Karhutla Meluas, Jalur Pendakian Lima Gunung di Jateng Ditutup
Pemprov Jawa Tengah menutup sementara jalur pendakian lima gunung menyusul karhutla di Lawu, Sumbing, dan Pakuwaja. Kebakaran Lawu mencapai 230 hektare.
Ulama memiliki peran pentinguntuk mengingatkan pada semua pihak agar tidak mudah tersinggung dan terpancing sehingga semakin memperburuk keadaan
Harianjogja.com, SLEMAN- Menanggapi isu-isu suku, ras dan agama (sara) yang seringkali muncul akhir-akhir ini peran serta dari para ulama sangatlah dibutuhkan untuk mengingatkan pada semua pihak agar tidak mudah tersinggung dan terpancing sehingga semakin memperburuk keadaan.
Peran serta para ulama dan tokoh masyarakat juga sangat penting untuk meredakan ketegangan dan menanamkan persatuan di Negara Indonesia.
Anggota Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto saat rapat dengar pendapat masyarakat di Pondok Pesantren Qashrul Arifin mengatakan di Indonesia banyak terjadi perselisihan dan perpecahan dikarenakan lunturnya sikap kebhinekaan yang menghargai keberagaman, memudarnya nilai-nilai pancasila dalam kehidupan, serta masyarakat yang sangat mudah percaya dengan upaya suatu gerakan yang membenturkan agama dengan kebhinekaan.
"Agama Islam contohnya, Islam sendiri sebenarnya sangat menghormati kebhinekaan dan keberagaman. Bahkan kebhinekaan juga diajarkan dalam Islam," ujarnya, Sabtu (18/2/2017).
Dikatakannya, Titik juga menjelaskan bahwa ulama dan santri tidak kalah memiliki peran yang sangat penting bagi kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Ulama dan santri bahkan memiliki peran untuk menyatukan elemen-elemen bangsa melalui pendidikan dan ilmu saat berada di Pondok Pesantren.
"Ulama dan santri juga sangat memiliki peran penting untuk itu. Kualitas pendidikan yang ditempuh di ponpes dengan agama Islam tentu semakin baik dari orang lain. Dengan itu saya juga tidak pernah bosan untuk mengajak masyarakat tetap menerapkan nilai-nilai pancasila supaya dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari," tegasnya.
Mewakili dari Pondok Pesantren Qashrul Arifin, Furaidi Hasan mengatakan Islam dan nasionalisme adalah kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Dalam ajaran agama Islam sendiri juga diajarkan bahwa umat harus memiliki rasa nasionalisme kebangsaan kepada negaranya.
"Islam dan rasa nasionalisme itu satu kesatuan. Rasul sendiri mengajarkan pada umatnya untuk selalu cinta negaranya, sehingga rasa cinta pada bangsa dan negara memang menjadi satu bagian dari keimanan," katanya.
Ia juga menegaskan dalam sosialisasi empat pilar sangatlah penting untuk dilakukan. Terlebih dengan melihat situasi dan kondisi bangsa yang akhir-akhir ini sering bergejolak.
"Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka tunggal Ika harus selalu ditanamkan. Menjadi peneguh disaat kondisi sedang gawat ditengah-tengan adanya upaya untuk memecah belah NKRI demi kepentingan pribadi," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemprov Jawa Tengah menutup sementara jalur pendakian lima gunung menyusul karhutla di Lawu, Sumbing, dan Pakuwaja. Kebakaran Lawu mencapai 230 hektare.
Febrie Adriansyah dan dua terdakwa lain menjalani sidang putusan sela dalam perkara dugaan pemerasan dan pencucian uang.
Sebanyak 1,2 juta warga Indonesia turun dari kelas menengah pada 2025. Simak penyebab, data terbaru, dan tanda tekanan finansial.
Mahasiswa asing UGM melihat koleksi naskah kuno DPAD DIY, termasuk manuskrip 1816 beraksara Jawa dan berbahasa Belanda.
Guru Besar UMY Suswanta menjelaskan peran rekam jejak, integritas, dan kepercayaan masyarakat dalam menentukan pilihan pada Pilkades.
PLN menggabungkan PLN Electricity Services dan PLN Nusa Daya menjadi PLN Services. Perusahaan memastikan merger tidak disertai PHK.