WISATA BANTUL : Menggagas Museum Ramah Disabilitas

Arief Junianto
Arief Junianto Minggu, 09 April 2017 06:22 WIB
WISATA BANTUL : Menggagas Museum Ramah Disabilitas

Manajer Program SAPDA Ayatullah Khomaini saat menjadi pembicara di acara pelatihan Permuseuman yang digelar DInas Kebudayaan DIY di SLB Negeri 1 Bantul, Jumat (7/4/2017). (Arief Junianto/JIBI/Harian Jogja)

Wisata Bantul untuk pengunjung berkebutuhaan khusus dipertimbangkan.

Harianjogja.com, BANTUL --Museum di DIY terus berbenah. Salah satunya adalah membuat museum itu juga nyaman dikunjungi oleh para pengunjung berkebutuhan khusus.

Salah satunya adalah melalui pelatihan yang dilakukan oleh Bidang Permuseuman Dinas Kebudayaan (Disbud) terhadap 50 orang lebih edukator dan pemandu program wajib kunjung museum yang digelar selama enam hari (6-11/4/2017) di SLB Negeri 1 Bantul. Tahun ini, materi pelatihan tersebut sengaja dikhususkan untuk memberikan pengetahuan para edukator dan pemandu museum tentang cara menghadapi pengunjung dari kalangan berkebutuhan khusus.

“Beberapa narasumber yang kami hadirkan, selain dari kalangan pemerintah, kami juga hadirkan psikolog dan pegiat organnisai pendampingan kaum disabilitas serta berkebutuhan khusus,” kata Kepala Seksi Pembinaan dan Edukasi Bidang Permuseuman Disbud DIY, Wismarini saat ditemui disela berlangsungnya pelatihan, Jumat (7/4/2017).

Wismarini tak menampik, sebagian besar museum yang ada di DIY memang belum sepenuhnya ramah terhadap pengunjung berkebutuhan khusus. Sepengetahuannya, dari 43 museum se-DIY, tercatat hanya ada beberapa museum saja yang sudah dilengkapi dengan fasilitas penunjang untuk pengunjung berkebutuhan khusus, di antaranya adalah Museum Pleret (Bantul) dan Ullen Sentalu (Sleman).

Melihat kondisi itu, pihaknya merasa perlu untuk mengubah cara pandang semua pihak terhadap museum. Menurutnya, museum kini tidak lagi seharusnya dipandang sebagai tempat wisata edukatif yang gelap dan menakutkan. Sebaliknya, museum harus tampil sebagai objek wisata yang menyenangkan untuk semua kalangan. “Termasuk untuk kalangan berkebutuhan khusus,” tegas Wismarini.

Oleh karena itu, setelah pelatihan ini, pihaknya berencana untuk melakukan kunjungan bertajuk bench marking ke Surabaya. Di Kota Pahlawan itu, pihaknya akan membawa para edukator dan pemandunya ke sejumlah museum. “Museum di sana, tata pamernya sudah lebih ramah disabilitas. Itu yang nanti ingin kami kenalkan kepada para edukator dan pemandu museum kami,” ucapnya.

Terpisah, Direktur Sentra Advokasi Perempuan, Difabel, dan Anak (SAPDA) Nurul Sa’adah yang juga didapuk sebagai salah satu pemateri membenarkan belum adanya museum di DIY yang ramah terhadap penyandang disabilitas. Padahal, para penyandang disabilitas seharusnya punya hak yang sama untuk mengakses informasi di museum.

Itulah, selain perubahan stigma dari pihak-pihak terkait terhadap museum, menurutnya juga diperlukan penambahan fasilitas di museum yang ramah terhadap penyandang disabilitas. Tak hanya infrastruktur macam toilet, ramp, dan hand rail saja, museum juga perlu dilengkapi fasilitas ramah disabilitas yang lebih substansial. “Terutama dari objek yang dipamerkan di museumnya itu, banyak penyandang disabilitas tidak bisa mengakses objek itu. Selain itu saya kok belum pernah menjumpai ada museum yang menyediakan kursi roda,” kata Nurul.

Solusinya, terang Nurul, bisa dalam bentuk diorama. Dengan adanya diorama, penyandang disabilitas netra tentunya bisa menikmati substansi dari objek yang dipamerkan, sama dengan orang kebanyakan.

Selain itu, peran pemandu menurutnya juga tak bisa dikesampingkan. Ditegaskannya, dalam memandu penyandang disabilitas, diperlukan teknik dan metode khusus. “Di pelatihan ini kami sudah jelaskan semua bagaimana caranya,” katanya.

Hal-hal dasar yang perlu diperhatikan saat menolong difabel:

1. Sebagian besar difabel tidak membutuhkan pertolongan ekstra, alasan utama mereka membutuhkan bantuan adalah karena adanya hambatan lingkungandifabel juga manusia biasa sama seperti yang lain, ada yang dengan percaya diri akan meminta pertolongan dan ada pula yang tidak.
2. Jangan pernah berasumsi bahwa pertolongan dibutuhkan dan bagaimana melakukan pertolongan tersebut.
3. Tawarkan pertolongan/bantuan jika Anda merasa mereka membutuhkannya, dengan bertanya “Anda tidak apa-apa?” atau “Apakah Anda perlu bantuan?” Difabel juga punya hak untuk berkata “Tidak”

sumber dokumen SAPDA

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Artikel Penulis