Rombongan Biksu IWFP Tiba di Jogja Disambut Sri Sultan

Anisatul Umah
Anisatul Umah Senin, 25 Mei 2026 21:57 WIB
Rombongan Biksu IWFP Tiba di Jogja Disambut Sri Sultan

Tangkapan layar Instagram: Humasjogja

Harianjogja.com, JOGJA—Rombongan peserta Indonesia Walk for Peace (IWFP) 2026 tiba di Yogyakarta setelah menempuh perjalanan panjang berjalan kaki melintasi sejumlah provinsi di Indonesia. Kedatangan para biksu tersebut disambut langsung oleh Gubernur DIY Hamengkubuwono X di Pendapa Kompleks Kepatihan, Senin (25/5/2026).

Total terdapat 57 biksu yang mengikuti perjalanan spiritual tersebut. Mereka terdiri atas 43 biksu asal Thailand, empat dari Malaysia, tiga dari Laos, dan tujuh dari Indonesia. Rombongan dipimpin Bhante Phanarin Oaksonthip yang berusia 31 tahun, sementara peserta tertua berusia 67 tahun dan termuda 23 tahun.

Dalam sambutannya, Sri Sultan menyebut IWFP bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi refleksi perjalanan kehidupan yang sarat makna spiritual dan kemanusiaan. Menurutnya, perjalanan tersebut menjadi simbol langkah menuju masa depan bangsa yang harmonis melalui penyebaran energi positif dan toleransi antarumat beragama.

“IWFP mencerminkan retrospeksi atau refleksi perjalanan kehidupan. Ia adalah niti laku yang menengok jejak perjalanan sejarah dari masa ke masa,” ujar Sultan.

Ia menambahkan, kegiatan tersebut juga memperkuat semangat Bhinneka Tunggal Ika yang menempatkan keberagaman suku, agama, dan budaya sebagai kekuatan pemersatu bangsa.

“Perbedaan adalah keniscayaan yang diciptakan Tuhan dan tidak seharusnya menjadi alasan untuk memisahkan manusia maupun bangsa,” lanjutnya.

Ketua IWFP 2026 Pusat, Tosin, menyampaikan terima kasih atas sambutan Pemerintah DIY terhadap rombongan biksu. Ia menjelaskan perjalanan damai tersebut dimulai dari Bali pada 7 Mei 2026 sebelum melintasi Jawa Timur, Jawa Tengah, DIY, dan berakhir di Borobudur pada 28 Mei mendatang.

Menurutnya, perjalanan para biksu bukan tanpa tantangan. Mereka harus berjalan sejauh 30 hingga 40 kilometer setiap hari selama 8 hingga 10 jam di bawah panas dan hujan. Bahkan, beberapa peserta mengalami luka pada kaki hingga harus mendapatkan jahitan.

Meski demikian, semangat perjalanan damai tetap terjaga. Tosin mengatakan para biksu terus menyampaikan pesan kedamaian kepada masyarakat tanpa perlu menggunakan mimbar atau pidato besar.

“Kami melihat sambutan masyarakat luar biasa. Dari anak-anak hingga orang tua, bahkan ada warga yang memberikan minuman di sepanjang perjalanan,” ujarnya.

Ketua Panitia IWFP 2026 DIY, Tandean Harry Setio, menjelaskan kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian menyambut Hari Raya Waisak di Borobudur. Selain sebagai perjalanan spiritual, kegiatan itu juga menjadi sarana memperkuat toleransi dan persaudaraan lintas agama maupun bangsa.

Selama perjalanan, para biksu disebut singgah di berbagai vihara, fasilitas umum, dan tempat ibadah lintas organisasi untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat.

Ia pun mengajak masyarakat DIY ikut menyambut rombongan biksu sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai perdamaian dan toleransi yang selama ini menjadi identitas Yogyakarta.

“Jogja harus menunjukkan diri sebagai City of Tolerance dengan semangat persaudaraan dan dukungan terhadap pesan-pesan perdamaian,” katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online