Dua Rumah di Umbulharjo Retak Usai Gempa Magnitudo 3,5 Bantul
Gempa magnitudo 3,5 di Bantul menyebabkan dua rumah warga di Sorosutan, Kota Jogja, mengalami retak pada bagian tembok ruang tamu.
Foto ilustrasi pemilahan sampah, dibuat menggunakan Artificial Intelligence.
Harianjogja.com, JOGJA—Kelurahan Giwangan, Kemantren Umbulharjo, Kota Jogja, mulai mengandalkan metode biopori jumbo untuk mendorong warga mengelola sampah organik secara mandiri. Cara ini dinilai lebih praktis, ramah lingkungan, sekaligus mampu mengurangi volume sampah rumah tangga.
Pelatihan pengolahan sampah menggunakan biopori jumbo digelar selama dua hari pada Kamis-Jumat (21-22/5/2026) di Pendopo Kelurahan Giwangan. Kegiatan tersebut difokuskan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pengelolaan sampah organik agar dapat diolah menjadi kompos yang bermanfaat.
Lurah Giwangan, Dyah Murniwarini, mengatakan pengelolaan sampah sebaiknya dimulai dari sumber utama, yakni rumah tangga. Menurutnya, langkah tersebut akan mempermudah proses pengolahan sampah di tingkat berikutnya.
“Melalui pelatihan ini kami berharap masyarakat bisa memahami cara pengelolaan sampah organik yang mudah diterapkan dan berdampak langsung pada lingkungan,” ujar Dyah.
Dukung Program Mas Jos Kota Jogja
Dyah menjelaskan pengelolaan sampah mandiri juga menjadi bagian dari dukungan terhadap gerakan Masyarakat Jogja Olah Sampah (Mas Jos) yang diinisiasi Pemerintah Kota Jogja bersama Wali Kota Hasto Wardoyo.
Program tersebut menekankan lima langkah utama pengelolaan sampah, mulai dari memilah sampah, mengolah sampah organik, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, mengurangi sisa makanan, hingga menggunakan wadah secara berulang.
“Langkah sederhana seperti memilah sampah, mengolah sampah organik, hingga mengurangi sisa makanan harus menjadi kebiasaan sehari-hari,” katanya.
Warga Belajar Membuat hingga Memanen Kompos
Pada hari pertama pelatihan, peserta mendapatkan materi dasar mengenai pengelolaan sampah organik serta pengenalan metode biopori jumbo yang sudah diterapkan di wilayah Giwangan. Materi tersebut menjadi bekal sebelum warga mengikuti praktik langsung.
Selanjutnya, pada hari kedua peserta diajak mempraktikkan pembuatan lubang biopori jumbo, proses perawatan, hingga teknik memanen kompos. Warga juga langsung mencoba membuat biopori agar dapat diterapkan di lingkungan masing-masing.
Metode biopori jumbo dinilai efektif mengurangi volume sampah organik rumah tangga sekaligus menghasilkan kompos yang bisa dimanfaatkan kembali untuk tanaman. Selain itu, lubang biopori membantu meningkatkan daya resap air ke dalam tanah sehingga berpotensi mengurangi genangan saat hujan.
“Dengan cara ini, sampah tidak hanya berkurang, tetapi juga bisa dimanfaatkan kembali dan mendukung lingkungan yang lebih hijau,” ujarnya.
Pelatihan tersebut menjadi bagian dari upaya Kelurahan Giwangan membangun kesadaran warga mengenai pentingnya pengelolaan sampah berkelanjutan. Langkah ini diharapkan mendukung terciptanya lingkungan Kota Jogja yang lebih bersih, sehat, dan ramah lingkungan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Gempa magnitudo 3,5 di Bantul menyebabkan dua rumah warga di Sorosutan, Kota Jogja, mengalami retak pada bagian tembok ruang tamu.
PBNU menetapkan 557 pemilik hak suara dalam DPT Muktamar Ke-35 NU. Sebanyak 590 peserta diverifikasi untuk mengikuti muktamar di Jombang.
BI menyebut Kartu Kredit Indonesia atau KKI menjadi alternatif pembayaran digital dengan fasilitas penundaan pembayaran sesuai jatuh tempo.
PSEL Bekasi resmi dibangun dengan investasi Rp3 triliun. Proyek ini ditargetkan mengolah 500.000 ton sampah per tahun dan menghasilkan energi hijau.
Kabut asap karhutla mengganggu 10 penerbangan di Bandara Syamsudin Noor, Banjarbaru. Jarak pandang sempat turun hingga 200 meter
Redaksi kembali menghadirkan rangkuman Top Ten News Harianjogja.com edisi Rabu (26/8/2026) yang merangkum isu paling hangat dan strategis