Kerawanan Pemilu di Jogja Tertinggi Kedua se-Nasional, Polda Siapkan Pasukan
Indeks Kerawanan Pemilu (IKP) DIY menjadi yang tertinggi kedua dari seluruh provinsi di Indonesia. Polda DIY pun melakukan antisipasi keamanan dengan menyiagakan pasukan.
Sejumlah petugas dari Badan Penangulangan Bencana Daerah Kabupaten Bantul dibantu warga mengevakuasi pohon tumbang yang menimpa rumah warga akibat angin puting beliung, di Dusun Depok, Desa Gilangharjo, Kecamatan Pandak, Bantul. Senin (8/11). (JIBI/Irwan A. Syambudi)
Bencana Bantul belum mendapat gelontoran dana untuk operasional
Harianjogja.com, BANTUL—Sedikitnya 21 posko darurat bencana yang telah didirikan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bantul belum dapatkan dana operasional. Akibatnya sejumlah relawan di semua posko masih menggunakan dana sukarela untuk kebutuhan operasional.
Pelaksana Harian Kepala BPBD Kabupaten Bantul, Dwi Daryanto mengakui hingga saat ini dana operasional posko darurat bencana yang diajukan ke Badan Nasional Penangulangan Bencana (BNPB) DIY belum cair. Anggaran dana Rp2 miliar yang diajukan itu sejatinya untuk biaya operasional posko yang telah berdiri dari (23/11/16) hingga (20/2/17) mendatang.
“Sudah mengusulkan anggaran lewat provinsi ke BPBD, tapi sampai sekarang belum turun,” ujar Dwi, Minggu (25/12/2016).
Menurutnya anggaran tersebut sedianya akan digunkan untuk memenuhi sarana dan akomodasi di posko darurat bencana, supaya relawan mampu merepon cepat terhadap potensi bencana. Namun diakuinya hingga kini belum ada anggaran yang masuk ke posko, kecuali sejumlah logistik yang berasal dari dana BPBD Bantul sendiri.
Kendati demikian pihaknya dapat memahami perihal belum turunnya anggaran yang diajukan ke BNPB tersebut. “Mungkin BNPB juga ada prioritas lain, karena kita tahu sendiri kemarin di Pidi Jaya juga ada bencana yang mungkin membutuhkan penanganan khusus dan dana yang lebih besar,” Kata dia.
Sehingga untuk sementara, Dwi menyebut semua kebutuhan operasional posko darurat bencana masih ditanggung secara swadaya oleh relawan yang terdiri dari Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB).
Pihaknya sangat mengapresiasi sejumlah relawan yang dinilai cukup militan. Menurut dia bencana gempa yang terjadi sepuluh tahun silam telah menjadi pembelajaran penting para relawan terhdap resiko bencana.
“Kami sangat berterimakasih kepada temen-temen FPRB yang sangat mandiri. Karena masyarakat Bantul tetap siaga untuk menanggulangi bencana. Mereka sudah memahami bahwa bencana bukan hanya urusan pemerintah semata,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Indeks Kerawanan Pemilu (IKP) DIY menjadi yang tertinggi kedua dari seluruh provinsi di Indonesia. Polda DIY pun melakukan antisipasi keamanan dengan menyiagakan pasukan.
FIFA memperkenalkan lagu Dai Dai dari Shakira dan Burna Boy untuk Piala Dunia 2026. Berikut sejarah anthem resmi Piala Dunia.
Bojan Hodak dikabarkan meninggalkan Persib Bandung setelah membawa Maung Bandung meraih tiga gelar Liga Indonesia beruntun.
Kesbangpol Bantul berkoordinasi terkait polemik penolakan Gereja GMS di Sewon yang dipersoalkan soal perizinan rumah ibadah.
Sebanyak 57 biksu peserta Indonesia Walk for Peace 2026 tiba di Jogja dan disambut Sri Sultan sebelum melanjutkan perjalanan ke Borobudur.
Membandingkan MacBook Neo Rp10 jutaan dengan laptop Windows. Simak kelebihan, kekurangan, dan mana yang paling pas untuk kebutuhan kuliah serta kerja Anda.