Ramadan dan Lebaran, Telkomsel Prediksikan Kenaikan Traffic 15%
Telkomsel mematangkan persiapan menghadapi periode Ramadan dan Idulfitri (Rafi) 2024.
Bangku taman di Pedestrian Malioboro depan Gedung DPRD DIY menarik wisatawan untuk berswa foto di momen libur panjang Maulud Nabi, Senin (12/12/2016). (Holy Kartika N.S/JIBI/Harian Jogja)
Wisata Jogja perlu divariasi untuk memperpanjang lama tinggal wisatawan
Harianjogja.com, JOGJA -- Jogja menjadi tempat strategis untuk penyelenggaraan pertemuan, baik skala nasional maupun internasional. Kedatangan para peserta meeting membuat tingkat keterisian kamar hotel meningkat meski lama tinggalnya tidak lama.
Staf Ahli Bidang Multikultural Kementerian Pariwisata Hari Untoro Drajat mengatakan, jika dilihat dari aspek okupansi hotel, Jogja termasuk tinggi karena di atas 75% saat liburan. Namun kepadatan itu tidak berlangsung lama seperti di kota wisata Bali.
“Jogja itu padat tapi lenght of stay-nya rendah. NTT lama tinggalnya lebih banyak,” katanya belum lama ini saat mengisi jumpa pers Grand Opening Hotel Grand Mercure.
Hal tersebut menurutnya perlu menjadi perhatian pemerintah untuk bisa meningkatkan potensi yang ada di Jogja, guna menarik wisatawan agar tinggal lebih lama di Jogja.
“Semakin banyak atraksi, experience, maka lama tinggal makin lama,” katanya. Jika lama tinggalnya semakin lama, aspek ekonomi daerah ikut tergerak seperti bisnis kuliner dan cinderamata.
Sementara Ketua Perhimpunan Hotel dan Resto Indonesia (PHRI) DPD DIY Istidjab Danunagoro mengatakan, objek wisata di Jogja memang belum menjadi daya tarik utama. Selama ini Jogja menarik untuk menjadi tempat pertemuan skala besar. Tidak heran jika saat bulan-bulan tertentu seperti Februari dan Maret, banyak instansi pemerintahan yang menggelar meeting di Jogja.
Ia mengakui, Jogja sering menjadi lokasi Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE). Hampir semua instansi pemerintahan pernah menggelar pertemuan di kota pelajar ini.
“Tapi meetingnya kan paling cuma dua hari jadi lama tinggalnya juga tidak lama,” katanya.
Kondisi di Jogja menurutnya berbeda jauh dengan Bali. Di Bali, wisatawan bisa menginap sampai empat malam. Menurutnya hal itu karena Bali banyak menyajikan hiburan malam untuk para turis. Jogja menurutnya bisa mengembangkan hiburan yang lebih banyak, tidak hanya seputar budaya lokal setempat tetapi bisa hiburan yang sesuai selera internasional, seperti pertunjukan jazz dan pertunjukan kontemporer.
“Masalahnya kalau pertunjukan budaya itu yang suka hanya orang Belanda,” katanya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) DIY, rata-rata lama menginap tamu di hotel bintang bulan Maret 2017 secara keseluruhan sebesar 1,65 malam. Angka tersebut mengalami penurunan 0,08 malam dibandingkan bulan sebelumnya. Rata-rata menginap terlama sebesar 1,81 malam terjadi pada hotel bintang lima dan yang tersingkat selama 1,48 malam terjadi di hotel bintang satu dan hotel bintang dua.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Telkomsel mematangkan persiapan menghadapi periode Ramadan dan Idulfitri (Rafi) 2024.
Jadwal terbaru Prameks Jogja–Kutoarjo 2026 lengkap. Simak jam keberangkatan, tips hindari kehabisan tiket, dan jam sibuk penumpang.
Jadwal DAMRI Jogja ke YIA 2026 lengkap dengan tarif Rp80.000. Transportasi praktis, nyaman, dan bebas ribet menuju bandara.
Jadwal lengkap KA Bandara YIA 2026 dari Tugu Jogja ke bandara. Solusi cepat, bebas macet, dan tepat waktu untuk kejar pesawat.
Cek jadwal lengkap KRL Solo–Jogja 16 Mei 2026 dari Palur hingga Jogja. Tarif Rp8.000, berangkat pagi hingga malam.
Libur panjang akhir pekan dorong wisata Sleman naik. Merapi, Kaliurang hingga Prambanan diprediksi jadi tujuan favorit.