Kasus Leptopirosis Merenggut 4 Nyawa di Bantul

Uli Febriarni
Uli Febriarni Senin, 30 Januari 2017 04:20 WIB
Kasus Leptopirosis Merenggut 4 Nyawa di Bantul

Ilustrasi (JIBI/Harian Jogja/Reuters)

Kasus leptospirosis merenggut 4 nyawa di Bantul

Harianjogja.com, BANTUL-Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bantul mengimbau kepada masyarakat untuk mewaspadai penyakit leptospirosis, di musim hujan.

Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Dinkes Kabupaten Bantul Pramudi Darmawan pada Rabu (25/1/2017) mengatakan, untuk saat ini jumlah kasus leptospirosis di Bantul cenderung standar dan tidak terlalu tinggi.

Pada 2016, tercatat ada 73 kasus leptospirosis, dengan empat kasus meninggal dunia (MD) yang terjadi di Kecamatan Bantul, Sewon, Pandak, Kasihan. Jumlah tersebut lebih rendah daripada kasus pada 2015 yang berjumlah 87, dengan jumlah kasus MD sebanyak lima kasus di Piyungan, Pleret, Sedayu dan Sewon.

Ia mengungkapkan, sejauh ini kasus banyak terjadi di kalangan petani. Memberikan imbauan kewaspadaan terhadap leptospirosis kepada petani secara langsung, menjadi wewenang Dinas Kelautan Pertanian dan Perikanan.

Kendati demikian Dinkes tetap berupaya mengajak petani agar mengenakan sepatu boot saat bekerja, agar kaki terlindung dari kuman leptospira, yang menyebabkan penyakit leptospirosis.

Selain masyarakat yang aktif dalam pertanian, permukiman penduduk juga tidak lepas dari ancaman bakteri leptospira, terutama untuk warga yang tinggal di kawasan yang dekat dengan aliran sungai. Karena saat ini sedang berlangsung musim hujan dengan curah hujan tinggi, yang berpotensi menyebabkan banjir.

"Karena penyebab leptospira juga bisa ditularkan lewat air, apalagi kalau ada luka di kaki," ungkapnya, dijumpai di kantornya.

Gejala yang dialami seseorang ketika mengidap leptospirosis diawali dengan suhu tubuh yang tinggi, terlihat kuning, gagal ginjal. Dengan kondisi vitalitas tubuh yang berbeda masing-masing orang, maka begitupun dengan proses penyembuhan penyakit yang dibawa oleh air seni tikus ini.

Sementara itu, dihubungi secara terpisah, Camat Pleret Walkodri menuturkan, pihak kecamatan bekerja sama dengan Tentara Nasional Indonesia, khususnya Koramil dalam melakukan upaya pencegahan penyakit leptospirosis di kalangan masyarakat, utamanya petani. Baik melalui imbauan ataupun lewat pemaparan dari anggota Koramil saat beraktivitas bersama masyarakat.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Artikel Penulis