Top 7 News Harianjogja.com Rabu 13 September 2023
Selamat pagi, semangat menjalani hari. Izin kirim kabar dari Bumi Mataram Ngayogyakarta Hadiningrat, heritage-nya Indonesia, rumahnya start up.
Humas PT PLN (Persero) Area Jogja Paulus Kardiman (kanan) ketika melakukan survei di salah satu rumah penduduk di RT 17, RW 30, Popongan Baru, Sinduadi, Mlati, Sleman, Senin (25/1/2016). (Kusnul Isti Qomah/JIBI/Harian Jogja)
PT Perusahaan Listrik Negara atau PLN (Persero) terus berupaya mengarahkan pelanggan baru
Harianjogja.com, JOGJA-PT Perusahaan Listrik Negara atau PLN (Persero) terus berupaya mengarahkan pelanggan baru untuk menggunakan listrik dengan sistem pulsa atau prabayar. Pengguna prabayar di Indonesia saat ini tercatat paling besar sedunia.
Direktur Bisnis PT PLN (Persero) Jawa Bagian Tengah (JBT) II Nasri Sebayang mengatakan, sistem prabayar memiliki banyak keuntungan, salah satunya tidak ada kesalahan penghitungan pencatatan penggunaan energi listrik karena menggunakan kWH meter digital.
Dengan pencatatan digital tersebut, pelanggan tidak lagi terganggu dengan adanya petugas PLN yang sewaktu-waktu datang ke rumah untuk mencatat.
Keuntungan lainnya menurut Nasri adalah pelanggan bisa mengatur sendiri penggunaannya. “Kalau pasca [bayar] kan seolah-olah tidak peduli tapi kalau prabayar bisa mengetahui kalau sudah mau habis, bisa matikan lampu sana-sini,” katanya pada wartawan belum lama ini di Kantor PLN Unit Induk Pembangunan JBT II Jogja, Senin (8/5/2017).
Ia mengatakan, penggunaan prabayar dilakukan agar pelanggan bisa mengatur sendiri penggunaan listrik di dalam rumahnya. Secara tidak langsung mereka juga bisa belajar untuk berhemat saat pulsa listrik mendekati habis.
Ditegaskannya, jika pelanggan bisa berhemat dalam pemakaian listrik, maka bisa menghemat subsidi listrik yang dikeluarkan pemerintah.
Sejauh ini, sudah ada kurang lebih 20.000 pelanggan di Indonesia yang menggunakan pembayaran sistem prabayar dari total pelanggan berjumlah 65.000.
“Sebanyak 20.000 itu termasuk paling besar sedunia. Dulu Afrika Selatan [paling besar] tapi sekarang dipegang kita [indonesia],” tuturnya. Pihaknya belum bisa menyebut berapa angka pelanggan yang beralih dari pascabayar ke prabayar.
Sementara itu, pengguna listrik prabayar Yosephin Aprilia yang tinggal di Ngaglik, Sleman mengaku mendapat keuntungan dengan menggunakan listrik sistem prabayar.
Saat pembayaran, ia tidak harus datang ke kantor PLN dan bisa membeli pulsa listrik dimana saja. “Belinya juga bisa disesuaikan dengan kondisi keuangan kita,” katanya, Jumat (12/5/2017).
Meski demikian, penggunaan listrik prabayar juga memiliki kekurangan yaitu terhitung lebih boros dibandingkan pasca bayar. “Kalau yang dayanya 1.300 kan tidak disubsidi jadi mahal. Beli pulsa 100.000 hanya dapat 63.000,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Selamat pagi, semangat menjalani hari. Izin kirim kabar dari Bumi Mataram Ngayogyakarta Hadiningrat, heritage-nya Indonesia, rumahnya start up.
Kelurahan Giwangan melatih warga mengolah sampah organik dengan biopori jumbo untuk mendukung program Mas Jos Kota Jogja.
Seskab Teddy Indra Wijaya membeli 35 sapi jumbo dari peternak Boyolali untuk kebutuhan kurban Iduladha 1447 Hijriah.
TPS Surabaya menangani ekspor tiga unit locomotive platform PT INKA ke Australia, melengkapi total pengiriman 16 unit.
Dosen UMY mengingatkan mahasiswa soal bahaya paylater yang memicu perilaku konsumtif, utang, hingga stres finansial menurut Islam.
Jonatan Christie langsung fokus ke Indonesia Open 2026 usai tersingkir pada babak pertama Singapore Open dari Prannoy H.S.