Top 7 News Harianjogja.com Rabu 13 September 2023
Selamat pagi, semangat menjalani hari. Izin kirim kabar dari Bumi Mataram Ngayogyakarta Hadiningrat, heritage-nya Indonesia, rumahnya start up.
Pemilik usaha kerajinan tas kulit Vanilla Leather, Stevanny Candra, menunjukkan salah satu produk tas kulit di rumah produksinya, Jumat (9/12/2016). (Bernadheta Dian Saraswati/JIBI/Harian Jogja)
Kisah inspiratif datang dari produsen tas kulit di Jogja
Harianjogja.com, JOGJA-Tas berbahan dasar kulit masih mudah dijumpai. Di Jogja sendiri, salah satu perajin tas kulit bisa ditemukan di belakang Terminal Giwangan, tepatnya di Dusun Giwangan-Mrican, Umbulharjo, Jogja.
Tas dengan brand Vanilla Leather tersebut merupakan hasil olah karya seorang perempuan asal Pangkal Pinang, Stevanny Candra yang kini sudah menjadi penduduk Jogja.
Ia bersama 10 karyawannya aktif memproduksi tas kulit setiap hari. Kulit yang digunakan adalah kulit sapi kualitas unggulan.
“Kulitnya sudah disamak dan saya ambil dari rekanan yang memang saya sudah tahu kualitasnya,” kata Vanny saat ditemui di rumah produksinya, Jumat (9/12/2016).
Lembaran kulit tersebut kemudian dipola, dipotong, dan dijahit sesuai model yang diinginkan. Kualitas material serta kualitas jahitan memang membuat harga yang ditawarkan terbilang tinggi dibandingkan kompetitor.
Produk tas ia jual mulai Rp900.000 dan dompet mulai Rp500.000. Vanny mengklaim, harga yang ditawarkan itu merupakan harga realistis yang telah memperhitungkan kualitas material dan gaji karyawan.
Membuat kerajinan dari kulit memang membutuhkan tenaga dan waktu yang ekstra, terlebih sebagian kecil prosesnya ada yang dikerjakan secara manual menggunakan tangan. Namun usaha tersebut sepertinya tidak dapat dipahami oleh semua orang.
Vanny bahkan kerap menemui konsumen yang menyamakan produknya dengan tas sintetis yang dijual di pasar tradisional. “Saya tidak hanya menjual tapi juga sekaligus mengedukasi bahwa membuat tas kulit itu tidak mudah,” katanya.
Bagi sebagian orang yang memahami proses pembuatan tas kulit, mereka menaruh penghargaan pada perajin. Sebaliknya, mereka yang tidak mengenal kulit dan hanya membandingkan tas kulit dengan bahan sintetis atau semikulit, mereka hanya akan meremehkan.
Dalam sebulan, ia bisa memproduksi 50 tas dan mampu meraup omzet Rp35 juta. Pemasaran dilakukan secara online dan offline. Untuk pemasaran online, ia memanfaatkan media sosial seperti facebook dan instagram, sementara untuk pemasaran offline, ia menjual di gerainya di Lippo Plaza lantai 1.
Produk tas Vanilla Leather banyak terjual di luar Jogja, seperti Jakarta, Balikpapan, Papua, dan Semarang. “Kalau ekspor belum [dilakukan] tetapi ada satu orang yang berencana ngebranding dan dijual di luar negeri. Sekarang lagi tahap perbincangan, dia juga sudah sempat ke sini,” katanya.
Ia juga menerapkan sistem diskon 15% untuk member dengan tujuan meningkatkan loyalitas konsumen pada produk-produk Vanilla Leather. Ia juga terus memperbarui model tas dengan meluncurkan model baru setiap dua bulan sekali.
Atas ketekunannya menjalani bisnisnya itu, ia berhasil masuk nominasi dalam Dekranasda Kota Yogyakarta (Dekoya) Award. Belum lama ini ia juga meraih penghargaan dalam ajang UKM WOW Kementerian Koperasi dan UMKM atas prestasinya membangun kewirausahaan lokal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Selamat pagi, semangat menjalani hari. Izin kirim kabar dari Bumi Mataram Ngayogyakarta Hadiningrat, heritage-nya Indonesia, rumahnya start up.
Wonogiri mulai tinggalkan ketergantungan sektor pertanian, kini fokus kembangkan pariwisata dan ekonomi kreatif untuk dongkrak ekonomi daerah.
Prediksi Bournemouth vs Man City Liga Inggris 2026, laga penentu gelar. The Citizens wajib menang demi menjaga peluang juara.
SPMB Jateng 2026 resmi diluncurkan. Daya tampung SMA/SMK negeri hanya 40 persen, gubernur tegaskan tak ada titip-menitip.
UGM dan KAGAMA berupaya manfaatkan rumah Prof Sardjito untuk kegiatan akademik di tengah isu penjualan aset bersejarah.
Kasus penembakan pemuda di Candisari Semarang terungkap. Polisi beberkan kronologi, motif pelaku, hingga peluang restorative justice.