Gerakan Ekstrem Seperti Penyakit
Gerakan ekstrem radikal seperti halnya penyakit, yang jika didiamkan atau tidak ditindaklanjuti oleh pemerintah, akan mengancam dan mengudeta NKRI dalam level konstitusional.
Ilustrasi pencak silat (JIBI/Solopos/Dok)
Pencak silat merupakan salah satu bela diri favorit para warga keturuna Jawa di luar negeri
Harianjogja.com, JOGJA --Diskusi pencak silat di gelar di Gedung E lantai dua Museum Benteng Vredeburg, Kamis (20/4/2017). Diskusi diadakan untuk menambah pengetahuan warga keturunan Jawa yang tinggal di luar negeri mengenai bela diri khas Indonesia ini.
Erwin Setyo Kriswanto, pemateri dalam acara tersebut mengatakan diskusi penting diadakan karena orang-orang keturunan Jawa di luar negeri sangat cinta terhadap budaya Jawa, “Paling tidak ini adalah usaha kami untuk ikut serta mempertahankan budaya Jawa,” katanya.
Menurut Erwin, walaupun pencak silat bukan hanya ada di Jawa, tapi pencak silat Jawa punya ciri khusus yang tidak dimiliki oleh daerah lain. Ia mengatakan pencak silat jawa punya gerakan dan gamelan [jika memakai gamelan] yang lebih halus dibanding daerah lain.
“Sasaran juga berbeda. Sasaran itu pola serangan. Dibanding daerah lain, polanya lebih banyak merendah. Karena unggah ungguh Jawa, tapi justru gerakan seperti itu lebih mematikan,” katanya.
Acara diskusi tersebut adalah salah satu bagian dari Javanese Diaspora Event III yang hari ini sudah memasuki hari kelima. Dalam diskusi tersebut, Erwin menjelaskan sedikit tentang sejarah pencak silat dan juga teknik-tekniknya.
Selain berdiskusi, para hadirin juga diajak untuk mempraktekkan secara langsung beberapa teknik. “Audiens kami ajak mendemostrasikan serang bela [pertahanan diri] tunggal, ganda, serang ganda tangan kosong dan mengunakan senjata seperti kujang, trisula, celurit,” jelas dosen Universitas Negeri Yogyakarta ini.
Menurut Erwin, pencak silat bukan sekedar olahraga dan kegiatan yang penuh kekerasan. Ia menyatakan dalam pencak silat juga tersimpan nilai-nilai luhur, “Misal, sebelum memulai pertarungan, peserta akan saling menghormati orang lain. Jadi dalam pencak silat, lawan saja kita hormati apalagi kawan.”
Sementara itu, Rachmawan Singgih, Sekretaris Paguyuban Javanese Diaspora menyatakan diskusi pencak silat sengaja diadakan karena pencak silat merupakan salah satu bela diri favorit para warga keturunan Jawa di luar negeri.
“Antusiasme peserta juga sangat bagus. Perguruan-perguruan pencak silat Indonesia banyak yang buka cabang di Belanda seperti merpati putih, setia hati teratai, perisai diri, tapak suci. Di suriname juga ada,” katanya.
Ia berharap dengan diadakannya diskusi pencak silat, orang-orang keturunan Jawa diluar negeri bisa lebih paham mengenai pencak silat. “Agar pencak silat tetap lestari baik di Indonesia maupun diluar negeri,” tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Gerakan ekstrem radikal seperti halnya penyakit, yang jika didiamkan atau tidak ditindaklanjuti oleh pemerintah, akan mengancam dan mengudeta NKRI dalam level konstitusional.
PSIM Jogja incar 10 besar Super League. Laga penentuan lawan Arema FC jadi kunci di pekan terakhir.
Mahkamah Agung tolak PK kasus korupsi selter tsunami Lombok. Vonis 6 tahun penjara tetap berlaku.
Garebeg Besar Jogja digelar sederhana. Sultan HB X sebut penghematan jadi alasan, tanpa kurangi nilai sakral.
UMKM berpeluang dapat diskon 50% biaya e-commerce. Simak syarat lengkap dari Menteri UMKM Maman Abdurrahman.
Mahasiswa asal Boyolali membawa kabur motor pemuda Sleman bermodus ajak memancing setelah berkenalan lewat TikTok.