," usulnya.
Sementara itu, Panitia Pelaksana Kegiatan Abu Choir mengatakan, di wilayah DIY dan Jateng terdapat sekitar 3.000 pesantren, 2.400 tersebar di Jateng dan 600 lainnya di wilayah DIY.
"Dari sejumlah itu, hanya ada beberapa pesantren yang secara ekonomi cukup mandiri. Kegiatan ini lebih pada upaya bagaimana seluruh pesantren di DIY dan Jateng dapat mandiri secara ekonomi," kata Sekjen RMI DIY-Jateng itu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
SD Muhammadiyah Sapen kembali juara KU 12 MLSC Jogja. SD Tarakanita Bumijo I mencetak sejarah sebagai juara baru KU 10 dengan top skor 36 gol.
MK mengabulkan sebagian permohonan uji materi soal informasi kandungan gula, garam dan lemak pada kemasan makanan dan minuman.
DPRD Kulonprogo menyoroti rotasi jabatan di Pemkab dan meminta pejabat baru membuktikan kinerja serta meningkatkan pelayanan masyarakat.
Pelindo menargetkan penataan 17 entitas melalui merger, konsolidasi, divestasi dan likuidasi hingga jumlah entitas menjadi 21
KAI merespons penetapan tersangka masinis Argo Bromo Anggrek dan menindaklanjuti enam rekomendasi keselamatan dari KNKT.
Bulog mengubah pola pengelolaan stok beras SPHP dari FIFO menjadi formula mixing 2-3-4 untuk menjaga mutu beras yang disalurkan.